Oleh: Sutriono
Penulis Lepas

Di antara sekian banyak nikmat yang Allah ﷻ limpahkan kepada hamba-Nya, tidak ada yang lebih agung daripada nikmat iman dan Islam. Harta bisa habis, jabatan bisa lenyap, kesehatan bisa sirna. Namun, iman dan Islam adalah bekal yang akan menyertai seorang hamba hingga ke liang lahat, menjadi penerang di alam kubur, dan penentu keselamatan di hari akhir.

Nikmat ini tidak datang dengan sendirinya. Ia diantarkan oleh seorang utusan mulia, Nabi Muhammad ﷺ, yang telah bersusah payah menyampaikan risalah, menghadapi caci maki, ancaman, bahkan upaya pembunuhan, demi mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya. Maka, sebagai bentuk syukur atas nikmat yang tak terhingga ini, sudah sepantasnya tidak hanya menerima, tetapi juga meneruskan; tidak hanya mengamalkan, tetapi juga menyampaikan.

Namun, di tengah perjalanan dakwah, sering kali muncul rasa takut: takut dicela, takut diancam, takut dianggap radikal, hingga takut kehilangan kenyamanan. Rasa takut ini kemudian melahirkan sikap pragmatis, seperti menyembunyikan sebagian kebenaran, mengurangi ketegasan redaksi, atau bahkan memilih diam.

Padahal, Allah ﷻ. telah menegaskan dalam Al-Qur’an sebuah perintah yang tidak menyisakan ruang untuk rasa takut, sekaligus membawa kabar gembira dan jaminan keamanan bagi siapa pun yang menjalankannya.


Perintah Tegas dan Jaminan Pasti dari Allah

Dalam Surah Al-Maidah ayat 67, Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ
Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan amanah-Nya. Dan Allah akan memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.

Ayat ini turun dalam konteks yang tidak mudah. Nabi Muhammad ﷺ menghadapi penentangan dan ancaman dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang tidak hanya menolak risalah, tetapi juga berusaha mencelakakan beliau. Di tengah tekanan yang besar itu, Allah justru memerintahkan beliau untuk terus menyampaikan risalah. Tidak ada kata mundur dan tidak ada ruang untuk kompromi.

Meskipun latar belakang ayat ini spesifik, para ulama menegaskan bahwa ibrah (pelajaran) dari ayat ini bersifat umum. Dalam kaidah tafsir dikenal prinsip al-‘ibrah bi ‘umum al-lafz la bi khusus as-sabab. Artinya, petunjuk Al-Qur’an mengikuti keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab turunnya. Dengan demikian, ayat ini berlaku juga untuk ancaman dari siapa pun dan pada masa apa pun hingga hari kiamat.

Lebih jauh, meskipun ayat ini ditujukan langsung kepada Nabi (ya ayyuhar rasul), para ulama juga menetapkan kaidah khiṭāb li an-nabī khiṭāb li ummatih. Seruan kepada Nabi juga berlaku bagi umatnya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Maka, perintah menyampaikan, ancaman jika meninggalkannya, serta jaminan perlindungan, semuanya juga berlaku bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.


Tiga Pelajaran Penting dari Al-Maidah ayat 67

Pertama: Tidak Ada yang Boleh Ditutup-tutupi
Perintah Allah untuk menyampaikan risalah secara utuh (tanpa mengurangi, menambah, atau menutup-nutupi) menjadi pelajaran utama. Dakwah bukan sekadar aktivitas sosial yang bisa disesuaikan dengan selera pasar, melainkan amanah yang harus disampaikan secara utuh.

Ketika rasa takut muncul (takut dicap radikal, intoleran, atau kehilangan simpati) ingatlah bahwa Nabi ﷺ juga menghadapi kondisi serupa. Namun, beliau tidak pernah menutup-nutupi kebenaran. Semua disampaikan dengan jelas, meskipun harus menghadapi ancaman.

Jika mengaku sebagai umatnya, maka sudah semestinya meneladani keberanian tersebut. Jangan sampai rasa takut kepada manusia lebih besar daripada rasa takut kepada Allah.

Kedua: Allah Menjamin Perlindungan
Salah satu pesan paling menenangkan dalam ayat ini adalah jaminan perlindungan dari Allah: Wallāhu ya‘ṣimuka min an-nās, “Allah akan memelihara engkau dari (gangguan) manusia.

Jaminan ini datang langsung dari Dzat Yang Maha Kuasa. Dan jaminan ini tidak hanya untuk Nabi, tetapi juga bagi siapa pun yang istiqamah dalam dakwah.

Kisah para tukang sihir Fir’aun menjadi contoh nyata. Setelah beriman kepada Nabi Musa a.s., mereka tetap teguh meskipun diancam. Mereka yakin bahwa kekuasaan Fir’aun terbatas, sementara perlindungan Allah bersifat mutlak.

Begitu pula dalam kehidupan hari ini. Ancaman bisa datang dalam berbagai bentuk, tetapi semuanya tidak sebanding dengan jaminan perlindungan dari Allah.

Ketiga: Hasil Bukan Ukuran Keberhasilan
Sering kali semangat dakwah melemah karena tidak melihat hasil. Padahal, Allah menegaskan: innallāha lā yahdī al-qaum al-kāfirīn.

Ayat ini bukan untuk mematahkan semangat, tetapi untuk meluruskan orientasi. Hidayah adalah hak Allah, sedangkan tugas manusia hanya menyampaikan.

Dengan pemahaman ini, seorang dai tidak akan mudah kecewa. Ia tetap bergerak, karena setiap langkahnya adalah amal yang bernilai di sisi Allah.


Membangun Keberanian Dakwah

Rasa takut muncul karena terlalu bergantung pada manusia. Padahal, manusia adalah jaminan yang rapuh. Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 160 bahwa hanya pertolongan Allah yang benar-benar menentukan:

اِنْ يَّنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۚ وَاِنْ يَّخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِهٖ ۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.

Label seperti radikal, teroris, atau intoleran sering digunakan untuk membungkam dakwah. Namun, sejarah justru menunjukkan bahwa Islam membawa keadilan dan perlindungan bagi seluruh manusia.

Kemenangan dalam Islam bukan sekadar jabatan atau kekuasaan, tetapi tegaknya syariat Allah di muka bumi.

Para sahabat dan ulama tidak pernah menyembunyikan kebenaran. Imam Ahmad bin Hanbal, misalnya, tetap teguh meskipun disiksa. Ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak bergantung pada kenyamanan.


Sampaikan, Jangan Takut

Kita hidup di zaman penuh tantangan, tetapi justru di situlah dakwah sangat dibutuhkan. Dunia membutuhkan kebenaran, dan Islam adalah jawabannya.

Maka, sampaikanlah risalah Islam dengan utuh. Jangan takut pada manusia, karena kekuatan sejati hanya milik Allah.

Allah ﷻ berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 39 bahwa orang-orang yang menyampaikan risalah hanya takut kepada-Nya:

الَّذِيْنَ يُبَلِّغُوْنَ رِسٰلٰتِ اللّٰهِ وَيَخْشَوْنَهٗ وَلَا يَخْشَوْنَ اَحَدًا اِلَّا اللّٰهَ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ حَسِيْبًا
(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.

Jadilah pembawa risalah yang berani dan tegar. Sampaikan kebenaran, dan biarkan Allah yang menentukan hasilnya.

Wallahu a‘lam bish-shawab.