KEKUATAN ADA PADA PERSATUAN UMAT


Oleh: Azhar Nasywa
Penulis Lepas

Beberapa waktu terakhir, dunia kembali menyoroti ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Banyak orang mengira hasilnya sudah bisa ditebak, negara besar akan menang, sedangkan negara kecil akan kalah. Namun, ternyata tidak sesederhana itu. Peristiwa ini justru membuka mata bahwa kekuatan besar yang selama ini terlihat “tak tersentuh” tidak selalu mampu menundukkan lawannya dengan mudah.

Iran, sebagai satu negara Muslim, mampu bertahan menghadapi tekanan dari Amerika dan sekutunya. Bahkan, dalam beberapa laporan, Iran mengklaim berhasil mendorong kesepakatan gencatan senjata dengan sejumlah poin yang diajukan (Detik, 08/042026). Terlepas dari siapa yang merasa menang, satu hal menjadi jelas: keberanian untuk melawan itu nyata, bukan sekadar wacana.

Menariknya, Amerika juga tidak sepenuhnya berhasil mengajak semua sekutunya untuk ikut terlibat secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa dalam politik global, tidak ada hubungan yang benar-benar tetap. Semua berjalan atas dasar kepentingan. Hari ini bisa bersama, besok bisa saja berlawanan arah.

Di sisi lain, ada hal yang cukup menyakitkan. Sebagian penguasa di negeri-negeri Muslim justru memilih dekat dengan kekuatan besar tersebut. Mereka tidak berdiri bersama umat, tetapi ikut dalam arus kepentingan global. Akibatnya, umat Islam semakin terlihat terpecah dan sulit menjadi satu kekuatan yang utuh.

Dari sini terlihat dua hal penting. Pertama, negara besar seperti Amerika dan sekutunya tidak selalu sekuat yang dibayangkan. Kedua, kelemahan umat Islam justru sering datang dari dalam, yaitu perpecahan.

Padahal, umat Islam memiliki potensi besar. Jumlahnya banyak, sumber dayanya melimpah, dan tersebar di berbagai wilayah strategis dunia. Namun, potensi itu belum menjadi kekuatan karena tidak ada kesatuan arah. Masing-masing berjalan sendiri, bahkan kadang saling bertentangan.

Di sinilah pentingnya kita mulai berpikir lebih dalam. Persatuan bukan sekadar slogan, tetapi kebutuhan. Tanpa persatuan, umat akan terus berada dalam posisi lemah, mudah ditekan, dan sulit membela dirinya sendiri. Rasulullah ï·º bersabda bahwa kaum mukmin itu seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, kekuatan umat lahir dari kebersamaan, bukan dari jalan sendiri-sendiri.

Islam sebenarnya sudah memberi arah yang jelas tentang pentingnya kesatuan. Bukan hanya sekadar kerja sama, tetapi persatuan yang menyatukan kekuatan umat di bawah satu kepemimpinan. Dengan begitu, potensi yang selama ini tersebar dapat dikumpulkan dan diarahkan untuk kebaikan bersama.

Ketika umat memiliki satu visi dan satu arah, kekuatan itu akan terasa. Bukan hanya untuk melindungi diri, tetapi juga untuk menghentikan berbagai kezaliman yang terjadi. Dunia tidak lagi melihat umat Islam sebagai pihak yang lemah, melainkan sebagai kekuatan yang memiliki posisi dan pengaruh.

Konflik AS-Iran ini memberi pelajaran sederhana, tetapi penting. Jika satu negeri saja bisa bertahan, apalagi jika banyak negeri Muslim bersatu. Bukan tidak mungkin, keseimbangan kekuatan dunia akan berubah.

Karena itu, sudah saatnya umat tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika global. Kita perlu membangun kesadaran bahwa persatuan bukan sesuatu yang jauh, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan bersama. Sebab, pada akhirnya, kekuatan umat tidak lahir dari jumlah semata, tetapi dari kesatuan yang nyata.

Posting Komentar

0 Komentar