IRAN DAN INDONESIA: DUA WAJAH KEMANDIRIAN


Oleh: Diaz
Jurnalis Lepas

Selama lebih dari empat dekade, Iran hidup dalam tekanan. Sanksi ekonomi dari Amerika Serikat dan sekutunya memutus negeri itu dari sistem keuangan global, membatasi akses teknologinya, bahkan menekan sektor energinya. Namun Iran tidak runtuh. Ia justru memproduksi apa yang tidak bisa diimpor, membangun apa yang tidak bisa diakses, dan bertahan dalam keterbatasan yang sistemik. Kemandirian dalam konteks ini bukan pilihan, melainkan konsekuensi. Tetapi ketahanan itu datang dengan biaya: inflasi tinggi, depresiasi mata uang, dan tekanan pada daya beli masyarakat. Satu realitas, dua wajah: kekuatan sekaligus beban.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Negara tanpa tekanan, tanpa isolasi, dengan akses penuh ke pasar global. Apakah kita sedang membangun kapasitas atau sekadar memperhalus ketergantungan? Karena tidak seperti Iran, kita tidak dipaksa untuk mandiri. Kita memilih. Dan jika suatu saat tekanan itu benar-benar datang, apakah pondasi kita cukup untuk bertahan atau justru akan mengungkap sesuatu yang selama ini tidak kita sadari? Jika kemandirian bisa dibangun tanpa krisis, maka pertanyaannya bukan lagi “mungkinkah?” melainkan “seperti apa bentuknya?” dan “apakah kita sudah mulai?

Diskusi yang menghadirkan Prof. Fahmi Amhar (pakar sains dan teknologi) serta Ustaz Ismail Yusanto (pakar ideologi) di channel UIY Official mengupas tuntas perbandingan ini. Iran dengan segala keterbatasannya justru melesat di bidang teknologi strategis, sementara Indonesia dengan segala kelimpahannya masih terhuyung dalam pusaran impor dan ketergantungan. Apa rahasianya?


Iran Terpaksa Mandiri vs Indonesia Memilih Bergantung

Presiden Iran Ahmadinejad pernah berkata bahwa berkah utama bagi Iran bukanlah revolusi atau ideologi, melainkan embargo. Pernyataan yang kontraintuitif ini ternyata berdasar pada kenyataan. Embargo memaksa Iran untuk tidak bisa membeli. Ia harus membuat sendiri. Hasilnya, dalam 46 tahun, Iran menguasai teknologi rudal hipersonik (kecepatan 16 Mach), drone canggih, teknologi nuklir, serta sistem pertahanan siber yang mandiri. Mereka bahkan mampu menutup akses internet nasional kapan saja, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan jika infrastruktur digitalnya dikuasai Google atau Starlink.

Prof. Fahmi Amhar menyebutkan tujuh prasyarat utama yang membuat embargo justru mempercepat kemandirian Iran. Pertama, visi jangka panjang yang setia dijalankan selama 46 tahun. Kedua, ekosistem sains dan teknologi yang terintegrasi antara universitas, lembaga riset, industri, dan pemerintah. Ketiga, investasi besar pada sumber daya manusia (pendidikan hingga S3 gratis atau sangat murah). Keempat, penguasaan teknologi dasar (material, elektronik, komputasi). Kelima, infrastruktur riset nasional yang terus berjalan. Keenam, hubungan erat antara teknologi sipil dan militer (militer tidak hobi impor, tetapi bertanya ke peneliti: “Bisa bikin ini?”). Ketujuh, basis industri domestik yang tidak manja, yang mampu menyerap inovasi, seperti mobil merek lokal Khodro yang merupakan hasil reverse engineering.

Indonesia tidak pernah mengalami embargo seperti Iran. Akses ke pasar global terbuka lebar. Namun justru di situlah letak masalah. Kemudahan impor membuat kita malas membuat sendiri. Prof. Fahmi mengungkapkan bahwa anggaran riset nasional Indonesia hanya setara dengan lima hari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bandingkan dengan Iran yang meski tertekan, tetap mengalokasikan sumber daya besar untuk riset strategis.

Ekosistem ilmu pengetahuan di Indonesia masih terfragmentasi. Riset lebih banyak berhenti pada publikasi Scopus, bukan pada produk nyata. “Riset tentang satelit banyak, tapi kita tidak pernah bikin satelit. Riset tentang roket sudah 50 tahun, jaraknya masih 30 kilometer,” kata Prof. Fahmi. Ironisnya, para peneliti yang seharusnya menjadi ujung tombak kemandirian teknologi, banyak yang beralih profesi menjadi pedagang karena imbalan yang tidak memadai.

Sementara itu, industri dalam negeri cenderung “manja”. Mereka lebih suka mengimpor daripada mengembangkan sendiri. “Bahkan kadang mereka bertanya, ‘Cina sudah bikin belum? Kalau sudah, kita tidak usah bikin karena pasti lebih murah,’” tambahnya. Akibatnya, Indonesia tidak memiliki merek teknologi global. Ekspor teknologi kita hampir tidak ada. Yang dikenal dunia hanyalah Indomie, produk dengan teknologi usang dari Jepang 60 tahun lalu.


Mengapa Iran Berhasil dan Indonesia Tidak?


Dari tabel di atas, tampak perbedaan mendasar. Iran memiliki alasan yang kuat (strong why) untuk bertahan dan berjuang. Ideologi Islam yang mereka yakini memberikan jawaban atas pertanyaan: “Untuk apa saya berkorban? Untuk apa saya melakukan riset?” Jawabannya: untuk jihad, untuk dakwah, untuk membela Islam, untuk kemerdekaan dari hegemoni Barat. Alasan ini melahirkan semangat pengorbanan yang luar biasa, termasuk ketika rakyat Iran rela menjadi tameng hidup untuk melindungi fasilitas nuklir mereka.

Sebaliknya, Indonesia kehilangan alasan itu. Kita tidak memiliki strong why yang membangkitkan semangat pengorbanan. Ustaz Ismail Yusanto menegaskan bahwa Pancasila yang digembeorkan sebagai ideologi yang kita anut (dengan segala interpretasinya yang cair) tidak mampu memberikan arah yang tegas. Akibatnya, pemimpin cenderung pragmatis, rakyat kehilangan teladan, dan semua orang sibuk dengan urusan materialistis dan hedonistis. “Kalau saya harus berkorban, berkorban untuk siapa? Untuk apa?” tanya Ustaz Ismail. Pertanyaan itu tidak terjawab.


Solusi dalam Perspektif Islam: Kembali pada Ideologi yang Kuat

Akar masalah ketergantungan Indonesia bukan pada kurangnya sumber daya atau teknologi, tetapi pada tidak adanya alasan ideologis yang kuat untuk membangun kemandirian. Iran membuktikan bahwa ideologi (meskipun versi Syiah yang berbeda dengan Sunni) mampu menggerakkan seluruh sumber daya bangsa untuk bertahan dan maju di tengah tekanan. Islam versi Sunni yang kita yakini sebenarnya memiliki potensi yang jauh lebih besar karena kesempurnaan ajarannya. Namun kita tidak mengoptimalkannya.

Solusinya adalah mengembalikan Islam sebagai ideologi negara yang hidup, bukan sekadar seremoni ritual. Islam harus menjadi fondasi kebijakan publik, termasuk kebijakan riset, pendidikan, dan pertahanan. Sebagaimana firman Allah ï·»:

ÙˆَÙ„َا تَÙ‡ِÙ†ُÙˆْا ÙˆَÙ„َا تَØ­ْزَÙ†ُÙˆْا ÙˆَاَÙ†ْتُÙ…ُ الْاَعْÙ„َÙˆْÙ†َ اِÙ†ْ ÙƒُÙ†ْتُÙ…ْ Ù…ُّؤْÙ…ِÙ†ِÙŠْÙ†َ
Dan janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)

Ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan dan kekuatan hanya akan diraih jika keimanan benar-benar dihayati dan diimplementasikan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam membangun kemandirian teknologi.

Tujuh prasyarat yang disebut Prof. Fahmi dapat diadopsi dengan landasan Islam:
  • Visi jangka panjang harus ditetapkan berdasarkan syariat, bukan berdasarkan masa jabatan presiden. Negara harus memiliki komitmen lintas rezim untuk mencapai kemandirian teknologi.
  • Ekosistem sains terintegrasi harus dibangun dengan menjadikan riset sebagai ibadah dan jihad. Universitas, lembaga riset, industri, dan pemerintah harus bersinergi di bawah komando yang jelas.
  • Investasi SDM harus menjadi prioritas utama. Pendidikan tinggi gratis untuk bidang-bidang strategis adalah keniscayaan. Anggaran riset harus dinaikkan drastis, tidak hanya sebanyak anggaran 5 hari MBG.
  • Penguasaan teknologi dasar seperti semikonduktor, AI, bioteknologi, energi, dan ruang angkasa harus menjadi program nasional yang didanai penuh.
  • Infrastruktur riset harus dibangun secara konsisten, termasuk pusat data nasional yang mandiri, tidak bergantung pada Google atau Amazon.
  • Sinergi sipil-militer harus diperkuat. Kebutuhan alat utama sistem pertahanan harus diarahkan ke industri dalam negeri, bukan impor. Prinsip reverse engineering dan inovasi mandiri harus digalakkan.
  • Industri domestik tidak boleh dimanjakan. Proteksi terukur diperlukan agar produk lokal berkembang. Kebijakan impor harus dikurangi secara bertahap.

Sektor teknologi yang paling menentukan kedaulatan abad ke-21 adalah semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, bioteknologi, energi alternatif (geotermal, torium), dan teknologi ruang angkasa. Indonesia harus memilih kluster prioritas berdasarkan keunggulan nasional: agroindustri tropis, mineral kritis, teknologi maritim, kesehatan tropis, dan teknologi kebencanaan. Namun semua itu hanya mungkin jika ada kemauan politik yang didasari ideologi yang kuat.

Pada akhirnya, semua solusi di atas akan berjalan optimal jika sistem yang diterapkan adalah khilafah, sistem kepemimpinan Islam yang menyatukan umat, menjadikan syariat sebagai sumber kebijakan, dan tidak pernah tunduk pada hegemoni asing. Sejarah membuktikan bahwa pada masa khilafah, peradaban Islam menguasai teknologi, ekonomi, dan militer selama berabad-abad. Kemandirian bukanlah mimpi, melainkan realitas yang pernah diwujudkan.

Rasulullah ï·º bersabda:

ÙŠٰٓاَÙŠُّÙ‡َا الَّذِÙŠْÙ†َ اٰÙ…َÙ†ُÙˆْٓا اِÙ†ْ تَÙ†ْصُرُوا اللّٰÙ‡َ ÙŠَÙ†ْصُرْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙŠُØ«َبِّتْ اَÙ‚ْدَامَÙƒُÙ…ْ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Janji ini bersyarat: kita harus benar-benar menolong agama Allah dengan mengembalikan Islam sebagai way of life, termasuk dalam membangun kemandirian bangsa.


Dua Jalan, Satu Pilihan

Iran memilih jalan sulit: bertahan di bawah embargo dengan ideologi sebagai perekat. Hasilnya, mereka menjadi negara yang disegani, bahkan oleh Amerika sekalipun. Indonesia memilih jalan mudah: menikmati akses global tanpa tekanan, tetapi justru terperangkap dalam ketergantungan yang halus dan sistemik.

Perbandingan bukan untuk merendahkan, tetapi untuk membuka mata. Karena pada akhirnya, kemandirian sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa besar sumber daya alamnya, tetapi dari seberapa kuat ideologinya, seberapa konsisten visinya, dan seberapa besar keberaniannya untuk tidak tunduk pada kekuatan mana pun selain kepada Allah ï·».

Maka, sebagai Muslim yang mengimani kesempurnaan Islam, pilihan sudah jelas. Kembalikan Islam ke poros kehidupan. Jadikan ia sebagai strong why yang membangkitkan semangat jihad ilmu, jihad teknologi, dan jihad kemandirian. Karena hanya dengan itulah Indonesia akan benar-benar merdeka, merdeka dari ketergantungan, merdeka dari tekanan, dan merdeka untuk menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia.

Wallahu’alam bish-shawwab.

Posting Komentar

0 Komentar