GENERASI DALAM JERATAN NARKOBA


Oleh: Ika Fath
Penulis Lepas

Miris melihat kondisi generasi saat ini yang kian mengkhawatirkan. Pemuda yang sejatinya menjadi kebanggaan dan penerus bangsa justru terjerat kasus narkoba. Tidak dapat dimungkiri bahwa salah satu musuh utama generasi muda saat ini adalah narkoba. Keterlibatan sebagai pemakai, penyimpan, pengedar, bahkan bandar telah menjadi berita utama. Lalu, bagaimana nasib bangsa ke depan jika para pemudanya justru dirusak oleh narkoba?

Seperti kasus yang terjadi belakangan ini, seorang pelajar dari Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), ditangkap polisi saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumahnya. Polisi menemukan sabu dengan berat bruto 3,07 gram beserta barang bukti lainnya. (Detik, 02/04/2026)

Kasus serupa juga terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara. Seorang remaja ditangkap oleh Tim Operasional Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari pada dini hari, 30 Maret 2026. Pelaku menyimpan barang haram tersebut di berbagai tempat. Polisi mengamankan 31 paket sabu-sabu dengan berat 6,92 gram serta sejumlah barang bukti lainnya. Ia berperan sebagai pengedar sekaligus penyimpan. (RRI, 30/03/2026)


Potret Buruk Sistem Kapitalisme

Peristiwa pelajar yang terlibat dalam peredaran narkoba terus berulang, tetapi tidak tampak adanya upaya yang baik, baik secara preventif maupun intensif, dari pemerintah untuk mengusut kasus-kasus tersebut. Kasus pelajar sebagai pengguna narkoba, bahkan menjadi pengedarnya, bukan sekadar persoalan individu. Fenomena ini merupakan potret dari masalah sistemik yang jauh lebih kompleks. Karena itu, diperlukan langkah jangka panjang dan berani agar persoalan ini dapat diselesaikan hingga tuntas.

Jika dicermati, tumbuh suburnya kasus narkoba tidak lepas dari beberapa faktor. Pertama, ruang lingkup kehidupan sekuler. Dalam sistem sekuler kapitalisme, kehidupan dipisahkan dari nilai-nilai agama. Akibatnya, standar kebahagiaan tidak lagi berlandaskan nilai spiritual, melainkan pada materi, keuntungan, dan kepuasan instan.

Pelajar dan generasi muda yang berada dalam fase pencarian jati diri justru kehilangan arah karena tidak memiliki benteng nilai agama yang kuat. Akibatnya, ketika dihadapkan pada godaan kepuasan instan, seperti penggunaan narkoba atau peluang memperoleh uang secara cepat melalui peredaran barang haram, mereka mudah tergoda tanpa mempertimbangkan nilai moral dan agama. Hal ini berujung pada pengorbanan masa depan yang masih panjang.

Sistem kapitalisme yang menjunjung tinggi kebebasan individu juga cenderung mengabaikan penjagaan akal dan akhlak. Ditambah dengan arus digital yang tidak terbendung, pelajar dan remaja dengan mudah mengakses informasi tanpa filter. Konten negatif seperti pergaulan bebas, pamer kekayaan (flexing), dan gaya hidup konsumtif semakin memperbesar risiko penyimpangan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki dasar akidah yang kuat.

Kedua, faktor tekanan ekonomi. Kondisi keuangan yang dialami keluarga miskin serta paparan gaya hidup konsumtif dari media sosial semakin memperparah keadaan. Banyak pelajar akhirnya memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang secara cepat, salah satunya dengan menjadi pengedar narkoba.

Ketiga, sistem pendidikan di Indonesia dinilai masih lebih berfokus pada aspek akademik dan kurang memberi perhatian pada pembentukan karakter serta nilai-nilai moral. Akibatnya, banyak pelajar yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah secara emosional. Rendahnya kecerdasan emosional (EQ) membuat mereka kesulitan menghadapi tekanan hidup, memilih lingkungan pergaulan yang sehat, serta memahami konsekuensi jangka panjang dari setiap keputusan.

Keempat, penegakan hukum juga turut memperparah keadaan. Ketidaktegasan aparat dalam memberikan sanksi membuat pelaku kejahatan tidak jera. Akibatnya, peredaran dan penyalahgunaan narkoba terus berkembang dan membentuk lingkaran masalah yang sulit diputus.


Islam dan Potensi Pemuda

Islam memberikan perhatian besar terhadap potensi pemuda. Dalam sistem pendidikan Islam, generasi muda dibentuk menjadi pribadi yang saleh, berakhlak, dan memiliki kepribadian Islam, salah satunya dengan menjaga akal dari hal-hal yang merusak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ
Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Shahih al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan besarnya perhatian Islam terhadap pembinaan generasi muda, sekaligus menjelaskan keutamaan bagi pemuda yang tumbuh dalam ketaatan. Namun, untuk mewujudkan generasi muda yang taat, berakhlak baik, dan memiliki kecerdasan emosional, diperlukan sistem yang mendukung. Masalah ini tidak dapat diselesaikan dari satu sisi saja, melainkan memerlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara.

Keluarga sebagai lingkungan pertama memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai keislaman serta memberikan teladan yang baik. Masyarakat berperan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif melalui kontrol sosial dan penerapan amar makruf nahi mungkar. Sementara itu, negara bertanggung jawab menegakkan hukum secara tegas terhadap pelaku, baik pengguna maupun pengedar, agar menimbulkan efek jera.

Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah sistem kehidupan yang menyeluruh. Dalam pandangan Islam, pemuda adalah aset masa depan umat dan bangsa. Oleh karena itu, negara yang menerapkan sistem Islam akan memprioritaskan pembinaan generasi muda melalui lingkungan yang sehat, pengelolaan media yang mendidik, serta sistem pendidikan yang berorientasi pada pembentukan kepribadian Islam, baik fikrah maupun nafsiyah.

Selain itu, negara juga akan mengelola sumber daya alam secara adil untuk mengurangi kesenjangan ekonomi. Pendidikan dan pelayanan kesehatan disediakan secara gratis, serta lapangan pekerjaan diciptakan secara luas. Dengan demikian, generasi muda tidak terdorong untuk memilih jalan yang menyimpang, seperti menjadi pengedar narkoba, demi memenuhi kebutuhan hidup.

Wallahu a‘lam bissawab.

Posting Komentar

0 Komentar