AS VS IRAN: KETIDAKMUTLAKAN DOMINASI GLOBAL?


Oleh: Santi Susanti
Ibu Rumah Tangga

Perang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran membuka mata dunia bahwa dominasi global tidak bersifat mutlak.

Selama puluhan tahun, Amerika Serikat tampil sebagai kekuatan utama yang menentukan arah politik, ekonomi, dan militer global. Namun, Iran berhasil membuktikan bahwa sebuah negara yang berpegang teguh pada nilai Islam dan kedaulatan penuh mampu bertahan, bahkan memberikan perlawanan terhadap hegemoni tersebut.

Meskipun Amerika Serikat mengerahkan anggaran militer yang sangat besar, teknologi supercanggih, dan aliansi global, Iran mampu menghadapi semua itu hanya dengan modal utama: persatuan rakyat berdasarkan akidah dan keyakinan syahid.

Sejarah membuktikan bahwa bangsa yang berperang demi keyakinan tidak dapat dikalahkan hanya dengan bom dan sanksi. Semangat jihad dan konsep perlawanan terhadap kezaliman membuat rakyat Iran tidak mudah tunduk pada tekanan ekonomi maupun ancaman militer yang digaungkan Amerika Serikat dan para sekutunya.

Senjata utama Amerika Serikat untuk menundukkan negara yang menentang hegemoni, seperti Iran, adalah isolasi dari sistem keuangan global, SWIFT, dan perdagangan dolar selama puluhan tahun. Namun, dengan sistem ekonomi berbasis kemandirian, perdagangan menggunakan mata uang lokal, serta jaringan aliansi dengan negara-negara yang menolak dominasi dolar, Iran berhasil bertahan.

Fakta ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi Islam yang bebas dari riba dan dominasi dolar mampu menjadi tameng terhadap penjajahan ekonomi.

Iran tidak melawan Amerika Serikat secara konvensional. Perlawanan dilakukan melalui strategi asimetris, pengembangan drone, rudal presisi, dan jaringan perlawanan regional yang solid. Dengan strategi ini, Iran mampu memberikan pukulan balasan yang diperhitungkan oleh Washington.

Dunia menyaksikan bahwa perang modern tidak lagi ditentukan oleh jumlah kapal induk, tetapi oleh kesiapan untuk berkorban dan kecerdikan memanfaatkan kelemahan lawan.

Perang ini menunjukkan bahwa ketika umat Islam bersatu di bawah panji perlawanan terhadap kezaliman, kekuatan mereka dapat melampaui batas negara. Dukungan dari berbagai kelompok perlawanan di kawasan membuat Amerika tidak hanya menghadapi Iran, tetapi juga menghadapi ide besar perlawanan itu sendiri. Hegemoni global pun gentar, karena ide tidak dapat dibunuh.

Oleh karena itu, dominasi global hanya bisa runtuh ketika berhadapan dengan bangsa yang memiliki akidah, kemandirian, dan keberanian mati syahid. Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem hidup yang menyediakan bentuk perlawanan terhadap penindasan. Ketika umat kembali berpegang pada Islam secara total, dominasi adidaya bagaikan kertas yang mudah disobek.

Dengan demikian, hanya dengan penerapan sistem Islam, negeri-negeri Muslim yang menderita dan terjajah dapat terbebaskan.

Wallahu a'lam bishawab.

Posting Komentar

0 Komentar