
Oleh: Abdul Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama
Salat adalah ibadah paling utama dan merupakan tiang agama dalam Islam. Dalam salat inilah seorang hamba sedang bermuwajahah atau berkomunikasi secara langsung dengan Rabb semesta alam.
Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang untuk melakukan gerakan maupun bacaan salat secara terburu-buru. Sikap tergesa-gesa seolah-olah ada urusan duniawi yang sedang dikejar hanya akan membuat seseorang kehilangan rasa bahwa dirinya sedang menghadap Allah ﷻ.
Seseorang yang salat terlalu cepat hingga mengabaikan tumaninah (ketenangan dalam setiap gerakan) bahkan telah ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ sebagai pencuri yang paling buruk. Beliau bersabda:
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ لاَ يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلاَ سُجُودَهَا
“Manusia yang paling buruk pencuriannya adalah orang yang mencuri dari salatnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang mencuri dari salatnya?” Beliau bersabda, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya” (atau beliau bersabda, “Ia tidak meluruskan punggungnya ketika rukuk dan sujud”). (HR. Ahmad no. 22642; dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykah no. 885)
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras bahwa ada orang yang rajin menunaikan salat selama 60 tahun, tetapi tidak satu pun salatnya diterima di sisi Allah ﷻ akibat rukuk dan sujudnya yang asal-asalan:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً مَا تُقْبَلُ لَهُ صَلَاةٌ، لَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَلَا يُتِمُّ السُّجُودَ، وَيُتِمُّ السُّجُودَ وَلَا يُتِمُّ الرُّكُوعَ
“Sesungguhnya ada seseorang yang salat selama 60 tahun, namun tidak diterima amalan salatnya selama itu walau satu salat pun. Boleh jadi ia menyempurnakan rukuknya tetapi sujudnya kurang sempurna, demikian pula sebaliknya.” (HR. Ibn Abi Syaibah; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Sahih At-Targhib no. 596)
Subhanallah, alangkah ruginya orang yang telah mendirikan salat puluhan tahun, tetapi gugur pahalanya hanya karena gerakan yang terlalu cepat tanpa tumaninah. Oleh karena itu, mari kita pusatkan konsentrasi dan pikiran selaras dengan bacaan yang sedang diucapkan.
Suatu hari, Rasulullah ﷺ melihat seseorang salat dengan gerakan terburu-buru tanpa menyempurnakan posisi rukuk dan sujudnya. Beliau lantas bersabda:
لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Seandainya orang ini mati dalam kondisi salat seperti ini, niscaya ia mati bukan di atas petunjuk agama Muhammad ﷺ.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan At-Thabrani; Sahih At-Targhib no. 528)
Melakukan gerakan salat secara kilat tanpa tumaninah termasuk golongan orang yang lalai dalam salatnya. Terhadap mereka, Allah ﷻ telah memberikan ancaman dalam Al-Qur'an:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma'un [107]: 4–5)
Mengabaikan Sunnah-Sunnah Salat
Selain masalah hilangnya tumaninah, kelalaian lain yang sering ditemui adalah kebiasaan sengaja meninggalkan bacaan-bacaan sunnah. Sebagian orang berasumsi bahwa bacaan sunnah tidak sampai membatalkan salat.
Padahal, bacaan sunnah (seperti doa iftitah, surat/ayat setelah Al-Fatihah pada rakaat pertama dan kedua, doa ketika rukuk dan iktidal, serta selawat Ibrahimiah saat tasyahud akhir) merupakan penyempurna pahala salat yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah).
Selain itu, terdapat doa perlindungan sebelum salam yang sering ditinggalkan oleh para mushallin (orang yang salat). Doa ini bertujuan untuk memohon perlindungan kepada Allah ﷻ dari empat ancaman besar, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai tasyahud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan mengucapkan: 'Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabi jahannam, wa min ‘adzabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min syarri fitnatil masihid dajjali' (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahanam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah Al-Masih Dajjal).” (HR. Muslim no. 588)
Membaca Al-Qur'an di dalam salat juga memiliki keutamaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan membacanya di luar salat. Rasulullah ﷺ bersabda:
قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلاَةِ أَفْضَلُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي غَيْرِ الصَّلاَةِ
“Membaca Al-Qur’an di dalam salat itu lebih utama daripada membaca Al-Qur’an di luar salat...” (HR. Al-Baihaqi)
Meraih Kekhusyukan dalam Salat
Agar dapat meresapi dzauq (kenikmatan batin) saat bermunajat kepada Allah ﷻ, kekhusyukan adalah syarat utamanya. Allah ﷻ memuji hamba-hamba-Nya yang khusyuk melalui firman-Nya:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu'minun [23]: 1–2)
Ulama kontemporer Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam At-Tafsir Al-Munir menjelaskan makna khusyuk pada ayat di atas:
وَهُوَ الْخُضُوعُ وَالتَّذَلُّلُ لِلَّهِ وَالْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَحَلُّهُ الْقَلْبُ فَإِذَا خَشَعَ خَشَعَتِ الْجَوَارِحُ كُلُّهَا لِخُشُوعِهِ إِذْ هُوَ مَلِكُهَا
“Khusyuk adalah kepasrahan, kerendahan hati, dan rasa takut kepada Allah Ta'ala. Tempatnya berada di dalam hati. Apabila hati seseorang khusyuk, maka seluruh anggota badannya akan ikut khusyuk, karena hati adalah raja bagi seluruh anggota badan.” (Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir, Juz XVIII, hlm. 14)
Salah satu langkah praktis agar salat kita khusyuk adalah dengan memahami makna dari setiap kalimat bacaan salat yang diucapkan. Pemahaman makna ini akan membantu pikiran dan hati tetap terpaut kepada Allah ﷻ.
Kesimpulan
Mari kita tingkatkan kualitas salat kita sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah ﷺ. Ingatlah bahwa saat mendirikan salat, kita sedang menghadap dan bermunajat kepada Allah Ta'ala. Jangan sampai salat yang kita kerjakan sejak kecil hingga usia tua dikerjakan secara acak-acakan ibarat ayam yang sedang mematuk makanan.
Semoga kita terhindar dari kelalaian tersebut (na'udzubillahi min dzalik). Mari kita senantiasa belajar dan memperbaiki tata cara salat agar ibadah kita diterima serta membawa ketenangan hidup di dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Komentar