URBANISASI SETELAH LEBARAN: WUJUD KESENJANGAN


Oleh: Nunung Sulastri
Penulis Lepas

Fenomena urbanisasi pasca Lebaran selalu muncul setiap tahun dan tampaknya sulit dihindari. Urbanisasi mencerminkan transisi antara harapan memperbaiki nasib dan realitas ekonomi yang semakin menantang bagi mereka yang datang dari desa ke kota.

Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN), Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengatakan arus balik yang semakin ramai dari tahun ke tahun merupakan salah satu aspek penting dalam dinamika migrasi penduduk Indonesia. Masyarakat tidak hanya kembali ke kota setelah berlibur, tetapi juga membawa saudara, teman, bahkan keluarga besar untuk mencari peluang pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik di kawasan aglomerasi perkotaan (Metronews, 27/04/2026).

Urbanisasi mencerminkan ketimpangan ekonomi antara desa dan kota, di mana wilayah perkotaan memiliki fasilitas, infrastruktur, peluang kerja, dan tingkat pendapatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan pedesaan. Fenomena ini menunjukkan ketidakmerataan pembangunan sehingga penduduk desa pindah ke kota demi meningkatkan taraf hidup atau mengejar penghasilan lebih stabil. Beberapa poin utama dampak ketimpangan ini antara lain:
  • Pusat ekonomi dan keterbatasan desa: Kota menjadi pusat aglomerasi industri dan pekerjaan dengan upah lebih tinggi, sementara desa seringkali kekurangan tenaga kerja produktif dan tertinggal dalam pembangunan ekonomi.
  • Alih fungsi lahan dan produktivitas: Urbanisasi membuat lahan pertanian di pedesaan terbengkalai karena tenaga kerja muda berpindah ke kota.
  • Harapan hidup lebih baik: Perbedaan pendapatan signifikan antara desa dan kota mendorong migrasi, karena kota menawarkan peluang ekonomi lebih baik.
  • Ketimpangan pembangunan infrastruktur: Fasilitas sosial dan ekonomi yang lebih maju di perkotaan memicu masyarakat desa melakukan urbanisasi.

Akibat urbanisasi, desa kehilangan sumber daya manusia muda dan produktif, memicu penuaan populasi, serta terhambatnya pembangunan lokal. Sementara kota terbebani secara demografi, sehingga diperlukan perencanaan wilayah yang bijak agar tidak menimbulkan masalah sosial.


Dampak Sistem Kehidupan

Fenomena tahunan perpindahan penduduk dari desa ke kota tidak akan terjadi apabila lapangan pekerjaan di desa cukup tersedia. Setiap instansi membutuhkan keahlian tertentu, sedangkan sistem pendidikan dalam kapitalisme menyiapkan tenaga produksi siap kerja, bukan membentuk pribadi yang bertakwa.

Permasalahan urbanisasi setiap tahun ini berakar pada sistem kapitalisme, yang melahirkan kebebasan kepemilikan dan pasar ekonomi, memberi jalan bagi pemilik modal menguasai aset dan kekayaan. Peran negara lebih sebagai regulator pengusaha, bukan pelayan rakyat. Sistem kapitalisme mendorong investasi yang mengejar keuntungan maksimal ke pusat-pusat ekonomi padat, sementara desa terabaikan. Alokasi anggaran yang terpusat di Jakarta dan kota besar menjadi isu struktural jangka panjang, meskipun desentralisasi telah dicoba. Program ekonomi untuk desa pun kerap bersifat pencitraan dan tidak benar-benar memajukan desa.

Beberapa masalah struktural yang muncul antara lain:
  • Pembangunan belum merata; kota tetap menjadi pusat ekonomi (kota sentris).
  • Infrastruktur dan pasar di desa terbatas.
  • Program ekonomi desa kurang menyentuh akar masalah.
  • Tingkat kemiskinan di desa tinggi.
  • Risiko pembangunan bersifat pencitraan.

Fenomena program ekonomi desa juga sering dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir pihak:
  • Lonjakan korupsi dana desa meningkat signifikan.
  • Penyalahgunaan program ekonomi, seperti markup anggaran, pengurangan spesifikasi proyek, atau pengadaan fiktif.
  • Proyek dikuasai oknum perangkat desa.
  • Kebijakan pengalihan dana desa untuk koperasi dikhawatirkan menjadi ajang baru bagi makelar proyek.

Sistem kapitalisme mendorong perilaku serakah karena orientasinya pada keuntungan, meniadakan pengaturan Allah subhanahu wa ta'ala. Allah berfirman dalam surat Al-Adiyat ayat 6–8:

لَكَنُوْدٌۚ
Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.

وَاِنَّهٗ عَلٰى ذٰلِكَ لَشَهِيْدٌۚ
Dan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan keingkarannya itu.

وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌۗ
Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan (sangat bakhil).


Solusi Islam

Urbanisasi yang terjadi setiap tahun merupakan dampak serius ketimpangan desa–kota. Sistem kapitalisme memfokuskan pembangunan pada profit, bukan kesejahteraan rakyat, sehingga negara bertindak sebagai fasilitator modal. Islam menawarkan pendekatan komprehensif yang menekankan keadilan ekonomi, pembangunan merata, dan pemberdayaan masyarakat pedesaan agar urbanisasi tidak berlebihan.

Politik ekonomi Islam memastikan pembangunan merata di desa maupun kota, dengan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok bagi setiap orang berdasarkan nilai Syariah. Pembangunan ekonomi diarahkan untuk melayani kebutuhan masyarakat, memastikan kesejahteraan finansial inklusif dan berkelanjutan. Sektor pertanian dikelola baik sehingga memajukan masyarakat pedesaan.

Pertanian menjadi urat nadi perekonomian pedesaan, mendukung kedaulatan dan ketahanan pangan. Prinsip pertanian dalam Islam meliputi:
  • Pertanian sebagai ibadah; hasilnya untuk manusia dan hewan dihitung sebagai sedekah.
  • Pengelolaan lahan mati (ihya al-mawat) agar produktif.
  • Sistem bagi hasil (muamalah/mukhabarah).
  • Orientasi pada kemaslahatan.
  • Pelestarian lingkungan (ramah lingkungan/organik).
  • Gotong royong untuk menghindari penimbunan dan praktik merusak alam.

Pemimpin Islam atau khalifah melakukan pengawasan hingga pelosok desa untuk mengetahui kondisi rakyat dan kebutuhan mereka. Dengan aturan syara, urbanisasi diarahkan untuk menciptakan keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan bagi penduduk kota maupun desa. Urbanisasi bukan perpindahan yang dilarang, melainkan mobilitas yang diatur agar tidak menimbulkan mudharat (bahaya/kerusakan).

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 96:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan para rasul dan ayat-ayat Kami. Maka Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.

Masya Allah, semoga sistem Islam kembali tegak di muka bumi ini dan pertolongan Allah semakin dekat. Aamiin ya Robbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bisshawab

Posting Komentar

0 Komentar