KETIKA DUNIA MENJADI TUJUAN: AKAR KRISIS PERADABAN MODERN


Oleh: Ardi Juanda
Praktisi MSDM

Kemajuan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Informasi bergerak tanpa batas, transaksi berlangsung dalam hitungan detik, dan berbagai kemudahan tersedia di ujung jari. Namun, di balik kemajuan fisik tersebut, tersimpan sebuah paradoks peradaban: makin maju suatu peradaban, makin banyak manusia yang justru merasa kehilangan makna hidup.

Hari ini, ukuran keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar manfaat yang diberikan seseorang bagi masyarakat, melainkan oleh seberapa banyak harta yang dimiliki, seberapa tinggi jabatan yang diraih, atau seberapa besar pengaruh yang dibangun di ruang digital. Kehidupan dipenuhi kompetisi untuk memperoleh pengakuan. Kekayaan dipamerkan dan kesuksesan dipertontonkan, sementara kesederhanaan sering kali dipandang sebagai kegagalan.

Fenomena ini bukan sekadar pergeseran gaya hidup (lifestyle), melainkan konsekuensi logis dari paradigma materialisme yang menempatkan materi sebagai pusat kehidupan. Ketika manfaat materi dijadikan tolok ukur utama (pragmatisme), seluruh aktivitas manusia akan diarahkan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Nilai benar dan salah perlahan bergeser mengikuti ukuran untung dan rugi. Apa yang menghasilkan keuntungan finansial dianggap baik, sedangkan apa yang tidak memberikan manfaat materi dianggap tidak penting. Inilah akar persoalan utama yang sedang dihadapi oleh peradaban modern.

Tak mengherankan apabila praktik riba terus berkembang, korupsi makin canggih, eksploitasi sumber daya alam dilakukan tanpa batas, sementara hubungan antarmanusia makin rapuh. Persaingan menggantikan kepedulian, konsumerisme menggantikan kesederhanaan, dan kepentingan pribadi mengalahkan tanggung jawab sosial. Berbagai krisis yang muncul (ekonomi, sosial, moral, hingga lingkungan) sesungguhnya berakar pada satu persoalan yang sama: kesalahan dalam memandang tujuan hakiki hidup manusia.


Orientasi Materi vs Akidah Islam

Islam memandang krisis peradaban tersebut dari sudut pandang yang mendasar. Masalah utama manusia bukan pertama-tama terletak pada perilaku lahiriahnya, melainkan pada cara berpikir (pola pikir) yang melahirkan perilaku tersebut. Ketika cara berpikir dibangun di atas orientasi duniawi, seluruh sistem kehidupan akan bergerak untuk melayani kepentingan materi semata. Sebaliknya, ketika cara berpikir dibangun di atas akidah Islam, seluruh aktivitas manusia diarahkan untuk meraih keridaan Allah ﷻ.

Dalam konteks inilah, perkataan Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib RA memiliki makna yang sangat mendalam tatkala beliau menggambarkan hakikat dunia:

مَا أَصِفُ مِنْ دَارٍ أَوَّلُهَا عَنَاءٌ، وَآخِرُهَا فَنَاءٌ، فِي حَلَالِهَا حِسَابٌ، وَفِي حَرَامِهَا عِقَابٌ، مَنِ اسْتَغْنَى فِيهَا فُتِنَ، وَمَنِ افْتَقَرَ فِيهَا حَزِنَ
Bagaimana mungkin aku menggambarkan sebuah negeri yang awalnya adalah kepayahan dan akhirnya adalah kehancuran. Terhadap yang halal di dalamnya ada hisab, sedangkan terhadap yang haram ada azab. Siapa yang kaya darinya akan teruji (terfitnah), dan siapa yang miskin darinya akan diliputi kesedihan.” (Nahjul Balaghah).

Ungkapan tersebut bukan sekadar nasihat agar manusia hidup asketis/sederhana, melainkan koreksi mendasar terhadap paradigma yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir (dunya-oriented). Dunia hanyalah fase transit sementara dalam perjalanan manusia menuju kehidupan yang kekal. Oleh karena itu, seluruh aktivitas di dunia harus diposisikan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ menegaskan hakikat kehidupan duniawi dalam firman-Nya:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam banyaknya harta dan anak...” (QS. Al-Hadid: 20).

Ayat ini tidak mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan dunia ataupun hidup dalam kemiskinan. Islam justru mendorong umatnya untuk bekerja, berdagang, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun industri, serta memakmurkan bumi. Namun, seluruh aktivitas tersebut wajib berada dalam kerangka penghambaan kepada Allah ﷻ, bukan dalam kerangka pemuasan hawa nafsu.


Peradaban Sekuler vs Peradaban Islam

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara peradaban sekuler dan peradaban Islam:
  • Peradaban Sekuler: Manusia menjadi pusat penentu nilai (antroposentris), sehingga asas manfaat (utilitarianisme) menjadi ukuran utama dalam menilai setiap aktivitas.
  • Peradaban Islam: Wahyu Ilahi menjadi standar penilaian mutlak. Baik dan buruk tidak ditentukan oleh keuntungan materi ataupun suara mayoritas, melainkan oleh hukum-hukum Allah ﷻ.

Perbedaan asas ini melahirkan dua arah peradaban yang berlawanan. Ketika materi menjadi tujuan, manusia akan terus diperbudak oleh pemenuhan kepuasan yang tidak pernah memuaskan. Sebaliknya, ketika keridaan Allah ﷻ menjadi tujuan tertinggi, materi ditempatkan pada posisi yang benar: sebagai sarana (intermediary) untuk menegakkan keadilan, memenuhi kebutuhan manusia, dan membangun kemaslahatan publik.

Oleh karena itu, solusi atas krisis peradaban tidak cukup berhenti pada ajakan moralistis untuk hidup sederhana atau sekadar perbaikan akhlak secara individual. Akhlak yang baik tidak akan bertahan lama apabila dibentuk oleh sistem kehidupan yang setiap hari mengajarkan materialisme, individualisme, dan kebebasan tanpa batas.


Kesimpulan

Perubahan yang hakiki harus dimulai dari perubahan cara pandang mendasar (paradigm shift), yang kemudian diwujudkan dalam tatanan kehidupan yang menjadikan syariat Islam sebagai standar dalam mengatur urusan individu, masyarakat, dan negara. Inilah wujud nyata Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.

Islam tidak hanya membimbing manusia agar saleh secara pribadi, melainkan juga menghadirkan tata kehidupan yang menjaga harta tanpa riba, melindungi kehormatan tanpa eksploitasi, menegakkan keadilan tanpa diskriminasi, serta mengarahkan seluruh potensi manusia pada tujuan penciptaannya.

Pada akhirnya, persoalan terbesar manusia bukanlah sedikit atau banyaknya harta yang dimiliki, melainkan arah hidup yang dipilihnya. Selama dunia menjadi tujuan utama, manusia akan terus diperbudak oleh ambisi yang tak pernah usai. Namun, ketika akhirat menjadi orientasi, dunia akan kembali pada kedudukannya yang benar: sebagai amanah yang dikelola, ladang amal yang ditanami, dan jembatan menuju kehidupan yang abadi.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar