
Oleh: Kurnia Dewi
Penulis Lepas
Perang antara AS-Zionis dan Iran masih menjadi sorotan tajam dunia. Bagaimana tidak? Imbas peperangan ini memengaruhi stabilitas ekonomi dan politik banyak negara. AS, sebagai negara adidaya, menggunakan pengaruhnya agar negara-negara (terutama dari benua Eropa dan Asia) mendukung langkahnya untuk menghancurkan Iran (sang mantan anak buah) demi memperoleh kepentingannya, yaitu memastikan eksistensi negara Israel tetap aman tanpa hambatan di jantung Timur Tengah, Syam.
Dengan Zionis yang menancap di sana, AS akan lebih mudah menghambat pemikiran Islam agar tidak lagi tegak sebagai sebuah negara yang mampu mengancam eksistensinya. Iran memang tidak membela Islam; ia hanya membela negaranya sendiri. AS meyakini bahwa Iran adalah salah satu pemasok senjata bagi Hamas di Gaza, Palestina, yang sedang berjuang melawan penjajahan Zionis. Inilah alasan AS menyerang Iran. Nantinya, yang akan menghancurkan AS adalah negara ideologis yang menjadi negara adidaya selanjutnya.
Spesifikasi Negara Adidaya
AS merupakan negara ideologis. Setiap negara ideologis berpeluang menjadi negara adidaya. Karakteristik negara ideologis berdasarkan kitab Mafahim Siyasiyah yang ditulis oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah sebagai berikut:
- Merupakan negara pengemban ideologi. Negara ideologis senantiasa menjadikan aktivitas luar negerinya diarahkan untuk menyebarkan ideologinya ke seluruh dunia sehingga mereka berada di bawah sistem yang dianut oleh ideologi tersebut.
- Memiliki kemandirian ideologi dan politik. Negara ideologis bukanlah negara tabi' (negara pengikut karena aliansi atau kepentingan) maupun sajid (pengekor) yang tunduk total bak pelayan tanpa independensi. Negara ideologis memiliki kedaulatan penuh atas keputusan apa pun yang dibuat tanpa tekanan dari pihak asing, tidak peduli sekuat apa pun negara tersebut.
- Keberadaannya menjadi pusat pengaruh internasional. Negara ideologis merupakan negara yang menjadi pemimpin dunia, mampu memengaruhi negara-negara lain, bahkan memetakan perpolitikan global menggunakan ideologinya.
- Militer dan ekonomi masif. Kekuatan fisik (militer) dan ekonomi yang kuat mendukung eksistensi negara ideologis. Kekuatan ini saling menopang satu sama lain dan hanya bisa diwujudkan melalui tatanan yang tepat sesuai ideologi yang diemban.
- Penentu agenda global. Negara ideologis senantiasa mampu menciptakan ra'yul 'amm (opini umum internasional) untuk diikuti oleh negara-negara lain.
Tidak dipungkiri, AS memiliki kelima karakter negara ideologis di atas yang menjadikannya sebagai negara adidaya. Sayangnya, ideologi AS adalah kapitalisme yang tidak memiliki standar halal dan haram, sehingga menjadikan AS sebagai negara bengis penjajah. Kapitalisme adalah ideologi yang menuhankan materi, yang terbiasa menciptakan berbagai agenda jahat demi memperoleh materi tersebut.
Untuk itu, perlu diwujudkan negara ideologis yang sahih (shahih) yang mampu melengserkan kapitalisme dan negara pengembannya dari kedudukan negara adidaya, sehingga mampu menciptakan tatanan dunia baru yang cemerlang.
Negara Berideologi Islam Memenuhi Karakteristik Negara Adidaya
Kedudukan Islam bukan hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai sebuah ideologi yang sahih, karena Islam memiliki seperangkat kebijakan lengkap yang mengatur hubungan individu dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam semesta dengan pengaturan yang benar, sebab aturan tersebut datangnya dari Allah ï·». Berikut karakter ideologi Islam yang memenuhi kelima poin acuan di atas:
- Poin 1: Hubungan internasional Islam bertujuan pada penyebaran dakwah Islam dan jihad fisabilillah (perang melawan negara kafir harbi fi'lan yang merintangi tegaknya maupun eksistensi negara Islam).
- Poin 2: Negara Islam tidak akan terpengaruh oleh pemikiran ideologi lain yang notabene bertentangan dengan syariat Islam, sebesar apa pun tekanannya. Rasulullah sebagai kepala negara tidak pernah tunduk pada tekanan Romawi sebagai adidaya saat itu dan memutuskan untuk memerangi mereka pada Perang Mu'tah. Khalifah Umar memerangi Romawi dan membuat mereka kehilangan wilayah Suriah dan Palestina dengan perbandingan kekuatan 15.000–40.000 pasukan muslim versus 100.000–200.000 pasukan Romawi.
- Poin 3: Semasa daulah Islam tegak, ia menjadi pusat peradaban internasional dari segala aspek. Negara Islam juga berdiri sebagai pelindung rakyatnya di mana pun mereka berada. Tidak hanya itu, negara Islam juga bertugas melindungi rakyat negara kafir yang negaranya tunduk kepada mereka. Allah ï·» berfirman: "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8)
- Poin 4: Terbukti kekuatan militer dan ekonomi Islam membawa daulah Islam tegak sebagai sebuah negara yang menguasai dua per tiga dunia. Hal ini menjadikan negara Islam sebagai negara maju, kuat, dan kaya melalui pengaturan yang sahih dari Allah ï·» selama hampir 14 abad lamanya.
- Poin 5: Negara Islam bertugas memutus dominasi negara asing yang menciptakan kericuhan serta menyebarnya kemaksiatan dan kezaliman, seperti mengganti mata uang kertas yang lemah dengan emas, serta melindungi umat manusia dari penjajahan. Intinya, negara Islam adalah negara yang didesain sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Bantuan dari negara Islam tidak berfokus pada kepentingan materi, melainkan pada kepentingan dakwah untuk menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia.
Bagaimana dengan komunisme? Jika komunisme berdiri sebagai negara ideologis, ia akan menjadi negara dengan sistem yang fasad (rusak), sama halnya dengan kapitalisme, sebab pemikirannya tidak sesuai dengan fitrah manusia. Fitrah manusia memiliki naluri tadayyun (beragama) berdasarkan surah Ar-Rum [30]: 30. Sedangkan komunisme tidak mengakui adanya Pencipta dan mengalihkan naluri beragama pengikutnya kepada makhluk-Nya maupun ciptaan manusia sendiri, yang akhirnya menimbulkan kekacauan pemikiran dan kesalahan dalam pengambilan kebijakan.
Baik kapitalisme maupun komunisme memiliki karakter yang rusak dan tidak sesuai dengan fitrah manusia. Maka, kedua ideologi ini beserta peranakannya tidak boleh berdiri sebagai sebuah negara adidaya. Negara adidaya hanya boleh dipangku oleh negara dengan ideologi yang sahih yang memuliakan manusia.
Sudah saatnya umat Islam sadar akan potensi ideologi Islam dan menyebarkan hal ini hingga menjadi opini umum yang membangkitkan keinginan agar ditegakkan kembali negara berideologi Islam.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar