
Oleh: Ummu Zaid
Penulis Lepas
Ada kesedihan dan duka mendalam dalam setiap peringatan peristiwa Nakba Palestina. Hingga kini, kaum muslimin Palestina masih harus mengalami pengusiran dan penjajahan di tengah diamnya para pemimpin Muslim dunia yang seolah hanya bisa menjadi penonton.
Peringatan Nakba memberikan makna besar sekaligus pengingat bagi kaum muslimin di Palestina. Tragedi kekerasan, perampasan hak hidup, serta pencaplokan tanah air terus membayangi kehidupan mereka sampai hari ini. Di sisi lain, sistem global saat ini terbukti tidak dapat diandalkan untuk menghentikan kebiadaban Israel yang terus-menerus melakukan tindakan genosida.
Kegagalan ini tidak lepas dari konsep negara-bangsa (nation-state) yang diadopsi dunia hari ini. Konsep tersebut dinilai tidak mampu menciptakan kerahmatan, melainkan justru membuat umat Islam kehilangan kekuatan kolektifnya (power). Untuk menolong Palestina, umat Islam semestinya bersatu melakukan perlawanan nyata, bukan justru menggantungkan harapan pada lembaga internasional seperti PBB atau organisasi regional seperti OKI.
Sebab, para pemimpin negeri-negeri Islam saat ini cenderung tersandera oleh kepentingan politik dan bersekutu dengan pelindung utama Israel, yaitu Amerika Serikat. Akibatnya, mereka justru dinilai ikut mengukuhkan eksistensi penjajahan Israel agar tetap bercokol di Palestina. Pemimpin negeri Islam sejauh ini hanya mampu melayangkan kecaman retorika tanpa adanya aksi nyata, seperti mengirimkan armada militer resmi untuk mengusir penjajah dari bumi Palestina.
Oleh karena itu, langkah strategis yang harus ditempuh kaum muslimin untuk membebaskan Palestina adalah dengan menegakkan kembali institusi kepemimpinan Islam global, yaitu Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Hanya di bawah komando seorang Khalifah, tentara dari berbagai negeri Islam dapat digerakkan secara terpusat untuk melakukan jihad guna mengalahkan kekuatan pendukung zionis Israel. Agenda utama perjuangan hari ini adalah membangun kesadaran umat mengenai urgensi hidup di bawah naungan institusi Islam sebagai wujud aktualisasi keimanan.
Dengan membawa panji Rasulullah ﷺ untuk mempersatukan negeri-negeri Islam, kekuatan militer yang terkonsolidasi akan mampu mengusir entitas penjajah dari tanah Palestina. Di bawah naungan Khilafah, dunia Islam akan menjelma sebagai entitas negara adidaya yang kuat, yang mampu menandingi dominasi Amerika Serikat dalam melindungi Israel dari tekanan politik internasional maupun kekebalan hukum.
Umat Islam harus meyakini bahwa jalan keluar satu-satunya adalah kembali kepada hukum Allah ﷻ. Hanya dengan rahmat serta pertolongan Allah ﷻ, bumi Palestina akan kembali merdeka di bawah naungan kepemimpinan Islam, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur'an:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۙ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۙ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat." (QS. An-Nasr: 1–3)

0 Komentar