KITA WUJUDKAN GENERASI TANGGUH ITU


Oleh: Rahma Syahidah
Penulis Lepas

Berdasarkan data Kepolisian Negara Republik Indonesia, ada peningkatan kasus bunuh diri pada kelompok usia anak (0–15 tahun), dari 604 kasus pada tahun 2022 menjadi 1.498 kasus pada tahun 2024. (BKKBN, 09/03/2026). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini darurat bunuh diri anak. Pemicu bunuh diri anak menurut KPAI, di antaranya, adalah konflik keluarga, masalah psikologis, perundungan, serta tekanan akademik.

Masalah kesehatan jiwa anak bukan semata-mata masalah medis, melainkan juga dipengaruhi oleh lingkungan dan sistem kehidupan yang menentukan arah kesehatan jiwa anak. Adanya tekanan, ketimpangan sosial, dan krisis nilai membentuk mental maupun spiritual anak menjadi rapuh.

Potret kehidupan kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan meniscayakan lahirnya generasi yang bermental lemah. Generasi dituntut oleh standar pencapaian duniawi, seperti harus mengejar nilai akademik yang tinggi, sukses dalam berkarier, dan memiliki status sosial yang tinggi. Banyak anak frustrasi. Mereka tidak kuat menanggung beban mental dan lebih memilih menyelesaikan berbagai persoalan dirinya dengan jalan pintas, yaitu bunuh diri.

Generasi yang rapuh terbentuk karena tidak memiliki panduan yang kuat terhadap makna kehidupan sehingga kehilangan arah tatkala standar yang ingin dicapai tidak sesuai dengan harapan. Mereka mudah cemas, terpuruk, dan merasa tertekan. Bagi mereka, dunia terlalu keras dan seakan menuntut untuk sempurna. Banyak generasi yang justru kehilangan arah dan tidak memiliki pegangan. Tak jarang di antara mereka memiliki kecerdasan secara akademik, tetapi rapuh ketika menghadapi kegagalan.

Lemahnya support system dari negara membuat remaja pada hari ini rentan memiliki kesehatan mental yang lemah pula. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, bukan lagi Indonesia Emas yang akan diraih, melainkan Indonesia Cemas.

Kondisi ekonomi masyarakat yang masih jauh dari kata sejahtera menjadi salah satu faktor penyebab tekanan mental bagi generasi. Kekayaan hanya dinikmati oleh segelintir orang akibat penerapan sistem kapitalis. Kekayaan alam dikuasai oleh korporasi kapitalis, sedangkan pada saat yang bersamaan kondisi ekonomi rakyat miskin semakin terhimpit.

Lapangan pekerjaan sulit sehingga pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari pun terasa berat. Banyak orang tua sibuk membanting tulang sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi anak-anak. Waktu mereka terampas, tenaga mereka terkuras, demi berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Adanya pola asuh yang keliru semakin memperburuk kondisi psikis generasi.

Selain sistem ekonomi, pendidikan juga berperan penting dalam mencetak generasi. Pendidikan sekuler liberal yang diterapkan hari ini menumbuhkan generasi yang mudah goyah dan rentan tidak memiliki identitas. Kurikulum hanya berfokus pada pencapaian kognitif semata, sementara pendidikan agama mendapatkan porsi yang sangat kecil.

Paradigma dan nilai-nilai Islam semakin tergerus oleh nilai-nilai sekuler liberal. Generasi yang mengalami gangguan mental tidak mendapatkan perlindungan yang memadai sehingga mencari pelarian kepada hal-hal yang justru membahayakan, seperti narkoba, minuman keras, hingga bunuh diri.

Generasi harus diselamatkan. Islam memiliki solusi tuntas untuk mewujudkan lahirnya generasi yang tangguh, yaitu dengan menanamkan penguatan akidah dan memahamkan kepada generasi makna hidup yang sesungguhnya, yakni beribadah kepada Allah.

Aktivitas dakwah sangat penting untuk mewujudkan generasi tangguh yang memiliki visi dan misi hidup yang benar. Dakwah berperan mengubah pemikiran hedonis dan serba liberal yang menjangkiti generasi dan masyarakat menjadi pemikiran Islami.

Orang tua juga memiliki peran yang sangat penting untuk mengawal anak-anaknya menjadi generasi tangguh yang saleh dan salehah.

Pembentukan karakter anak yang memiliki kepribadian Islam tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, melainkan menjadikan rida Allah sebagai standar segala aktivitasnya. Tatkala mereka mengalami kegagalan, musibah, kehilangan, dan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi, mereka tidak akan berlarut-larut dalam kekecewaan dan kesedihan. Mereka memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, serta segala bentuk ujian yang mereka dapatkan, adalah bentuk kasih sayang Allah.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah ayat 155–157).

Selain peran orang tua dan lingkungan, negara juga memiliki peran yang tak kalah vital. Dalam Islam, negara adalah penjaga yang menjalankan tanggung jawabnya dalam melindungi generasi dari pemikiran liberal sekuler. Melalui sistem pendidikan Islam, negara membentuk individu yang bertakwa dengan pola pikir dan sikap yang Islami.

Selain pendidikan Islam, negara juga memastikan bahwa setiap keluarga terbangun sebagai keluarga yang saling tolong-menolong dalam kebaikan, penuh kasih sayang, dan keberkahan. Dalam asuhan keluarga yang menjadikan Islam sebagai dasar pola asuh, anak merasa nyaman dan aman serta tumbuh menjadi anak yang taat kepada Allah.

Negara juga menjamin seluruh rakyatnya dapat memenuhi kebutuhan pokoknya dengan cara yang makruf. Melalui penerapan sistem ekonomi Islam, kekayaan alam dikelola sebagaimana Islam mengaturnya, secara amanah dan profesional, sehingga bukan hanya segelintir orang yang dapat menikmati hasil kekayaan alam, melainkan seluruh rakyat tanpa pandang bulu. Tidak ada lagi kasus sumber daya alam yang dikuasai oleh segelintir korporasi.

Kesehatan mental masyarakat, termasuk generasi, juga menjadi tanggung jawab negara. Negara mengontrol media agar yang tersaji hanyalah sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru merusak akidah dengan pemikiran selain Islam.

Mari kita wujudkan generasi tangguh itu dengan penerapan Islam secara menyeluruh.

Posting Komentar

0 Komentar