RESESI DUNIA, KONSEKUENSI PENERAPAN SISTEM KAPITALISME


Oleh: Murli Ummu Arkan

Menghadapi tahun 2023 yang dikabarkan sebagai masa gelap, sejumlah perusahaan-perusahaan di tanah air telah banyak yang melakukan pemutusan hubungan kerja alias PHK massal. Tentu hal ini menjadikan pengangguran semakin meningkat dan kemiskinan sekian tinggi.

Dikabarkan PHK telah terjadi di pabrik tekstil dan pabrik alas kaki. Seperti pabrik Garmen di Bogor. 1 November 2022, PHK terjadi pada 400 orang. Hal tersebut dikarenakan menurunnya orderan di Amerika Serikat karena mengalami resesi ekonomi. (CNBC Indonesia, 2/11/2022)

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia, Firman Bakri mengungkapkan bahwa data laporan PHK yang terjadi sudah menyasar 22.500 an buruh pabrik alas kaki. Tuturnya saat di konfirmasi dengan CNBC Indonesia, 4/11/2022.

Hal serupa juga dialami pabrik Sepatu di Rembang Jawa Tengah, dengan PHK yang menyasar 500 buruh dirumahkan. Padahal pabrik ini awalnya digadang-gadang untuk meningkatkan perekonomian di Rembang. Namun kali ini, karena dampak resesi dunia yang mengakibatkan permintaan sepatu menurun, PHK terjadi besar-besaran. Dari 500-7000 buruh di PHK. (Lingkar jateng.id, 3/11/2022)

Dari maraknya PHK yang terjadi, tentu hal ini menjadi masa suram bagi masyarakat. Apalagi jika resesi dunia benar-benar terjadi, bisa dikatakan harga kebutuhan pokok akan melambung tinggi lagi, uang semakin kecil nilainya, hidup semakin susah, pengangguran bertambah dan dikhawatirkan hal ini bisa memicu bertambahnya angka kriminalitas.

Belum pulih recovery perekonomian karena Covid-19, kini banyak negara harus menghadapi resesi 2023 mendatang, yang dikabarkan perekonomian dunia akan gelap. Hal itu karena perputaran ekonomi yang lambat, adanya imbas invasi Rusia pada Ukraina, dan perubahan iklim. Pantas saja jika di akhir tahun 2022 banyak perusahaan dan pabrik yang melakukan PHK dan pemotongan jam kerja buruh.

Gelapnya nasib perekonomian dunia saat ini adalah konsekuensi dari adanya penerapan sistem Kapitalisme. Sistem Kapitalisme inilah yang mendominasi negara-negara di penjuru dunia untuk mengembannya. Dari sini maka negara-negara pengemban sistem Kapitalisme tak lepas dari konsep sistem perekonomian kapital. Cirinya, majunya sektor non riil baik di perbankan atau pasar modal. Jumlah dana dari sektor rumah tangga dan perusahaan pun disimpan dalam surat berharga. Seperti saham dan obligasi. Efeknya perputaran uang dalam sektor non riil jauh lebih besar dari sektor riil.

Pakar Ekonomi Islam H. Dwi Chondro Triono, Ph.D dalam majalah Al Waie mengutarakan, "Kapitalisme Global bakal bangkrut." Mengingat perputaran uang sektor non riil jauh lebih besar dari sektor riil. Hal ini memang akan membuat perekonomian melambung tinggi namun akan rentan. Istilahnya fenomena economic bubble (gelembung ekonomi). Jika disentuh dengan isu non ekonomi akan mudah meletus. Misal gejolak politik, sosial, dan kepanikan masyarakat. Jika sektor non riil terguncang maka surat-surat berharga akan musnah dan pasar modal akan jatuh. Jika tiap negara mempunyai pasar modal yang saling terkait maka hal ini akan menular sehingga resesi dunia terjadi. Inilah kecacatan sistem ekonomi Kapitalisme.

Dari sini dapat kita pahami bahwa sistem perekonomian Kapitalisme tidak bisa membawa pada stabilitas perekonomian dunia. Harus ada perubahan sistem perekonomian yang dibutuhkan umat untuk bisa stabil dan perubahan itu harus menyeluruh. Tidak bisa setengah-setengah, karena sistem Kapitalisme sudah tak bisa untuk diperbaiki. Tidak lain sistem perekonomian dunia yang dibutuhkan untuk menggantikan sistem ekonomi Kapitalisme saat ini adalah sistem perekonomian Islam.

Dalam perekonomian Islam, negara akan memperbaiki sektor riil agar terlaksananya pasar dengan pelakunya rakyat dan komoditi dagangannya nyata yaitu barang dan jasa. Sumber perekonomian ada empat sektor yaitu perdagangan, pertanian, industri dan jasa.

Harta kepemilikan umum akan diolah negara dan hasilnya dikembalikan untuk rakyat. Kepemilikan negara pun juga akan dikelola negara. Mata uang yang digunakan adalah dirham dan dinar. Tata keuangan baik di Bank maupun non Bank wajib taat syariat tidak diizinkan adanya ribawi. Dengan begini akan menutup krisis ekonomi.

Selanjutnya negara akan melarang perekonomian dalam sektor non riil. Seperti Saham, obligasi, pasar modal, dll yang sifatnya elitis, spekulatif, manipulatif dan destruktif. Karena hal tersebut yang menjadikan salah satu penyebab meningkatnya kemiskinan di masyarakat. Ekonomi ribawi juga akan dilarang.

Selanjutnya sistem distribusi juga akan ditata ulang. Seperti distribusi harta dari zakat, infak, sedekah yang sudah terkumpul di Baitul maal. Sistem distribusi ini dikembalikan pada aturan syariat. Selain itu masih banyak cara negara untuk menata ulang hal-hal lainnya untuk memperbaiki ekonomi. Dengan begitu perekonomian akan stabil.

Meski negara tidak memungkiri adanya kemiskinan misal karena bencana atau paceklik maka negara sudah punya cadangan pos kepemilikan umum negara yang ada di Baitul maal, untuk dialokasikan pada kondisi tersebut. Jika keadaan Baitul maal tidak ada harta maka negara baru membuka keran shodaqah bagi rakyat untuk membantu. Jika perlu menarik pajak bagi yang mampu. Inilah solusi yang ditawarkan oleh Islam.

Dari sini, masihkah kita mempercayakan perekonomian pada sistem Kapitalisme yang pendapatannya dari sektor ribawi dan pajak saja? Bisakah Kapitalisme memperbaiki krisis ekonomi global saat ini? Sedangkan kita tahu kepemilikan sumberdaya alam yang dimiliki negara dan umum yang ada di negeri-negeri kaum muslim telah diprivatisasi oleh swasta atau individu.

Posting Komentar

0 Komentar