ISLAM MENGENTASKAN ANCAMAN NARKOBA DAN CYBERBULLYING DI BULUNGAN: KETAHANAN KELUARGA SAJA TIDAK CUKUP


Oleh: A. Mutoharo, S.M.
Penulis Lepas

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Kabupaten Bulungan menjadi momentum untuk melihat kembali berbagai persoalan yang mengancam masa depan generasi muda. Di tengah upaya membangun daerah, ada persoalan sosial yang tidak boleh luput dari perhatian: penyalahgunaan narkoba, perilaku menyimpang, serta dampak negatif penggunaan teknologi digital, termasuk cyberbullying.

Sebagaimana diberitakan Tribun Kaltara, Bupati Bulungan Syarwani memberikan perhatian khusus terhadap ancaman yang membayangi anak-anak. Ia menyoroti bahaya penyalahgunaan narkoba, perilaku hidup menyimpang, hingga dampak negatif penggunaan telepon pintar. Syarwani juga menegaskan bahwa ketahanan keluarga menjadi benteng utama dalam melindungi anak dari berbagai ancaman tersebut.

Perhatian ini patut diapresiasi. Sebab, narkoba dan perundungan bukan persoalan sepele yang hanya berkaitan dengan kenakalan anak, melainkan ancaman yang dapat merusak kesehatan fisik dan mental, menghambat pendidikan, serta mengancam masa depan generasi muda. Terlebih, perkembangan teknologi membuat perundungan tidak lagi terbatas pada ruang kelas atau lingkungan pergaulan. Kekerasan verbal dapat berpindah ke ruang digital, menyebar lebih luas, meninggalkan jejak, dan terus menghantui korbannya.

Persoalan perundungan juga tidak selalu mudah terungkap. Koran Kaltara dalam pemberitaannya pada 19 Januari 2026 menyoroti praktik bullying di sekolah yang kerap dianggap sebagai candaan, terutama pada jenjang SMP dan SMA. Kepala Seksi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Kota Tarakan, Jumiati, menyebutkan bahwa masih ada masyarakat yang takut atau tidak mengetahui mekanisme pelaporan, bahkan khawatir kasus kekerasan dianggap sebagai aib keluarga (Koran Kaltara, 19/1/2026).

Ketika ejekan, penghinaan, pengucilan, atau tindakan mempermalukan seseorang dianggap sebagai bagian biasa dari pergaulan, batas antara bercanda dan menyakiti menjadi kabur. Padahal, sesuatu yang dianggap lucu oleh pelaku belum tentu ringan bagi korbannya. Anak yang mengalami perundungan bisa kehilangan rasa aman, kepercayaan diri, bahkan mengalami tekanan psikologis yang berkepanjangan.


Ketahanan Keluarga di Tengah Sistem Sosial Sekuler

Menempatkan keluarga sebagai benteng utama perlindungan anak merupakan langkah yang benar. Keluarga adalah lingkungan pertama tempat anak mengenal kasih sayang, nilai kehidupan, tanggung jawab, dan batasan perilaku. Namun, persoalannya tidak berhenti pada seberapa kuat keluarga mendidik anak. Kita juga perlu mempertanyakan kondisi sistem sosial yang menaungi keluarga saat ini.

Beragam persoalan dalam kehidupan keluarga tidak dapat dilepaskan dari sistem kehidupan sekuler-liberal yang menempatkan kebebasan individu sebagai landasan utama. Kebebasan yang tidak dibatasi oleh nilai agama dan tanggung jawab sosial dapat mendorong perilaku yang mengabaikan norma, termasuk dalam pergaulan dan penggunaan teknologi.

Dalam sistem sosial yang semakin liberal, keluarga menghadapi tekanan dari berbagai arah. Tuntutan ekonomi, misalnya, membuat banyak orang tua harus menghabiskan sebagian besar waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak sedikit ibu yang turut menanggung beban ekonomi keluarga, sementara tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan anak tetap melekat. Akibatnya, waktu untuk mendampingi, mengawasi, dan membangun kedekatan emosional dengan anak menjadi semakin terbatas.

Di sisi lain, anak-anak tumbuh dalam lingkungan digital yang tidak selalu ramah. Telepon pintar (smartphone) membuka akses terhadap pengetahuan dan komunikasi, tetapi juga menghadirkan risiko paparan konten negatif, pergaulan bebas, kekerasan verbal, hingga penyalahgunaan ruang digital. Ketika pengawasan keluarga lemah dan lingkungan sosial tidak memiliki standar perilaku yang kuat, anak mudah terpapar pengaruh yang merusak.

Begitu pula dengan narkoba. Penyalahgunaan narkotika tidak cukup dipahami sebagai akibat lemahnya pengawasan orang tua atau buruknya pilihan individu semata. Ada persoalan yang lebih luas, mulai dari jaringan peredaran, lingkungan pergaulan, lemahnya pencegahan, hingga penegakan hukum. Oleh karena itu, membebankan seluruh tanggung jawab kepada keluarga justru berisiko menutup persoalan struktural yang seharusnya diselesaikan secara komprehensif.

Inilah mengapa ketahanan keluarga tidak dapat dibangun hanya melalui imbauan agar orang tua lebih memperhatikan anak. Keluarga membutuhkan dukungan lingkungan yang sehat, pendidikan yang membentuk kepribadian, kebijakan ekonomi yang melindungi kesejahteraan, serta negara yang hadir secara nyata dalam menjaga masyarakat.

Sistem sekuler-kapitalisme yang bertumpu pada kebebasan dan orientasi materi tidak menempatkan pembentukan generasi berkepribadian sebagai tujuan utama. Selama keberhasilan lebih banyak diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan kepentingan materi, sementara pembinaan moral serta perlindungan sosial tidak dijadikan prioritas, keluarga akan terus menghadapi beban yang tidak ringan.


Tanggung Jawab Negara dan Sistem Islam dalam Melindungi Generasi

Islam memandang perlindungan generasi sebagai tanggung jawab bersama yang harus ditopang oleh keluarga, masyarakat, dan negara. Ketiganya memiliki peran yang saling melengkapi. Keluarga menjadi tempat pertama pembentukan kepribadian, masyarakat berperan menciptakan lingkungan yang saling menjaga, sedangkan negara bertanggung jawab menghadirkan sistem yang melindungi seluruh rakyat.

Dalam keluarga, Islam menempatkan pendidikan anak sebagai amanah. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membimbing anak agar memiliki keimanan, akhlak, dan kemampuan membedakan perbuatan yang benar dan salah. Pendidikan tersebut tidak cukup dilakukan melalui nasihat, melainkan harus disertai keteladanan dan pendampingan yang konsisten.

Namun, Islam tidak membebankan seluruh tanggung jawab pengasuhan kepada keluarga. Negara sebagai ra'in (pengurus) urusan rakyat wajib memastikan setiap anggota keluarga dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Negara perlu menghadirkan kebijakan ekonomi yang menjamin kebutuhan hidup masyarakat, menyediakan pendidikan berkualitas, serta membangun lingkungan sosial yang mendukung tumbuh kembang anak.

Dengan jaminan kesejahteraan dan pengaturan kehidupan yang sesuai dengan syariat, keluarga tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi dan sosial. Peran ibu sebagai pendidik generasi mendapatkan perlindungan dan dukungan, sementara ayah didorong menjalankan tanggung jawab utamanya dalam keluarga.

Dalam menghadapi narkoba, negara tidak cukup hanya melakukan sosialisasi bahaya narkotika. Pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari menutup ruang peredaran, mengawasi jalur distribusi, menindak tegas jaringan pengedar, hingga memberikan rehabilitasi kepada korban penyalahgunaan. Penegakan hukum harus dijalankan secara adil dan memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Demikian pula dalam menghadapi cyberbullying. Negara harus memastikan ruang digital tidak menjadi tempat yang bebas digunakan untuk merendahkan, mengancam, dan merusak kehormatan orang lain. Pendidikan Islam membentuk kesadaran bahwa setiap perkataan dan perbuatan memiliki konsekuensi, termasuk tindakan yang dilakukan melalui media sosial. Masyarakat juga didorong untuk tidak menormalisasi perundungan, tidak ikut menyebarkan konten yang mempermalukan korban, serta berani melakukan amar makruf nahi mungkar.

Lebih dari itu, Islam memandang persoalan generasi tidak dapat diselesaikan secara parsial. Sistem pendidikan, ekonomi, sosial, politik, hukum, dan media harus berjalan selaras dengan nilai-nilai syariat. Penerapan Islam secara kafah menghadirkan mekanisme yang saling menguatkan untuk membentuk individu bertakwa, masyarakat yang peduli, dan negara yang bertanggung jawab atas keselamatan rakyatnya.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga diri dan keluarga. Namun, tanggung jawab menjaga generasi juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan nilai-nilai kebaikan tumbuh dan terlindungi.

Ancaman narkoba dan cyberbullying di Bulungan seharusnya menjadi peringatan bahwa pembangunan daerah tidak boleh hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Kualitas generasi yang tumbuh di dalamnya jauh lebih menentukan masa depan daerah.

Ketahanan keluarga memang merupakan fondasi penting. Namun, fondasi itu tidak akan kokoh jika keluarga terus dibebani persoalan ekonomi, anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang rusak, dan ruang digital dibiarkan tanpa perlindungan yang memadai. Oleh karena itu, persoalan mendasarnya bukan semata-mata keluarga yang kurang kuat, melainkan sistem kehidupan yang harus dievaluasi secara mendasar.

Islam menawarkan penyelesaian yang menyeluruh: bukan hanya mengajak orang tua mendidik anak, melainkan juga memastikan negara menjalankan tanggung jawabnya dalam memenuhi kebutuhan hidup, membentuk lingkungan yang sehat, mencegah kemaksiatan, serta melindungi masyarakat dari berbagai ancaman.

Sudah saatnya penyelamatan generasi tidak berhenti pada seruan memperkuat ketahanan keluarga. Diperlukan perubahan mendasar dalam cara mengatur kehidupan, dengan menjadikan syariat Islam sebagai landasan dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, generasi yang berkualitas tidak lahir hanya dari keluarga yang kuat, melainkan juga dari masyarakat dan negara yang menghadirkan sistem kehidupan yang baik dan melindungi mereka.

Posting Komentar

0 Komentar