
Oleh: Abd. Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama
Sungguh memprihatinkan menyaksikan tayangan video yang viral di media sosial beberapa hari terakhir. Dalam video tersebut, tampak sejumlah umat Islam menjalankan ritual 'ibadah' di sebuah area pemakaman. Mereka melakukan gerakan menyerupai salat, tetapi tanpa ikhtiar ruku dan sujud yang syar'i, hanya berdiri tegak lalu membungkukkan badan ke bawah secara berulang-ulang mengelilingi makam tokoh yang dianggap keramat.
Apabila kita merujuk pada ketentuan syariat Islam, praktik ritual tersebut mengandung pelanggaran fundamental yang wajib diluruskan. Pertama, tata cara ibadah semacam itu tidak memiliki pijakan sama sekali dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Padahal, setiap amalan yang tergolong ibadah mahdhah wajib memenuhi dua rukun utama: berpijak pada petunjuk Rasulullah ﷺ (ittiba') dan dilakukan secara ikhlas semata-mata karena Allah Taala.
Allah ﷻ secara tegas menegaskan prinsip ini dalam Al-Qur'an:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi [18]: 110)
Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna "mengerjakan amalan salih" adalah amalan yang sesuai dengan syariat Allah dan petunjuk Nabi Muhammad ﷺ. Sementara makna "tidak mempersekutukan sesuatu pun" adalah memurnikan niat hanya demi mengharap keridaan Allah ﷻ. Tanpa terpenuhinya dua rukun ini (ikhlas dan ittiba'), suatu amalan ibadah akan tertolak. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengada-ngada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim)
Pelaksanaan ziarah kubur maupun amalan ibadah lainnya wajib tunduk pada Sunnah Nabi, bukan didasari oleh tradisi nenek moyang atau rekaan pribadi. Beribadah tanpa landasan syariat tergolong sebagai perbuatan bid'ah yang diharamkan dalam beragama.
Fenomena Tawasul dan Kekeliruan Memohon kepada Ahli Kubur
Pelanggaran kedua yang tidak kalah krusial adalah pergeseran pemahaman tawasul. Praktik di lapangan menunjukkan banyak peziarah yang berdo'a dan memohon pemenuhan hajat langsung kepada ahli kubur, bukan mendoakan keselamatan ahli kubur tersebut.
Ziarah kubur sejatinya sangat dianjurkan untuk mengingat kematian dan mendoakan almarhum. Namun akibat minimnya pemahaman tauhid, sebagian peziarah justru membalik hakikat tersebut dengan meminta pertolongan kepada penghuni kubur. Fenomena kekeliruan narasi seperti ucapan, "Ya Habib Husen, kabulkanlah hajat kami," merupakan bentuk penyimpangan doa yang nyata, bukan praktik tawasul yang disyariatkan.
Guna menghindarkan umat dari perangkap kesyirikan, para ulama telah merumuskan batasan tawasul yang disepakati (muttafaq 'alaih) dan yang terlarang:
- Bentuk Tawasul yang Disepakati Ulama (Disyariatkan): Tawasul yang dibolehkan meliputi tiga cara: (a) bertawasul dengan menyebut nama dan sifat Allah (Al-Asmaulhusna); (b) bertawasul dengan perantara amal salih yang pernah dikerjakan; serta (c) bertawasul melalui permohonan doa kepada orang salih yang masih hidup (sebagaimana para sahabat meminta Nabi ﷺ atau Ibnu Abbas r.a. mendoakan hujan).
- Tawasul kepada Orang Meninggal yang Diperselisihkan: Bertawasul dengan menyandarkan diri pada jasad atau kedudukan orang yang sudah meninggal diperselisihkan para ulama. Mayoritas ulama peneliti (seperti Ibnu Taimiyah dan disepakati oleh Prof. Dr. Mutawalli Al-Sya'rawi) menegaskan bahwa meminta perantara roh orang mati untuk mendekatkan diri kepada Allah merupakan perbuatan yang menyerupai tradisi jahiliah (QS Az-Zumar [39]: 3).
- Berdoa Meminta Hajat Langsung kepada Ahli Kubur (Syirik Akbar): Dr. Yusuf Al-Qaradawi menegaskan bahwa perbuatan meminta kesembuhan, berkah, atau pemenuhan hajat secara langsung kepada almarhum di dalam kubur (dengan meyakini mereka mampu mengabulkannya) tergolong ke dalam perbuatan syirik akbar khafi (kesyirikan besar yang merusak tauhid).
Murni Berdoa Hanya kepada Allah ﷻ
Islam mengajarkan bahwa aktivitas ibadah dan permohonan doa secara mutlak hanya ditujukan kepada Allah ﷻ, bukan kepada nabi, wali, kiai, atau makhluk mana pun. Allah ﷻ melarang keras perbuatan menyeru selain diri-Nya melalui firman-Nya:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah kamu berdoa kepada apa saja yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat demikian, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus [10]: 106)
Bahaya Dosa Syirik dan Langkah Fortifikasi Akidah
Untuk membentengi diri dan keluarga dari ancaman kesyirikan, umat Islam perlu memahami dampak bahaya syirik serta langkah-langkah pencegahannya:
- Bahaya Utama Dosa Syirik (Dampak Teologis): Dosa syirik merupakan dosa paling berbahaya: (a) tidak akan diampuni Allah jika dibawa mati tanpa bertobat (QS An-Nisa [4]: 48); (b) menghapus seluruh pahala amalan baik yang pernah dilakukan; (c) diancam dengan keharaman masuk surga dan kekekalan di neraka; serta (d) tergolong dalam daftar dosa besar yang membinasakan (al-mubiqat).
- Penguatan Tauhid dan Waspada Syirik Kecil (Langkah Preventif): Umat wajib memperkuat keimanan dengan mengesakan Allah ﷻ dalam hal rububiyah, uluhiyah, serta asma wa sifat. Selain itu, kewaspadaan terhadap syirik kecil (ashghar) seperti riya' (beramal demi pujian manusia) harus terus ditumbuhkan.
- Segera Bertobat dan Edukasi Umat (Langkah Rehabilitatif): Pintu tobat senantiasa terbuka lebar bagi siapa saja yang menyadari kekeliruannya. Tugas para dai, ustadz, dan tokoh masyarakat adalah memberikan pembinaan tauhid yang ramah dan mencerahkan agar masyarakat yang awam tidak terus-menerus terjebak dalam praktik kesyirikan.
Marilah kita senantiasa menjaga keistiqamahan dalam memurnikan tauhid dan mengamalkan ajaran agama sesuai Sunnah Rasulullah ﷺ. Hindarilah praktik-praktik permohonan doa kepada orang yang telah wafat yang dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang kesyirikan. Wal'iyadzubillah.
Wallahua’lam bish-shawab.

0 Komentar