
Oleh: Lia Purwati
Penggiat Literasi, Aktivis Muslimah, Pekanbaru-Riau
Dunia pendidikan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Maraknya aksi siswa yang bertindak kurang ajar terhadap gurunya menjadi cerminan nyata rusaknya fondasi pendidikan saat ini. Guru yang seharusnya dihormati, kini tak jarang dicaci maki, bahkan mengalami kekerasan fisik oleh siswanya sendiri. Ironisnya, guru justru kerap diancam dan dilaporkan ke polisi saat berusaha mendisiplinkan siswa.
Fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Dalam dunia pendidikan, adab mendahului ilmu. Namun, mengapa moralitas pelajar saat ini begitu merosot? Bagaimana seharusnya negara bersikap?
Dilansir dari kompas.tv (20/4/2026), sejumlah siswa SMA Negeri di Purwakarta melakukan aksi tak terpuji dengan mengacungkan jari tengah kepada salah satu guru. Menanggapi hal ini, tokoh masyarakat Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meminta agar siswa tersebut mendapatkan sanksi yang lebih bermanfaat dan edukatif daripada sekadar hukuman formal.
Akar Masalah: Sekularisme di Ruang Kelas
Penghinaan terhadap guru menandakan adanya masalah sistemik dalam pendidikan kita. Jika ditelusuri secara mendalam, fenomena ini sangat berkaitan dengan penerapan sistem pendidikan sekuler-kapitalis. Pendidikan saat ini cenderung bersifat teoretis dan memisahkan nilai-nilai agama dari sistem kehidupan.
Dalam paradigma kapitalisme, adab terhadap guru bukan lagi prioritas utama. Fokus pendidikan bergeser pada capaian nilai akademis setinggi-tingginya demi mencetak tenaga kerja yang siap pakai di pasar industri. Perihal akhlak, seolah menjadi urusan belakangan. Akibatnya, sistem ini melahirkan generasi yang mungkin cerdas secara intelektual, namun rapuh secara moral; kaya akan angka, namun miskin akan empati dan adab.
Selain faktor sistem, peran guru sebagai teladan juga krusial. Seperti pepatah, "guru kencing berdiri, murid kencing berlari." Setiap perilaku dan ucapan guru akan menjadi cermin bagi siswa-siswinya. Oleh karena itu, integritas guru sebagai pendidik harus terus diperkuat agar mampu menjadi suri teladan yang benar.
Islam sebagai Solusi Pendidikan Karakter
Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar transfer informasi (transfer of knowledge), melainkan pembentukan kepribadian (transfer of personality) dan adab. Guru memiliki kedudukan mulia sebagai pembina dan pencetak generasi tangguh. Menghormati guru adalah kewajiban, karena keberkahan ilmu sangat bergantung pada adab seorang murid.
Dalam sistem Islam, pendidikan adalah hak dasar yang wajib dijamin oleh negara tanpa memandang status sosial. Tujuan utamanya adalah membangun Syakhshiyah Islamiyyah (kepribadian Islam) (yakni keselarasan pola pikir dan pola sikap sesuai hukum syara') dengan menanamkan akidah sejak dini.
Pendidikan Islam bertujuan mempersiapkan generasi yang ahli di segala bidang, baik ilmu keislaman, ilmu terapan, maupun ilmu sosial. Generasi yang lahir dari sistem ini bukan sekadar mengejar gelar, melainkan menjadi pejuang yang mendedikasikan ilmunya untuk kemaslahatan umat.
Kesadaran masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai Islam mulai terlihat dari meningkatnya minat orang tua menyekolahkan anak ke pesantren atau sekolah berbasis Islam terpadu. Hal ini menunjukkan kerinduan mendalam akan hadirnya sistem pendidikan yang mampu memuliakan manusia dan memanusiakan pendidik.
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Komentar