
Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik
Pilkada telah usai digelar, sejumlah daerah telah mendapatkan calon koruptor baik menduduki jabatan Gubernur, Bupati maupun Walikota. Meski belum definitif, belum ada rekapitulasi dan pengumuman resmi KPUD, sejumlah penghitungan dari berbagai lembaga survei telah menyebut siapa jagoan calon koruptornya.
Di Solo dan Medan, konon anak dan mantu Presiden diprediksi jadi Calon Koruptor. Ya, calon koruptor. Sebagaimana tulisan saya sebelumnya.
Diberbagai daerah lain, juga sudah muncul data perolehan hasil dan calon koruptornya. Jadi, 9 Desember yang sejatinya hari Anti Korupsi sedunia, di Indonesia telah diliburkan untuk memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih calon koruptor. Indonesia memang anti mainstream, out of the box.
Namun ada juga calon koruptor yang tumbang diduga kena Covid-19 saat hari pencoblosan. Calon Bupati Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Malkan Amin dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Wahidin Sudirohusodo, Makassar, pada Rabu (9/12/2020), tepat saat hari H Pilkada.
Entahlah, apakah Cakada lainnya akan tumbang mengikuti jejak calon di Barru ini. Yang jelas, siapapun yang terpilih dipastikan akan menjadi calon koruptor.
Saya, sekali lagi tidak bertanggungjawab atas korupsi yang dilakukan oleh semua koruptor di negeri ini. Karena saya tak memilih mereka dan memberikan kesempatan mereka untuk berkuasa dan korupsi. Semua ulah dan tanggung jawab yang memilih, baik di Pemilu, Pilkada maupun Pilpres.
Saya bersih, dunia akhirat atas tanggung jawab menjadikan orang berkuasa dan korupsi. Sekarang, anda yang terlibat dalam pilihan itu, silahkan bertanggungjawab.
Tak perlu menyalahkan yang golput, karena siapapun yang dipilih pasti akan jadi calon koruptor. Sehingga, Anda tak punya hak menyalahkan pilihan golput. Justru, anda yang terlibat dalam demokrasi bertanggungjawab penuh atas semua korupsi di negeri ini.
Saya telah menawarkan, jalan kekuasaan menuju kedaulatan Islam, kedaulatan Allah SWT, dengan mencontoh perjuangan Rasulullah Saw. Bukan meniru montesqueu, bukan ittiba' pada JJ Roesou atau taklid buta pada John Locke. Kalian, justru bangga menjadi pengekor demokrasi.
Sementara, saat diminta ikut Nabi, meneladani perjuangan Nabi Saw, kalian tuding utopia, kelamaan, tidak relevan, tidak kekinian, dll. Akhirnya, kalian mengikuti demokrasi seperti mengikuti Yahudi dan Nasrani. Saat demokrasi masuk lubang biawak, kalian pun masuk perangkap.
Ya, akhirnya tak relevan partai Islam maupun non Islam. Tak ada beda kepala daerah dari kelompok Islam maupun non Islam. Semuanya tunduk pada demokrasi, dan semuanya korupsi.
Kalian boleh ngotot dengan demokrasi, asal kalian siap menanggung dosa dan azabnya di dunia. Saya, akan tetap ngotot dengan Islam, dengan syariat Islam, dengan Khilafah. Kasihan, umat ini jika semua digiring ke lobang biawak demokrasi.
Saya ingin, umat ini meneladani Rasulullah Saw. Memperjuangkan Islam dengan dakwah, bersama Umat, hingga Allah SWT turunkan pertolongan dan tegak daulah Islam. Saat Khilafah tegak, saya akan istighfar dan memuji Allah SWT, sebab Allah SWT lah asal mula dari segala kemenangan. [].

0 Komentar