BARAT MEMBUNGKAM PERLAWANAN RAKYAT GAZA


Oleh: Irma Hidayati, S.Pd
Pegiat Dakwah

Kebahagiaan setelah merayakan Hari Raya Idulfitri masih belum sempurna. Warga Gaza masih dibayang-bayangi serangan Israel. Meskipun gencatan senjata diumumkan, zionis tetap membantai warga Gaza. Sungguh, nestapa umat Islam di dunia belum sirna, khususnya bagi warga Gaza. Mereka berjuang sendiri tanpa ada kekuatan besar yang mampu menandingi kekejaman zionis. Pejuang Hamas senantiasa menjaga tanah Palestina. Mereka syahid dengan mulia karena mempertahankan negerinya.

AS dan Israel kewalahan menghadapi perlawanan Hamas. Biaya perang telah banyak dikeluarkan, tetapi belum mampu mengusir seluruh warga Gaza. Kemudian, mereka menggunakan taktik gencatan senjata dan lobi politik untuk menciptakan perdamaian.

Setelah gencatan senjata yang diumumkan oleh zionis, Barat mengajukan syarat kepada Hamas untuk melucuti senjatanya. Ini merupakan agenda kejam berupa demiliterisasi terhadap pejuang Palestina. Dewan perdamaian yang digawangi oleh Presiden Trump menargetkan pelucutan senjata Hamas dilakukan paling lambat akhir pekan ini. Mereka menjadikan hal tersebut sebagai syarat dalam rencana perdamaian di Gaza. Sungguh tidak layak hal itu dilakukan. Gambaran perdamaian yang hendak diciptakan merupakan versi kafir Barat. Seakan-akan warga Gaza adalah pembuat onar, padahal merekalah yang berhak atas tanah Palestina.

Pelucutan senjata Hamas merupakan tindakan represif terhadap Hamas. Sementara itu, di pihak zionis, agresi brutal tetap dilakukan. Sungguh, ketidakadilan kembali terjadi. Barat akan mengerahkan segala upaya agar kepentingannya untuk menguasai Palestina terwujud.

Tentunya, Hamas menolak syarat perdamaian tersebut. Hal itu merupakan ancaman terhadap keberadaan Hamas sebagai penjaga Palestina sekaligus terhadap perjuangannya. Sebaliknya, Hamas meminta dunia bertindak tegas atas pelanggaran gencatan senjata. Zionis tetap melakukan serangan meskipun gencatan senjata telah disepakati. Zionis terus melancarkan penyerangan hingga menewaskan warga sipil sampai bulan ini.


Akal-Akalan AS-Israel

Untuk menutupi ketidakmampuan menghadapi pejuang Hamas, Trump kemudian mendirikan dewan perdamaian. BoP yang diharapkan menjadi jembatan agar tercipta perdamaian. Namun, faktanya, BoP hanyalah jebakan kapitalisme global yang condong pada kepentingan Barat dan zionis. BoP bukan mediator yang netral, melainkan perpanjangan tangan entitas zionis yang dilindungi AS.


Kesombongan dan Kelaliman Kapitalisme

Berulang kali Presiden Trump memaksakan kehendaknya kepada sejumlah negara, mengendalikan kebijakan dalam negeri mereka, dan mengontrol politik luar negeri mereka. Semua negara harus tunduk pada hegemoninya. Termasuk pelucutan senjata, hal itu merupakan upaya Barat yang dipimpin AS untuk menghentikan perjuangan perlawanan rakyat Gaza melalui jihad.

Kepongahan AS selama ini seolah tanpa tanding. Namun, semenjak penyerangan terhadap Iran, tajinya melemah. Momen istimewa ini seharusnya dimanfaatkan oleh seluruh umat Islam di dunia. Umat perlu menyadari bahwa kekuatan AS tidak sekuat yang dibayangkan. Mereka takluk oleh manuver strategi perang Iran. Pada akhirnya, mereka mengumumkan gencatan senjata. Namun, lagi-lagi sekutu AS, yaitu zionis, melanggar gencatan senjata dengan tetap menyerang Lebanon. Saat ini, tidak ada pelindung bagi umat Islam. Umat dibuat tidak berdaya oleh berbagai taktik Barat agar mereka diam seribu bahasa ketika menyaksikan saudara-saudaranya dibantai.

Pelucutan senjata Hamas juga merupakan bagian dari serangan pemikiran Barat. Mereka ingin mengubah cara pandang umat agar menganggap perlawanan sebagai ancaman, sedangkan penyerahan senjata dianggap sebagai jalan damai.

Umat dipalingkan dari jihad fi sabilillah. Padahal, betapa mulianya ketika seorang Muslim mengorbankan nyawa, harta, dan pikiran demi agama serta tanah kaum Muslimin. Inilah ajaran Islam yang hendak dimutilasi.


Islam Solusi Terbaik bagi Warga Gaza

Islam adalah ajaran luhur yang sempurna dan paripurna karena berasal dari Sang Pencipta manusia. Solusi bagi Gaza bukanlah diplomasi, melainkan Khilafah, yaitu kepemimpinan tunggal bagi seluruh umat Islam di dunia. Pemimpin yang akan melaksanakan tugas sesuai ajaran Al-Qur'an dan hadis Rasulullah ï·º, serta menjadikan syariat Islam sebagai tolok ukur seluruh kebijakan pemerintahannya. Termasuk dalam hal ini, bumi Palestina adalah darul Islam, wilayah yang dahulu dibebaskan dengan jihad oleh para pejuang Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Oleh karena itu, tanah itu wajib dibebaskan melalui kekuatan militer, bukan negosiasi.

Ketika AS tidak mampu menghentikan perlawanan warga Gaza, maka negosiasi dijadikan solusi. Di situlah lobi-lobi politik dilakukan agar pihak yang melawan mau tunduk pada syarat AS dan sekutunya.

Berbeda dengan sistem Islam, Khilafah akan menggerakkan kekuatan militer seluruh negeri Muslim untuk mengusir penjajah zionis dari bumi Palestina. Seluruh umat wajib bersatu di bawah Khilafah yang menjadi satu komando untuk mengusir penjajah beserta antek-anteknya.

Sebab, khalifah adalah raa'in dan junnah yang akan melindungi nyawa kaum Muslim. Umat akan terbebas dari bahaya dan cengkeraman ajaran yang menjauhkan mereka dari Islam, termasuk ideologi sekuler, kapitalisme, dan sosialisme.

Umat harus mawas diri. Umat juga harus disadarkan melalui dakwah ideologis, yakni dakwah yang menyeru kepada Islam kaffah, bukan sebatas ibadah ritual semata. Dakwah yang menyerukan pentingnya bersatu dan berjuang untuk menegakkan sistem Islam. Umat harus melek politik dan memahami urgensi Khilafah serta kewajiban memperjuangkannya. Dengan demikian, umat Islam akan bersama-sama merindukan hadirnya negara yang menerapkan sistem Islam di setiap lini kehidupan.

Wallahu a'lam bishshawab.

Posting Komentar

0 Komentar