BULETIN KAFFAH: DAKWAH INDIVIDU SAJA TIDAK CUKUP JIKA SISTEM KAPITALISME-SEKULER TETAP DIPERTAHANKAN


Oleh: Muhar
Jurnalis Lepas

Meski wajib terus dilakukan, dakwah kepada individu semata dinilai tidak cukup untuk menyelesaikan berbagai persoalan umat selama sistem kapitalisme sekuler masih dipertahankan oleh negara. Hal ini ditegaskan oleh Buletin Kaffah dalam Edisi 446 (19 Dzulhijjah 1447 H/5 Juni 2026 M) yang berjudul “Umat Harus Dipimpin Al-Qur'an”.

Harus dipahami bahwa dakwah kepada individu-individu saja tidak cukup jika negara terus mempertahankan sistem kapitalisme sekuler. Ini ibarat seseorang yang membersihkan air di hilir sungai, sementara dari hulu terus mengalir limbah dan kotoran,” tulisnya.

Dalam ulasannya, Buletin Kaffah menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak hanya berdakwah membina individu-individu di Makkah, melainkan juga berjuang menegakkan Daulah (Negara) Islam di Madinah sehingga syariat Islam dapat diterapkan secara sempurna.

Karena itulah, menurut buletin tersebut, para ulama mewajibkan kaum muslim membangun kekuasaan Islam atau sistem pemerintahan Islam sebagai bentuk keteladanan terhadap apa yang pernah dilakukan Rasulullah ﷺ. Selain itu, tanpa adanya kekuasaan Islam, Al-Qur'an dinilai mustahil diterapkan secara sempurna.

Untuk menguatkan pandangan tersebut, Buletin Kaffah mengutip pernyataan Imam al-Ghazali:

الدِّينُ أُسٌّ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ، وَمَا لَا أُسَّ لَهُ فَمَهْدُومٌ، وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ
Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki fondasi akan runtuh dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan roboh.” (Al-Ghazali, Al-Iqtishaad fii al-I'tiqaad, 1/76).

Menurut Buletin Kaffah, pernyataan Imam al-Ghazali tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Dakwah dinilai akan selalu menghadapi hambatan besar apabila sistem yang berlaku justru memproduksi pemikiran dan budaya yang bertentangan dengan Islam.

Karena itu, sekali lagi perlu ditegaskan, di sinilah penting dan wajibnya kekuasaan Islam ditegakkan,” pesannya.

Lebih lanjut, Buletin Kaffah juga mengutip pandangan ulama Syekh Taqiyuddin an-Nabhani yang menjelaskan bahwa masyarakat tidak sekadar kumpulan manusia, melainkan dibentuk oleh pemikiran, perasaan, dan aturan kehidupan. Ketiga unsur tersebut, yakni afkaar (pemikiran), masyaa'ir (perasaan), dan anzhimah (aturan kehidupan), menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat.

Apabila ketiga unsur itu bersumber dari Islam, terangnya, akan lahir masyarakat Islam. Sebaliknya, ketika ketiganya bersumber dari ideologi kapitalisme, akan lahir masyarakat kapitalistik meskipun mayoritas penduduknya muslim.

Buletin Kaffah kemudian menyoroti kondisi negara-negara muslim saat ini, termasuk Indonesia, yang dinilai menerapkan sistem kapitalisme yang berasaskan sekularisme.

Sayangnya, hari ini negara-negara muslim, termasuk Indonesia, menerapkan sistem kapitalisme yang berasaskan sekularisme. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, agama hanya ditempatkan di masjid, musala, pesantren, dan ruang ibadah. Adapun politik, ekonomi, pendidikan, media, hukum, dan pergaulan sosial diatur dengan pemikiran manusia,” ungkapnya.

Buletin Kaffah membeberkan bahwa sistem kapitalisme sekuler yang berlaku saat ini turut membentuk pola pikir, perasaan, dan standar perbuatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini, pemikiran masyarakat dibentuk oleh kapitalisme. Perasaan masyarakat juga dibentuk oleh kapitalisme. Standar perbuatan masyarakat pun dibentuk oleh kapitalisme. Tidak mengherankan jika opini media sosial sering lebih dipercaya daripada nasihat ulama. Sebabnya, masyarakat setiap hari dibentuk oleh sistem kehidupan kapitalis-sekuler,” pungkasnya.

Pada bagian akhir, Buletin Kaffah menegaskan bahwa solusi hakiki atas berbagai krisis yang menimpa umat saat ini adalah mengembalikan Al-Qur'an sebagai pemimpin kehidupan.

Ketika Al-Qur'an memimpin pemikiran, perasaan, dan aturan hidup manusia, maka akan lahir masyarakat yang menjadikan rida Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai tujuan hidup mereka,” terangnya.

Sebaliknya, selama kapitalisme sekuler tetap menjadi dasar kehidupan, pemikiran, perasaan, dan perilaku masyarakat dinilai akan terus dibentuk oleh kapitalisme meskipun dakwah terus dilakukan.

Inilah sebabnya mengapa umat harus dipimpin oleh Al-Qur'an, bukan oleh hawa nafsu manusia atau ideologi buatan manusia. Sebab, hanya wahyu Allah Subhanahu wa ta'ala yang mampu membimbing manusia menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat,” tutupnya.

Posting Komentar

0 Komentar