PENGIKISAN AKAR ZAITUN DI PALESTINA DAN URGENSI KEPEMIMPINAN UMAT


Oleh: Han's Soedibyo
Penulis Lepas

Hingga tulisan ini dibuat, kondisi negeri Palestina makin menyayat hati. Sayangnya, perhatian publik sering kali terserap oleh berbagai urusan pribadi dan domestik sehingga terabaikan nasib saudara-saudara di Palestina. Minimnya pemberitaan (yang memang dirancang sedemikian rupa oleh pihak penjajah) membuat rasa empati masyarakat makin terkikis. Apalagi, entitas zionis kini makin brutal berupaya melumpuhkan bangsa Palestina dengan menyerang ikon kehidupan mereka, yakni pohon zaitun (CNN Indonesia, 28/9/2026).

Pohon zaitun bukan sekadar komoditas pertanian bagi rakyat Palestina, melainkan simbol identitas, keteguhan, dan jalinan sejarah yang mendalam dengan tanah leluhur mereka. Musim panen zaitun yang secara tradisional dimulai pada minggu pertama bulan Oktober (momen yang biasanya dipenuhi sukacita dan kebersamaan komunitas) kini berubah menjadi musim duka akibat eskalasi serangan.

Pekan lalu, buldoser militer Israel meratakan sekitar 31 dunam (31.000 meter persegi) lahan pertanian di Beit Rima, barat laut Ramallah, dan menghancurkan lebih dari 400 pohon zaitun, termasuk yang baru ditanam hingga yang dicabut dari akarnya. Penghancuran lahan seluas hampir 9 hektar milik warga seperti Abd Alfattah Tamimi dan tetangganya ini dilakukan dengan dalih klasik militer Israel: mencegah ancaman keamanan atau penyergapan terhadap pasukan.

Aktivis dan petani setempat memperingatkan bahwa hasil panen tahun ini terancam sangat fluktuatif akibat maraknya lonjakan operasi militer serta aksi kekerasan pemukim ilegal di seluruh Tepi Barat yang diduduki, seperti insiden penyerangan kendaraan dan penyemprotan merica terhadap Bilal Masalmeh serta warga lainnya di Turmus Ayya.

Kebrutalan sistematis terhadap pertanian zaitun ini memiliki tujuan geopolitik yang jelas: merusak sendi-sendi ekonomi dan mengikis akar budaya rakyat Palestina agar mereka terdesak lalu angkat kaki dari tanah airnya. Adapun pembungkaman terhadap jurnalis dan aktivis dilakukan untuk menutupi kejahatan perang ini dari pandangan dunia.

Di sisi lain, retorika diplomatik Barat kembali menelanjangi standar ganda mereka. Pernyataan kekhawatiran dari pejabat AS seperti Marco Rubio dan Mike Huckabee hanya muncul ketika warganya atau diplomat Eropa diserang. Senada dengan itu, kecaman keras dari Uni Eropa (UE) terbukti tumpul dan tidak pernahikuti oleh tindakan nyata. Semua ini menegaskan bahwa diplomasi internasional dan organisasi dunia hanyalah macan kertas yang tidak mampu menghentikan kezaliman.

Lebih ironis lagi, para penguasa di negeri-negeri muslim (khususnya negara-negara Arab) seolah kehilangan keberanian dan keberpihakannya. Banyak di antara mereka yang berdiam diri, bahkan menjalin hubungan normalisasi yang menjadikan mereka seolah penonton pasif di tengah penderitaan saudaranya sendiri.

Padahal, Palestina adalah tanah suci milik umat Islam yang memiliki kedudukan istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda mengenai keberkahan tanah Syam (termasuk Palestina):

طُوبَى لِلشَّامِ، فَقُلْنَا: لِأَيِّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: لِأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا
“Beruntunglah bagi Syam!” Para sahabat bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena para malaikat membentangkan sayapnya di atas Syam.” (HR. Tirmidzi no. 3954 dan Ahmad no. 21630)

Kondisi Palestina saat ini membuktikan satu hal fundamental: umat Islam tidak boleh terus menggantungkan nasibnya pada PBB, kecaman Barat, atau kompromi politik. Satu-satunya jalan untuk membebaskan Palestina dan menghentikan kezaliman entitas zionis beserta sekutunya adalah dengan menghadirkan kembali kepemimpinan tunggal umat yang menerapkan syariat secara kafah, yakni institusi Khilafah Islamiyah yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan as-sunah.

Khilafah inilah yang akan mengerahkan dan mengirimkan tentara kaum muslim secara berani untuk membebaskan tanah para nabi. Allah ﷻ berfirman:

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu...” (QS. Al-Baqarah: 190)

Melalui persatuan hakiki di bawah kepemimpinan seorang Khalifah yang berfungsi sebagai perisai (junnah), martabat umat Islam akan terpelihara dan tanah Palestina akan kembali memancarkan keberkahannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar