BERBUAT KERUSAKAN NAMUN MERASA BERBUAT BAIK


Oleh: Alfi Ummuarifah

Pagi ini aku mengaji tentang manfaat sistem mata uang emas. Kajian kitab arab yang berkesan. Kitab arab sistem ekonomi islam yang dikarang seorang Mujtahid Mutlak pada masanya.

Salah satu keuntungannya yang didapatkan saat negara menerapkan sistem mata uang emas adalah stabilnya ekonomi negara karena bebas dari inflasi yang biasanya justru disebabkan oleh sistem ekonomi kapitalis.

Ya, saat sistem moneter keuangan dunia tidak menentu pasca dihentikannya sistem mata uang emas oleh negara Adidaya saat itu. Padahal sistem emas perak yang stabil ini sudah ada sejak ditemukannya hingga runtuhnya kekhilafahan islam tahun 1924 atau pasca perang dunia 1.

Sejak tahun 1914 hingga tahun 1971 kondisi perekonomian dunia masih tak menentu. Barulah sejak tahun 1971 sistem mata uang emas diganti berdasarkan sistem Baru yang berasaskan pada dolar.

Sejak saat itu emas dan perak tidak lagi menjadi standar keuangan dunia dalam seluruh transaksinya. Namun berganti dengan seluruh transaksi yang berbasis dolar. Muncullah lembaga IMF (Shunduq annaqdy adduwaliyyi).

Lembaga ini semacam lembaga penghutang uang untuk negara yang baru berdiri. Rentenir dunia yang menjerat negara mayoritas di hadapan negara adidaya dengan sejumlah cengkeramannya. Pinjaman modal berbasis dolar yang tentu tidak gratis. Negara kita juga tidak terlepas dari jeratannya hingga kini. No free lunch sahabat.

Saat itu negara di dunia ini berlari menuju masa kemundurannya. Kacau balau karena meninggalkan sistem emas perak. Masuk pada lingkaran setan ekonomi tambal sulam yang dihiasi inflasi, defisit anggaran negara, PHK, penimbunan barang, gaji buruh rendah hingga pencabutan subsidi negara hingga terhubung dengan gawean pesta Demokrasi yang terhubung pada kapital dan hegemoninya.

Semua adalah masalah yang timbul saat ekonomi tak lagi berbasis ekonomi emas dan perak yang stabil. Namun berbasis sistem baru yang rapuh dan rentan kolaps itu.

Sebagai contoh saat sebuah negara ingin mencetak uang kertas di negaranya. Dia harus punya back up Dolar. Tentu negara akan terbitkan Surat Utang negara. Lalu hutang negara pada negara lain yang bisa memberi utangan itu, akan menjerat negara itu untuk diintervensi kebijakannya.

Wajar jika negara itu tak bisa membayar utang berikut bunganya, jeratan berikutnya memerangkapnya. Utang negara akan membengkak dan akan menggunung seperti hari ini. Sebab saat pembayaran juga tentu harus dibayar dengan dolar yang tak stabil. Selisih konversi kurs dollar dan mata uang setempat membuat utang semakin membesar hingga sulit dilunasi dan mustahil dilunasi.

Ya itu karena transaksi apapun yang harus distandarisasi degan dolar saja. Dolar yang tidak stabil. Ini berbeda dengan emas sebagai standarnya. Sementara emas dan perak hanyalah sebatas komoditi menurut sistem ekonomi ini.

Nah, saat sistem dolar ini berlaku, kita kaum muslimin bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Tak bisa mendominasi kehidupan kita. Negara terjebak pada sistem rapuh rentan inflasi dan kolaps. Jika sudah begini, pengaturan atas masalah selesai di masalah lokal namun muncul masalah di sisi lainnya.

Berdasarkan hal ini, dapat kita simpulkan bahwa sistem ekonomi kapitalistik yang dibuat manusia, gagal menyelesaikan masalah manusia itu sendiri. Padahal Allah sudah membuatkan aturan ekonomi sesuai kebutuhan manusia dan tidak menimbulkan masalah bagi manusia. Seperti halnya sistem keuangan yang berbasis emas dan perak, bukan yang berbasis dolar.

Hal ini karena sifat fisik emas itu, menjadikan mekanisme keuangan menjadi stabil dan tahan goncangan. Sistem emas juga memastikan investasi tidak terpengaruh suasana perpolitikan hegemoni pemilik dolar dengan segala kepentingannya.

Demikianlah jika manusia mau mengambil pengaturan ekonominya dari sang pencipta bukan dari dirinya sendiri yang lemah dan serba kurang. Pengakuan kondisi lemahnya itu menunjukkan penghambaan dirinya yang memang lemah.

Pemberlakuan sistem ekonomi yang berbasis dolar itu cacat. Menimbulkan banyak masalah baru. Namun secara gamblang mereka mengatakan jika mereka itu sedang berbuat kebaikan untuk manusia.

Sebagaimana ayat berikut ini. Dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 11:

وَاِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُوۡا فِىۡ الۡاَرۡضِۙ قَالُوۡاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُوۡنَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Janganlah berbuat kerusakan di bumi!" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan."

Jika dikatakan dan dinasihatkan kepada mereka, Janganlah berbuat kerusakan di bumi, dengan melanggar nilai-nilai yang ditetapkn Allah, menghalangi orang dari jalan Allah, menyebar fitnah, dan memicu konflik, mereka justru mengklaim bahwa diri mereka bersih dari perusakan dan tidak bermaksud melakukan kerusakan. Termasuk saat menarik subsidi BBM demi mengurangi beban APBN. Manakah yang justru baik?

Mereka menjawab, Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan. Itu semua akibat rasa bangga diri mereka yang berlebihan pada buah pikiran mereka yang sesungguhnya keliru. Begitulah perilaku setiap perusak yang tertipu oleh dirinya, selalu merasa kerusakan yang dilakukannya sebagai kebaikan.

Bila mereka dinasihati agar meninggalkan perbuatan yang menimbulkan kerusakan di bumi, mereka selalu membuat dalih dan alasan dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya berusaha mengadakan perbaikan. Mereka bahkan menganggap apa yang mereka kerjakan sebagai usaha untuk kebaikan orang-orang Islam dan untuk menciptakan perdamaian antara kaum Muslimin dengan golongan lainnya.

Mereka mengatakan bahwa tindakan-tindakan mereka yang merusak itu sesungguhnya sebagai suatu usaha perbaikan untuk menipu kaum Muslimin dan seluruh manusia di dunia ini. Mereka hanya menginginkan kekayaan dan kekuasaan dikuasai segelintir elit mereka itu sendiri.

Nah, kaum muslimin terhalang kesejahteraannya karena dia bermaksiat pada Allah. Bermaksiat dalam hal berdiam diri atas pemberlakukan sistem ekonomi yang zalim itu, diberlakukan atas dirinya dan seluruh manusia di muka bumi ini.

So, dakwah pada sistem islam kaffah alternatif termasuk menerapkan sistem ekonomi islam yang berbasis emas adalah wajib. Ikutkah kita terlibat di dalamnya? Jika belum, ayo bersegera berikhtiar mewujudkannya hanya dengan dakwah!

Posting Komentar

0 Komentar