
Oleh: Shabrina Maharani P.
Santriwati PPTQ Darul Bayan Sumedang
Pernahkah membayangkan sebuah negara yang dianggap paling kuat di dunia, tiba-tiba berada di ambang kebangkrutan? Itulah yang terjadi di Amerika Serikat (AS) pada Maret 2026. Berita ini sungguh mengejutkan. Jutaan orang turun ke jalan dalam aksi besar-besaran bernama “No Kings”. Mereka berdemonstrasi di 3.300 titik di seluruh Amerika, mengekspresikan kelelahan atas kondisi yang terjadi (Detik, 30/03/2026).
Masalah Utang Negara
Apa penyebabnya? Utang negara AS menembus angka yang fantastis: US$ 39 triliun, atau sekitar Rp 661.440 triliun. Jika beban utang ini dibagi rata ke seluruh penduduk AS, termasuk bayi yang baru lahir, setiap orang “memiliki” utang sekitar Rp 1,93 miliar (Kumparan, 30/03/2026).
Bagaimana negara sekaya AS bisa mendekati kebangkrutan? Penyebab utamanya adalah ambisi para penguasa, termasuk Donald Trump, yang gemar mengutamakan kekuatan militer. Uang rakyat yang seharusnya dialokasikan untuk pendidikan dan kesehatan justru habis untuk membeli senjata dan mendukung Israel dalam penindasan terhadap Palestina. Belum lagi keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran bersama sekutu-sekutunya.
Gaya hidup kapitalis ini memang membuat AS terlihat kuat di mata dunia, tetapi sistemnya rapuh di dalam. Negara rela berutang besar demi mempertahankan gaya hidup dan kekuasaan, sementara rakyat menjadi korban. Sedihnya, banyak pemimpin di negeri-negeri Muslim masih mengikuti jejak AS, padahal sistem yang dibawa justru menuju kehancuran. Sistem ini hanya membuat masyarakat menjadi korban adu domba demi kepentingan segelintir pihak.
Perspektif Islam tentang Negara
Dalam Islam, negara bukan sekadar pengatur angka-angka ekonomi atau penyelenggara proyek militer. Negara adalah penjaga jiwa, pelindung harta, dan penjamin kesejahteraan rakyat. Islam tidak menunggu kehancuran terjadi untuk bertindak, tetapi menutup jalan kerusakan sebelum kerusakan itu muncul.
Oleh karena itu, upaya menyadarkan umat tentang politik Islam dan kepemimpinan Islam di bawah naungan Khilafah sangat penting dan harus terus digerakkan. Dalam sistem Islam, keamanan dan keadilan bukan barang mewah yang hanya bisa dinikmati orang kaya. Negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat terpenuhi tanpa membebani mereka dengan utang.
Khilafah hadir untuk mengganti tatanan dunia yang rusak dengan sistem syariah yang penuh kesejahteraan. Dalam Islam, penguasa bertindak sebagai ra’in (pengurus rakyat). Jika ada rakyat yang kelaparan atau tertindas, penguasa akan menjadi pihak pertama yang dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Islam menegakkan keadilan, tidak hanya untuk menghukum yang bersalah, tetapi juga untuk mencegah kedzaliman. Dengan sistem ini, masyarakat, terutama generasi mendatang, dapat hidup aman, adil, dan sejahtera.
Kerusakan sistem buatan manusia saat ini menunjukkan urgensi dakwah untuk mengubah cara berpikir masyarakat. Dakwah ini menyadarkan kita bahwa satu-satunya sistem yang benar-benar adil, mampu mencegah kejahatan, dan menyejahterakan rakyat secara menyeluruh hanyalah syariah Islam yang diterapkan secara kaffah.
Wallahu a’lam bissawab.

0 Komentar