
Oleh: Rosnita Destiani, A.Md.
Penulis Lepas
Setiap musim kemarau tiba, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatra, termasuk Palembang, sering terjadi. Karhutla seolah menjadi agenda tahunan yang sulit dihindari. Langit yang seharusnya cerah berubah menjadi kuning keabu-abuan. Kualitas udara pun memburuk, bahkan mencapai kategori tidak sehat hingga berbahaya. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada dunia pendidikan.
Pada Rabu (21 Oktober 2026) pagi, karhutla di Sumatra Selatan (Sumsel) mencatatkan lonjakan titik panas (hotspot) hingga 1.277 titik. Sementara itu, kualitas udara di Palembang mencapai indeks 557 atau masuk kategori berbahaya.
Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel mencatat titik panas terbanyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan 695 titik. Jumlah ini disusul oleh Kabupaten Banyuasin sebanyak 326 titik dan Musi Banyuasin sebanyak 128 titik (RMOL Sumsel, 21/10/2026).
Daring Menjadi Solusi Pendidikan
Salah satu dampak nyata karhutla adalah terganggunya proses belajar-mengajar. Kabut asap yang mengandung polutan berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak. Oleh karena itu, untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik dari paparan asap, sejumlah sekolah terpaksa menghentikan sementara pembelajaran tatap muka. Sebagai alternatif, pemerintah dan pihak sekolah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran dalam jaringan (daring).
Pembelajaran daring merupakan proses belajar-mengajar yang dilakukan tanpa tatap muka secara langsung. Guru dan siswa berinteraksi melalui berbagai perangkat teknologi, seperti WhatsApp, Google Classroom, Google Meet, dan Zoom. Materi pelajaran dapat disampaikan melalui video pembelajaran, modul digital, serta tugas secara daring. Dengan demikian, kegiatan belajar tetap dapat berlangsung meskipun siswa harus berada di rumah demi menjaga kesehatan.
Namun, penerapan pembelajaran daring di tengah bencana karhutla bukan tanpa kendala, sebab tidak semua siswa memiliki gawai dan kuota internet yang memadai. Jaringan internet di beberapa wilayah juga belum stabil. Selain itu, suasana rumah yang kurang kondusif terkadang membuat siswa sulit berkonsentrasi. Mereka pun kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dan bersosialisasi secara langsung dengan guru serta teman-temannya. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama semua pihak agar pembelajaran daring dapat berjalan efektif.
Butuh Evaluasi
Pengalaman pembelajaran daring selama karhutla perlu menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak. Guru dituntut menghadirkan pembelajaran yang kreatif, sederhana, dan tidak membebani siswa. Begitu pula, orang tua perlu memberikan pendampingan serta motivasi agar anak tetap semangat belajar. Pemerintah juga harus memastikan tersedianya fasilitas pendukung agar hak pendidikan anak tidak terhambat ketika terjadi bencana.
Kini, ketika hujan mulai turun dan kabut asap berangsur mereda, aktivitas pendidikan diharapkan dapat kembali berjalan normal.
Namun, persoalan karhutla tidak boleh dilupakan begitu saja. Pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap upaya pencegahan dan penanganan karhutla serta penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran agar bencana serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Kendati demikian, pembelajaran daring bukanlah solusi untuk mengatasi akar persoalan karhutla. Upaya perlindungan terhadap anak harus berjalan beriringan dengan keseriusan negara dalam mencegah bencana yang terus berulang. Semoga langit Palembang kembali cerah, udara kembali bersih, dan anak-anak dapat belajar dengan aman serta riang di sekolah.

0 Komentar