
Oleh: Santy Al Mustaniroh
Penulis Lepas
Tanggal 12 Rabiulawal merupakan momentum kelahiran manusia teragung, Baginda Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta dia banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Umat Islam menyambut peringatan Maulid Nabi dengan berbagai agenda perayaan, seperti pengajian selawatan hingga tabligh akbar dengan tema keteladanan akhlak Rasulullah ﷺ. Namun, keteladanan Nabi ﷺ tidak sebatas pada aspek akhlak perorangan. Kesadaran umat belum banyak disentuh untuk meninggalkan tatanan hukum buatan manusia.
Ada hal mendasar yang sangat krusial dari momentum Maulid: keteladanan perjuangan politik Rasulullah ﷺ dalam menegakkan negara Islam di Madinah. Sisi perjuangan ini masih jarang disampaikan, sehingga peringatan Maulid rentan terkesan sebatas seremonial formalitas belaka tanpa makna perubahan yang mendalam.
Reduksi Makna Peringatan Maulid
Peringatan Maulid kerap tereduksi sebatas ekspresi kecintaan emosional tanpa konsekuensi ideologis. Seharusnya, bukti cinta kepada Rasulullah ﷺ diwujudkan dalam bentuk keterikatan mutlak pada risalah dan metode perjuangan yang beliau bawa.
Saat ini, banyak umat Islam kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah ﷻ masih berlangsung secara sistemik melalui penerapan sistem demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan materi serta hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Di saat yang sama, tatanan sekuler berupaya mempertahankan dominasinya dengan mereduksi peringatan Maulid sebatas keteladanan akhlak pribadi semata.
Akibatnya, pemahaman umat menjadi terkaburkan. Seusai perayaan digelar, masyarakat kembali pada rutinitas harian tanpa membawa kesadaran untuk mengubah kondisi kehidupan yang masih jauh dari penerapan syariat Islam secara utuh.
Makna Hakiki Ittiba' dan Metode Perjuangan
Makna hakiki Maulid adalah mengembalikan esensi ittiba' sebagai keterikatan total pada syariat dan metode dakwah Nabi ﷺ, bukan sekadar ritual tahunan. Allah ﷻ berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (wahai Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali 'Imran: 31).
Cengkeraman sistem kapitalisme-sekuler di negeri-negeri muslim mewajibkan umat Islam untuk memperjuangkan penerapan syariat secara menyeluruh (kaffah) melalui kepemimpinan Islam (Khilafah), sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Metode perjuangan Rasulullah ﷺ ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah):
- Tatsqif: Pembinaan akidah dan pemikiran Islam untuk membentuk kepribadian Islam pada individu.
- Tafa'ul ma'al Ummah: Berinteraksi dengan masyarakat untuk mengoreksi pemikiran yang rusak serta membangun kesadaran politik umat.
- Istilamul Hukmi: Penerimaan kekuasaan secara damai guna menerapkan syariat Islam dalam institusi negara.
Melalui metode ini, kehidupan Islam akan kembali tegak sehingga Islam benar-benar hadir mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Allah ﷻ berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
Kesimpulan
Sudah saatnya umat Islam menjadikan momentum Maulid Nabi ﷺ sebagai titik tolak perubahan menuju penegakan syariat Islam di tengah masyarakat dengan menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai qudwah (suri teladan utama). Hanya dengan kembali pada metode perjuangan kenabian, kebangkitan dan keadilan Islam dapat diwujudkan secara nyata.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar