
Oleh: Ummu Jauza
Ibu Rumah Tangga
Baru-baru ini Walikota Surabaya Ery Cahyadi mengeluarkan kebijakan penghapusan PR bagi siswa SD dan SMP. Karena menganggap yang terpenting adalah pembentukan karakter. Senada dengan itu, Yusuf Masruh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya mengaku penghapusan PR itu untuk mengurangi beban pelajar. (suarasurabaya.net)
Pro kontra terkait penghapusan PR per 10 Nopember 2022, menimbulkan beberapa polemik dari berbagai kalangan. Beragam respons para orangtua atau wali murid terkait wacana bebas PR untuk anak-anaknya yang masih duduk di bangku SD-SMP. Ada yang setuju, ada pula yang tidak setuju.
Anggraini, ibu dari siswa yang sekolah di SDN Manukan Kulon kelas 6 menolak jika PR dihapus. Sebab, waktu anak lebih banyak di rumah. Jika tidak diberikan PR, anak akan makin banyak bermain daripada belajar.
Tak jauh berbeda dengan Nana (45) warga Jalan Bung Tomo Ngagel. Wali murid siswa SD Negeri tidak setuju dengan penghapusan PR. Menurutnya, dengan adanya PR ini bisa menstimulus otak anak untuk berfikir, asal PR-nya tidak berat. Sebab, kalau anak sudah pegang gadget di rumah susah untuk dilepas.
Sementara Catur Irawan warga Banyu Urip, ayah siswa SMP Muhammadiyah 5 Pucang kelas 7. Dia mengaku setuju dengan kebijakan Pemkot Surabaya menghapus PR, karena waktu anak lebih banyak di sekolah dari pagi hingga sore.
"Setuju, karena full day terus dikasih PR istirahatnya kapan. Buat dia santai nggak ada. Jadi tugas diselesaikan di sekolah. PR terus setiap hari (diberikan)," kata Catur kepada detikJatim.
Sama halnya dengan Desi warga Manukan. Orangtua siswa SMPN 3 kelas 9 ini setuju PR ditiadakan. Apalagi digantikan dengan pendidikan karakter. (detik.com)
Kebijakan yang diadopsi dari Kurikulum Merdeka ini, ingin memberikan waktu yang luas bagi aktualisasi anak. Namun Benarkah, kebijakan ini berkorelasi dengan pembentukan karakter anak? Ditengah kebijakan parsial yang tidak didasarkan pada pandangan holistik terkait pembentukan generasi. Wajar sekali bila muncul kebijakan tambal sulam. Melihat permasalahan dari pandangan yang sempit dan parsial. Tak hanya menimbulkan pro kontra bahkan tak mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
Problem pembentukan karakter, adalah permasalahan yang harus dipecahkan tersendiri dan tidak ada hubungannya dengan PR. Karena pembentukan karakter anak tidak terlepas dari pola pendidikan keluarga, pengaruh lingkungan masyarakat & sekolah serta negara yang melahirkan aturan yang menanungi kehidupan anak. Termasuk di dalamnya media dan sebagainya.
Dalam sistem sekuler liberalis, dimana kebebasan dituhankan. Maraknya perilaku hedonis, tidak ada batasan pada perilaku. Melahirkan generasi berkarakter tidak khas karena tidak ada arahan yang kuat. Mudah goyah dan terpengaruh oleh godaan-godaan yang marak terjadi. Yang terbaru ada istilah Generasi Strawberry. Istilah strawberry generation pada mulanya muncul dari negara Taiwan, istilah ini ditujukan pada sebagian generasi baru yang lunak seperti buah strawberry. Pemilihan buah strawberry untuk penyebutan generasi baru ini juga karena buah strawberry itu tampak indah dan eksotis, tetapi begitu dipijak atau ditekan ia akan mudah sekali hancur. (detik.com)
Pembentukan Karakter dalam Islam Dan Pandangan Terhadap Ilmu
Pengertian Pendidikan karakter sebagai suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. (Prasetyo dan Rivasintha// 2013:30)
Dari definisi diatas jelas bahwa pembentukan karakter itu tidak hanya menjadi tugas satu pihak keluarga atau sekolah saja. Namun didalamnya terdapat penyebutan sistem. Sistem yang bersinergi antara lingkungan keluarga, masyarakat-media serta aturan negara yang memiliki pandangan khas tentang bentukan generasi yang hendak diwujudkan.
Peradaban Islam mencatat dalam sejarah emasnya, mengukir karakter generasi yang cemerlang. Generasi yang mengukir prestasi dan mencetak karya karya di berbagai bidang, mereka juga memberi inspirasi dalam berbuat dan menebar kebaikan sekaligus semangat membela dan mempertahankan agama.
Dari sini, kita bisa menggambarkan karakter yang dimiliki, yaitu bertaqwa, taat kepada syariat-Nya yang lahir dari keimanan yang lurus dan kokoh, menguasai ilmu-ilmu agama serta ilmu kehidupan praktis serta berjiwa pemimpin, berani, bermental kuat dan bertekad baja
Diantara generasi muslim tersebut ada nama Salamah bin al Akwa salah satu sahabat Rasul ﷺ. Beliau dijuluki pemanah ulung dan pelari tercepat. Diantara teman-teman sebayanya, dikenal paling cepat larinya, karena tidak ada seorang pun yang kuat berlomba lari dengannya.
Kemampunya ini digunakan untuk menolong agama dan memerangi orang-orang kafir. Hal ini terjadi pada peristiwa di Dzu Qarad. Salamah berhasil mengagalkan perampokan onta-onta Rasulullah yang dilakukan oleh orang-orang Fazarah. Peristiwa penggagalan perampokan ini sangat memukau.
Ada lagi sahabat yang bernama Al Bara’ bin malik. Kisah beliau yang paling berani adalah pada Perang Yamamah, yaitu perang menghadapi pasukan nabi palsu Musailamah Al kadzab pada masa khalifah Abu Bakar. Al-Bara bin Malik berkata, “Wahai kaum Muslimin, letakkan aku di sebuah tameng, lalu angkatlah tameng itu di ujung tombak, kemudian lemparkan aku ke dalam benteng dekat pintu gerbangnya, kalau aku tidak gugur, maka akan aku buka gerbang itu untuk kalian.” Sungguh berani dan menantang! Aksi al Bara’ yang menempatkan dirinya di mesin pelontar, yang sekejap setelah itu meluncur tinggi bagai rudal ke arah banteng, lalu membuka benteng untuk mengalahkan pasukan Musailamah.
Sejarah emas mencatat pula kisah seorang pemuda Al Fatih dengan pasukannya yang mampu menaklukkan benteng Konstantinopel.
Semua ini membuktikan generasi Islam pada masa peradaban Islam bukan generasi menye-menye yang mudah rapuh akan tantangan permasalahan kehidupan.
Peradaban Islam, terutama sistem Pendidikannya sangat berperan membentuk generasi muslim yang berkepribadian islam yang paripurna. Kurikulum sistem Pendidikan Islam yang berdasarkan aqidah Islam, mengajarkan penanaman keimanan yang kokoh dan lurus. Keimanan ini membentuk pemahaman tentang hidup yang benar. Mereka hidup sesuai Islam dan mendedikasikan hidupnya hanya untuk Islam.
Sistem Pendidikan Islam berhasil mengarah potensi pemuda atau generasi, berupa tenaga pikiran untuk kemashalatan umat dan agama. Kurikulum Pendidikan Islam membimbing akal, menuntun jiwa dan serta mengarahkan berbagai potensi generasinya. Islam sangat memperhatikan pembinaan fisik agar menjadi muslim yang kuat.
Sebagaimana Hadist,
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وإنْ أَصَابَكَ شيءٌ، فلا تَقُلْ لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ، فإنَّ لو تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda, "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah ﷻ daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.
Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: 'Seandainya aku lakukan demikian dan demikian'. Akan tetapi hendaklah kau katakan: 'Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi'. Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan" (HR Muslim).
Sistem Pendidikan Islam yang sudah terbukti mampu melahirkan generasi terbaik seharusnya disuarakan dan diperjuangkan seluruh elemen umat Islam, termasuk para pendidik agar bisa diterapkan kembali. Tentu saja penerapannya bersamaan dengan sub sistem hidup Islam yang lain. Karena kegemilangan sistem pendidikan adalah bagian tegaknya peradaban Islam berupa Daulah Khilafah.

0 Komentar