SOLUSI ATASI KESEHATAN JIWA ANAK


Oleh: Khoiriyah
Aktivis Muslimah

Kesehatan jiwa pada anak kini menjadi permasalahan serius yang perlu dicermati hingga ke akar masalahnya. Isu ini bahkan memantik diterbitkannya SKB kesehatan jiwa anak terkait maraknya kasus anak yang mengakhiri hidup. Sebanyak sembilan menteri ikut menandatangani surat keputusan ini. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele dan tidak cukup ditangani oleh satu kementerian saja, sebagaimana disampaikan Arifah Fauzi selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

"Kami menandatangani dan menyepakati SKB tentang Kesehatan Jiwa Anak. Ini adalah momen penting karena isu tekait kesehatan jiwa anak tidak bisa ditangani oleh satu kementerian saja," ujarnya (Kompas, 07/03/2026).

Lebih lanjut, Arifah menyoroti hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2024 yang menempatkan kesehatan jiwa sebagai salah satu isu utama. Berdasarkan survei tersebut, dalam 12 bulan terakhir ditemukan fakta bahwa 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa. Dari jumlah tersebut, 62,19 persen di antaranya juga mengalami kekerasan, baik secara fisik, emosional, maupun seksual.

Sementara itu, data dari Kementerian Kesehatan yang bersumber dari healing119.id dan KPAI menunjukkan adanya empat faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup. Faktor-faktor tersebut meliputi konflik keluarga sebesar 24–26 persen, masalah psikologis 8–26 persen, perundungan 14–18 persen, serta tekanan akademik 7–16 persen.

Jika ditelaah lebih dalam, meningkatnya krisis kesehatan jiwa pada anak tidak terlepas dari tatanan kehidupan yang berkembang di masyarakat. Tatanan kehidupan yang sekuler-liberal dinilai turut berkontribusi terhadap rusaknya moralitas individu, bahkan pada individu Muslim. Nilai-nilai Islam di tengah masyarakat pun perlahan tergerus oleh nilai-nilai sekuler-liberal yang diperkuat oleh hegemoni media kapitalisme global.

Pada dasarnya, masyarakat merupakan sekumpulan individu yang hidup dalam suatu lingkungan dengan pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama sebagai pengikat, yakni aturan Islam. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa orientasi hidup masyarakat lebih diarahkan pada kepuasan individu dan pencapaian duniawi semata. Kondisi ini tentu menyulitkan terbentuknya pondasi keimanan yang kokoh, baik pada masyarakat secara umum maupun pada anak-anak secara khusus. Akibatnya, anak-anak menjadi lebih rentan mengalami tekanan, kehilangan semangat hidup, depresi, hingga putus asa yang dapat berujung pada tindakan bunuh diri.

Dalam Islam, standar kemuliaan seseorang tidak diukur dari pencapaian materi atau kesuksesan duniawi semata. Allah ï·» menegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh tingkat ketakwaannya. Hal ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi ï·º, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa kalian dan tidak pula pada harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR Muslim). Standar inilah yang sejatinya mampu menjaga manusia dari tekanan berlebihan, karena setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk meraih ketakwaan.

Kerusakan tatanan kehidupan ini pada akhirnya merupakan konsekuensi dari penerapan sistem sekuler-liberal kapitalisme. Jauhnya kehidupan dari aturan Islam berdampak pada sistem pendidikan, baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat, yang tidak lagi berlandaskan akidah dan syariat Islam. Ukuran kesuksesan pun menjadi sempit, hanya berfokus pada pencapaian materi. Di sisi lain, tuntutan untuk meraih prestasi akademik tanpa memperhatikan kondisi psikologis anak, serta minimnya dorongan untuk meraih rida Allah, semakin memperparah tekanan yang dirasakan anak-anak.

Oleh karena itu, solusi atas permasalahan ini tidak cukup hanya dengan pendekatan pragmatis. Diperlukan perubahan tatanan kehidupan secara menyeluruh yang selaras dengan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan penerapan aturan Islam secara komprehensif, kesehatan jiwa masyarakat, khususnya anak-anak, akan lebih mudah terjaga. Hal ini karena Islam menawarkan solusi yang mampu menenteramkan jiwa sekaligus membentuk masyarakat yang memiliki kesamaan dalam pemikiran, perasaan, dan aturan hidup. Selain itu, penerapan amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan akan berperan penting dalam mengontrol perilaku individu, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Wallahu a'lam.

Posting Komentar

0 Komentar