KETIKA “A DAY IN MY LIFE” BERUBAH MENJADI PETAKA DIGITAL


Oleh: Diaz
Penulis Lepas

Perkembangan teknologi digital ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, media sosial menawarkan ruang kreativitas tanpa batas; di sisi lain, platform ini rentan disalahgunakan untuk merusak tatanan moral. Kasus terbaru dari Polres Bogor menjadi sinyal bahaya nyata: pembongkaran praktik produksi dan penjualan konten pornografi berselubung tren populer "A Day in My Life".

Dua tersangka, MA (23) dan MR (27), memproduksi sekitar 20 video asusila sejak Juli 2026 dan memasarkannya melalui grup media sosial tertutup berbayar (membership Rp150 ribu). Dengan meraup keuntungan Rp19 juta, mereka mengeksploitasi tubuh demi materi. Ironisnya, pemeriksaan medis mengonfirmasi keduanya positif terinfeksi HIV. Kasus ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan cermin krisis yang lebih mendalam di era digital (Polri, 21/9/2026).


Komodifikasi Tubuh dan Fenomena Gunung Es

Kemudahan merekam dan mengunggah konten membuat siapa pun bisa menjadi produsen media. Namun, ketika kemudahan ini lepas dari kontrol etis, tubuh manusia bergeser menjadi komoditas ekonomi (komodifikasi tubuh). Degradasi nilai kemanusiaan pun terjadi saat moralitas ditukar dengan lembaran uang.

Di balik itu, fakta tertularnya pelaku oleh HIV menegaskan fenomena gunung es: angka kasus yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari realitas kelam pergaulan bebas. Penanganan HIV tidak bisa sekadar mengandalkan pendekatan medis atau pengobatan kuratif semata. Selama akar masalahnya (yaitu perilaku seksual berisiko dan konten pemicunya) tidak dibenahi, krisis kesehatan ini akan terus berulang.


Krisis Nilai di Bawah Bayang-Bayang Kebebasan

Mengagungkan kebebasan individu tanpa batas (liberalisme) sering kali kebablasan. Kebebasan berekspresi yang dilepaskan dari norma agama dan sosial hanya akan melahirkan kekacauan. Media sosial pun berubah menjadi panggung eksploitasi dan penyebaran perilaku menyimpang.

Masalah utamanya bukan terletak pada kecanggihan teknologi, melainkan pada kendali diri manusianya. Tanpa benteng moral dan pemahaman etika, arus kebebasan informasi justru akan meracuni generasi muda.


Islam: Solusi Pencegahan dari Hulu

Islam menawarkan prinsip pencegahan menyeluruh dari hulu melalui metode sadd adz-dzari'ah (menutup rapat pintu-pintu kemaksiatan). Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra' [17]: 32)

Rasulullah ﷺ juga telah mengingatkan bahaya gaya hidup bebas yang dilakukan secara terang-terangan:

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمِ الَّذِينَ مَضَوْا
“Tidaklah perbuatan keji (fahisyah) tampak pada suatu kaum secara terang-terangan, melainkan akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit dan kelaparan/kesakitan yang belum pernah ada pada generasi sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019)

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan bahwa obat paling manjur untuk mengatasi penyakit adalah dengan memutus sebab keberadaannya. Islam memagari kehormatan manusia melalui aturan pergaulan yang jelas: menundukkan pandangan (ghaddul bashar), menutup aurat, melarang khalwat (berdua-duaan), menghukum pelaku LGBT, hingga menolak gaya hidup seks bebas.

Di saat yang sama, Islam tidak mematikan naluri kasih sayang (gharizah an-nau'), melainkan mengarahkannya secara mulia melalui ikatan pernikahan yang sah.


Kesimpulan

Sangat memprihatinkan ketika dampak pergaulan bebas, LGBT dan penularan HIV kini mulai merambah kelompok remaja. Maraknya tayangan yang mempromosikan gaya hidup kebablasan menjadi bahan bakar utama krisis ini.

Merebaknya krisis moral dan kesehatan masyarakat hari ini harus menjadi momentum refleksi kolektif. Sudah saatnya kita kembali menerapkan nilai-nilai agama secara utuh (kaffah) dalam kehidupan sehari-hari (mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan) demi menjaga kehormatan dan menyelamatkan masa depan generasi muda.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar