DI TENGAH KERAMAIAN YANG RIUH, JIWA MEREKA JUSTRU SEPI


Oleh: Irma Suryani, S.T.
Penulis Lepas

Angin sepoi-sepoi melayang di area kampus Universitas Brawijaya pada Kamis (10/09/2026). Mahasiswa Fakultas Kedokteran berinisial RR (19) berdiri di teras lantai 6 gedung kampus. Matanya memandang jauh, seolah mencari sesuatu yang tak terjangkau. Tanpa kata-kata, ia melompat. Suara benturan yang keras mengguncang hati semua orang yang mendengar. Seorang pemuda penuh harapan jatuh di tengah keramaian kampus yang sibuk (Kompas, 11/09/2026).

Hanya empat hari sebelumnya, pada Minggu dini hari (06/09/2026), kawasan GBK Jakarta Pusat tampak sunyi. Seorang pria berinisial FS (30) ditemukan tak bernyawa. Sebelumnya, ia sempat mengunggah pesan perpisahan yang menyayat hati di media sosial, bahkan mendonasikan uang sebesar Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental. Lagi-lagi, seseorang pergi di tengah kota yang sibuk dan penuh aktivitas. Kesepian yang menyelimuti di tengah keramaian yang tak berkesudahan (Kompas, 10/09/2026).

Data dari saluran siaga (hotline) pencegahan bunuh diri Healing119.id memperkuat kesan kelam ini. Sebagian besar klien mereka adalah anak muda berusia 21–30 tahun, generasi produktif yang seharusnya penuh semangat, tetapi justru terjebak dalam krisis kesehatan mental yang mendalam. Mereka hidup di dunia yang serbaterhubung secara digital, tetapi merasa kian terisolasi. Mereka berada di tengah kerumunan, tetapi merasa sendirian.


Akidah yang Hilang, Ikatan Sosial yang Putus

Dua peristiwa yang menyayat hati ini bukan sekadar tragedi pribadi, melainkan gejala mendalam dari penyakit sistemis yang sedang menggerogoti generasi muda. Sekularisme yang telah meresap ke setiap sendi kehidupan telah mencabut akidah dari ruang-ruang pendidikan, pekerjaan, hingga pergaulan.

Ketika keyakinan kepada Allah ï·» tidak lagi menjadi fondasi, setiap tekanan hidup terasa sebagai beban yang tak tertanggungkan. Tanpa keyakinan bahwa setiap kesulitan adalah ujian yang ada jalan keluarnya, dan tanpa kesadaran bahwa ada Dzat yang selalu menjaga, keputusasaan tumbuh subur dan berujung pada keyakinan keliru bahwa kematian adalah satu-satunya jalan keluar.

Lebih dari itu, sistem kapitalisme melahirkan budaya individualisme yang dingin. Budaya positivisme toksik yang terus meneriakkan slogan "harus kuat", "harus sukses", dan "jangan lemah" justru mematikan ruang untuk berbagi kesedihan. Orang-orang berlomba mengejar pencapaian pribadi, sementara ikatan kekeluargaan dan persaudaraan kian renggang.

Kita hidup di tengah keramaian, tetapi jiwa kita makin kesepian. Seseorang bisa saja kaya raya, memiliki jabatan, atau mempunyai ribuan pengikut di media sosial, tetapi saat hatinya hancur, tidak ada satu pun yang dapat dipeluk. Inilah harga mahal yang harus dibayar ketika materi dijadikan tujuan, bukan Allah ï·».

Semua ini bukanlah kebetulan. Negara yang menerapkan sistem sekuler-kapitalis secara sistematis membentuk generasi yang rapuh. Melalui pendidikan yang memisahkan ilmu dari iman, negara mencetak orang-orang pintar namun hampa batin. Melalui sistem ekonomi yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama, negara membentuk masyarakat yang saling asing dan egois. Maka, tidak heran jika lahir generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara spiritual dan emosional.


Islam Hadir Membangun Jiwa dan Masyarakat yang Kokoh

Kita tidak bisa hanya diam menatap deretan peristiwa ini dengan air mata. Harus ada jalan keluar yang menyentuh akar masalah, bukan sekadar mengobati gejala. Jalan itu telah Allah ï·» berikan melalui Islam.

Islam membangun akidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah ï·», bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan bahwa bunuh diri adalah perbuatan haram menjadi perisai terkuat bagi seorang muslim saat cobaan berat datang. Ketika seseorang sadar bahwa dirinya milik Allah ï·» dan hanya Dia yang berhak mengambilnya, ia tidak akan pernah menyerah pada keputusasaan.

Selain itu, Islam membangun ikatan persaudaraan yang kuat. Tidak ada seorang pun yang dibiarkan berjuang sendirian. Jika seseorang sedang tertimpa musibah atau merasa tertekan, keluarga, tetangga, dan sahabat sesama muslim wajib hadir untuk mendengarkan, mendampingi, meringankan beban, dan mendoakan. Kesepian tidak punya tempat di tengah komunitas yang diikat oleh cinta karena Allah ï·».

Solusi paripurnanya adalah penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam institusi Khilafah. Negara berkewajiban menyelenggarakan pendidikan berbasis akidah sehingga setiap generasi tumbuh dengan keyakinan yang kokoh. Negara juga wajib mengelola ekonomi dengan prinsip keadilan dan kesejahteraan, sehingga tidak ada warga yang hidup dalam keputusasaan akibat kemiskinan struktural. With this, lahirlah generasi yang kuat imannya dan hidup dalam masyarakat yang saling peduli.


Kesimpulan

Tragedi yang menimpa RR dan FS adalah peringatan keras bagi kita semua. Kesepian di tengah keramaian dan keputusasaan di tengah kemewahan adalah harga yang harus dibayar ketika kita menjauhkan agama dari kehidupan. Sekularisme mencabut pegangan hidup, kapitalisme merenggangkan ikatan persaudaraan, dan keduanya melahirkan generasi yang rapuh.

Solusinya bukan sekadar menambah layanan konseling atau saluran siaga (hotline). Itu semua hanya mengobati gejala di permukaan. Yang harus diubah adalah sistemnya, kembali pada Islam dalam setiap aspek kehidupan. Hanya dengan kembali kepada Allah ï·» dan menerapkan sistem Islam yang utuh, kita dapat mewujudkan masyarakat yang saling peduli, tempat tidak ada lagi individu yang merasa sendirian di tengah keramaian.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar