MARAKNYA KDRT DALAM RUMAH TANGGA


By Murli Ummu Arkan

Menjalani kehidupan rumah tangga memanglah tidak mudah. Ujian, permasalahan, tantangan akan lebih kompleks dibandingkan saat hidup masih lajang. Banyak kita jumpai retaknya rumah tangga bahkan hancurnya rumah tangga di negeri ini karena kasus KDRT, perselingkuhan, perekonomian, dsb.

Begitu pula yang dialami dua pasangan artis ternama. Siapa sangka saat ini media sosial tengah santer-santernya membahas isu pelaporan Lesti Kejora terhadap suaminya, Rizky Billar karena kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Pasalnya, Lesty dicekik, dibanting di lantai, disakiti oleh suaminya pasca memergoki perselingkuhan yang dilakukan suaminya. Kini dikabarkan Lesti Kejora terbaring di rumah sakit untuk menjalani pengobatan karena kerongkongannya yang bergeser akibat perlakuan KDRT Rizky Billar. (Kompas, 1 Oktober 2022).

Tak disangka, dibalik kemesraan mereka di layar kaca ternyata terjadi KDRT yang dilakukan Billar terhadap istrinya saat di rumah. Meski dari Lesty Kejora belum ada kabar akan menggugat cerai suaminya, namun gosip yang beredar Lesty bakal menggugat cerai suaminya. (Liputan 6, 1 Oktober 2022)

Tidak hanya dalam dunia artis, ternyata di tengah-tengah masyarakat pun kasus KDRT juga tinggi. Ada 4.779 kasus KDRT yang berujung pada perceraian sepanjang tahun 2021, hal ini berdasarkan catatan Badan Peradilan Agama (Kumparan News, 30 September 2022). Yang jadi pertanyaan kenapa KDRT masih terus terjadi di tengah-tengah kehidupan rumah tangga terkhusus kaum muslim?

Tak dipungkiri bahwa kehidupan saat ini mayoritas orang menganut asas sekulerisme, yaitu pemisahan agama dengan kehidupan. Hal inilah yang akhirnya menjadikan umat muslim jauh dari nilai-nilai agama. Merasa mempunyai prinsip sendiri yang lebih baik dalam menjalani kehidupannya termasuk kehidupan rumah tangga. Padahal hakikatnya manusia itu terbatas. Walhasil, menganggap KDRT adalah salah satu wasilah sebagai solusi untuk bisa menghentikan kontra dalam rumah tangga.

Selain itu, adanya ego yang tinggi untuk tidak bisa menerima kebenaran dan kesalahan diri saat melakukan kemaksiatan. Tidak mau mengakui kesalahan, muhasabah diri, saat orang lain menasehati atas kemaksiatannya seperti yang dilakukan Riski Billar. Sudah salah, maksiat tapi justru menambah kesalahan dengan melakukan KDRT.

Ditambah kurangnya kesadaran dan kesabaran diri untuk mengolah emosi apalagi terhadap perempuan. Tidak seharusnya perempuan bahkan istri mendapatkan kekerasan oleh suaminya sendiri yang notabene seseorang yang terdekat dengan istri.

Kemudian tidak dibangunnya pondasi rumah tangga berdasarkan akidah Islam. Kurang kuatnya akidah umat Islam menjadikan mereka lalai terhadap apa yang mereka lakukan. Bahwa setiap yang dilakukan terhadap orang lain akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Bagi orang-orang yang mengingat akan hari kebangkitan pasti ia akan berusaha keras untuk menahan emosinya untuk tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Sudah saatnya saat ini kita campakkan asas sekulerisme. Perkuat pondasi rumah tangga dengan akidah Islam agar di setiap aktivitas anggota keluarga penuh dengan ketakwaan. Kalau pun terjadi kemaksiatan atau kesalahan setidaknya bukan pada dosa kemaksiatan yang besar, mengingat manusia adalah makhluk terbatas.

Selain itu butuh peran utama negara dan masyarakat untuk bisa membentuk sebuah peradaban manusia yang sesuai dengan syariat Islam yang notabene bisa mempengaruhi kehidupan rumah tangga dalam ketaatan. Semua itu tak bisa terjadi kecuali dengan menerapkan Islam Kaffah dalam segala aspek. Maka sudah saatnya umat butuh sistem Islam yang memberikan keadilan dan keamanan yang terbaik.
Wallahu alam bish showab.

Posting Komentar

0 Komentar