ORANG ISLAM KOK MENISBATKAN KEBERUNTUNGAN KEPADA DEWI FORTUNA?


Oleh: Abd. Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama

Beberapa hari lalu, di salah satu media sosial, seseorang menyatakan bahwa usahanya tidak berhasil karena “dewi fortuna” tidak berpihak padanya. Menurutnya, keberuntungan ditentukan oleh sosok tersebut. Tak ayal, saya menanggapi bahwa yang menentukan keberuntungan atau nasib seseorang adalah Allah Ta’ala, bukan dewi fortuna.

Fenomena semacam ini ternyata masih sering terjadi di kalangan orang yang beragama Islam, yaitu sebuah keimanan yang bertentangan dengan aqidah Islam. Banyak umat Islam yang kurang memahami aqidah, sehingga mudah terpeleset ke dalam kesesatan. Sebagian masih percaya ada kekuatan atau sosok selain Allah yang mengatur nasib, keberuntungan, atau rezeki. Keimanan semacam ini jelas merusak tauhid, karena segala takdir, baik maupun buruk, hanya berasal dari Allah Ta’ala.


Siapa Dewi Fortuna?

Fortuna (dari bahasa Latin: Fortūna, sejajar dengan dewi Tyche dalam mitologi Yunani) merupakan dewi yang melambangkan keberuntungan dan perwujudan nasib baik dalam kepercayaan Romawi. Sosok Fortuna biasanya digambarkan memegang gubernaculum (kemudi kapal), berhubungan dengan Rota Fortunae (roda nasib), dan membawa cornucopia sebagai simbol kelimpahan (Wikipedia).

Masih banyak orang yang menisbatkan keberuntungan pada dewi fortuna. Misalnya, komentator olahraga yang menyebut dewi fortuna sebagai penentu kemenangan tim. Jika timnya kalah, mereka menyalahkan dewi fortuna. Na’udzubillahi min dzalik.

Dalam aqidah Islam, yang berkuasa memberikan manfaat dan keberuntungan hanyalah Allah Yang Maha Esa. Begitu pula yang berkuasa menimbulkan kemudaratan atau bahaya adalah Allah. Oleh karena itu, menggantungkan nasib pada selain Allah (baik itu dewi fortuna, jin, dukun, atau makhluk lain) merupakan syirik besar yang harus dijauhi setiap Muslim.

Jika Allah berkehendak memberikan keberuntungan, tidak ada yang dapat menolaknya. Sebaliknya, jika Allah berkehendak menghancurkan seseorang, tidak ada yang dapat menyelamatkannya. Allah ﷻ berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Jika Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; dan jika Dia memberikan kebaikan kepadamu, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-An’am: 17)

Dalam surat lain, Allah menegaskan:

وَاِنْ يَمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ اِلَّا هُوَۚ وَاِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِۗ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِۗ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ
"Jika Allah menimpakan mudarat kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; dan jika Dia menghendaki kebaikan, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Yunus: 107)


Apa itu Syirik?

Banyak orang tersesat karena belum memahami syirik. Tanpa sadar, aktivitas atau ibadah yang dilakukan melanggar tauhid. Definisi syirik menurut para ulama:

تسوية غير الله بالله فى شئ من خصائص الله
"Menyamakan selain Allah dengan Allah dalam segala sesuatu yang menjadi kekhususan Allah." (Ushul Iman fi Dhau’ al-Kitab wa as-Sunnah, hlm. 73; Risalah fi Ushul al-Aqidah, hlm. 51)


Hak Khusus Allah

Hak khusus Allah meliputi tiga aspek:
  • Rububiyah (perbuatan Allah): Allah menciptakan, mengatur alam, menguasai, mengabulkan doa, memberi rezeki, menetapkan hukum, dan lain-lain. Percaya ada makhluk lain yang melakukan hal-hal tersebut termasuk syirik, seperti meyakini dewi fortuna mampu mengatur keberuntungan.
  • Uluhiyah (hak disembah): Bentuk ibadah tidak terbatas pada shalat atau sujud, tetapi mencakup ibadah lahir dan batin, seperti doa, meminta pertolongan, nadzar, tawakkal, rasa takut atau cinta yang disertai pengagungan. Memberikan bentuk ibadah ini kepada selain Allah merupakan syirik besar.
  • Asma’ wa Shifat (Nama dan Sifat Allah): Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna, seperti Ar-Rabb, Ar-Rahman, Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Menyamakan makhluk, seperti kyai yang diklaim bisa melihat hal gaib atau mengetahui masa depan, dengan Allah adalah syirik karena menyamakan makhluk dengan sifat Allah.


Ancaman Dosa Syirik

Sobat Muslim!
Hati-hati agar aktivitas dan ibadah kita tidak termasuk kategori syirik. Dosa syirik sangat besar; seluruh amal yang pernah dilakukan terhapus jika pelakunya meninggal dalam keadaan syirik tanpa bertaubat. Allah ﷻ berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-An’am: 88)

Allah juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat dosa besar." (QS. An-Nisa:48)

Orang musyrik diharamkan masuk surga, dan tempat kembalinya adalah neraka. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka; tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun." (QS. Al-Ma'idah: 72)

Semoga Allah ﷻ senantiasa melindungi kita dari dosa terbesar dalam Islam, yaitu syirik.

Wallahu a'lam.

Posting Komentar

0 Komentar