KEMBALIKAN FITRAH SEORANG IBU


Oleh: Nea
Komunitas Ibu Peduli Generasi

Kasus kekerasan di Daycare Little Aksha Yogyakarta mengundang keprihatinan publik. Sebanyak 53 anak diduga menjadi korban kekerasan dengan perlakuan keji, seperti tangan dan kaki diikat serta ditidurkan di lantai tanpa pakaian (BBC News Indonesia, 27/04/2026).

Kasus serupa juga terjadi di Depok pada tahun 2023 dan Jakarta Timur pada tahun 2022. Belum lagi banyaknya tempat penitipan anak (daycare) yang beroperasi tanpa izin dan minim pengawasan. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan daycare bukan sekadar kesalahan oknum atau lemahnya pengawasan, melainkan berkaitan erat dengan sistem kehidupan yang melatarbelakanginya.


Mengapa Daycare Menjamur?

Menjamurnya daycare merupakan salah satu dampak dari sistem kapitalisme. Melalui narasi pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender, perempuan didorong untuk terjun ke dunia kerja sebagaimana laki-laki. Kesuksesan perempuan akhirnya diukur dari karier dan kontribusinya dalam sektor ekonomi.

Padahal, kesetaraan gender yang menghapus batas peran antara laki-laki dan perempuan merupakan pemikiran yang lahir dari peradaban Barat. Kondisi ini berbeda dengan Islam yang menetapkan peran dan tanggung jawab sesuai fitrah masing-masing.

Di sisi lain, sistem kapitalisme juga melahirkan tekanan ekonomi yang semakin berat. Harga kebutuhan pokok terus naik, biaya pendidikan dan kesehatan semakin mahal, sementara lapangan kerja yang layak semakin sulit diperoleh. Akibatnya, banyak keluarga tidak mampu bertahan hanya dengan satu pencari nafkah.

Kondisi inilah yang mendorong banyak ibu ikut bekerja demi membantu memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Ketika ibu harus bekerja di luar rumah, daycare hadir sebagai solusi yang ditawarkan sistem untuk menggantikan peran pengasuhan yang seharusnya dilakukan dalam keluarga. Dengan demikian, menjamurnya daycare sejatinya bukan akar masalah, melainkan akibat dari sistem yang memaksa ibu meninggalkan rumah demi memenuhi tuntutan ekonomi.


Kapitalisme Merusak Fitrah Ibu

Banyak ibu yang terpaksa bekerja sebagai buruh pabrik, pegawai, atau profesi lainnya demi mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka berangkat pagi, pulang malam, bahkan harus lembur demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi.

Akibatnya, waktu bersama anak menjadi sangat sedikit, bahkan terkadang hampir tidak ada. Padahal, masa kanak-kanak adalah masa yang sangat menentukan pembentukan kepribadian, akhlak, dan pola pikir mereka.

Dalam sistem kapitalisme, ibu tidak lagi dipandang terutama sebagai pendidik generasi, melainkan juga sebagai bagian dari roda produksi ekonomi. Akibatnya, peran mulia seorang ibu sebagai pengasuh dan pendidik generasi perlahan tergeser oleh tuntutan mencari nafkah.

Ketika pengasuhan anak diserahkan kepada pihak lain, hubungan emosional antara ibu dan anak pun berisiko semakin melemah. Karena itu, berbagai kasus yang terjadi di daycare seharusnya menjadi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem yang mengatur kehidupan saat ini.


Mengasuh Anak adalah Amanah Seorang Ibu

Dalam Islam, ibu adalah madrasah pertama (al-madrasatul ula) bagi anak-anaknya. Dari ibulah anak pertama kali belajar berbicara, mengenal adab, memahami akhlak, mempelajari agama, serta membentuk kepribadiannya. Karena itu, mengasuh dan mendidik anak bukan sekadar aktivitas rumah tangga biasa, melainkan amanah besar yang akan menentukan kualitas generasi di masa depan.

Adapun bekerja bagi perempuan hukumnya mubah atau boleh, namun kebolehan tersebut tidak boleh menghilangkan kewajiban utamanya sebagai ibu dan istri. Islam tidak melarang perempuan bekerja, tetapi juga tidak menjadikan pekerjaan sebagai ukuran utama kemuliaan seorang wanita. Kemuliaan seorang ibu justru terletak pada perannya dalam membentuk generasi yang beriman, bertakwa, dan berkepribadian Islam.


Solusi Islam Menjaga Fitrah Ibu

Islam tidak hanya memberikan solusi pada tingkat individu, melainkan juga pada tingkat sistem. Negara mengatur kehidupan berdasarkan syariat Islam dan berfungsi sebagai pengurus (ra'in) serta pelayan rakyat, bukan sebagai alat untuk menguntungkan segelintir pihak.

Dalam sistem Islam, kebutuhan pokok rakyat dijamin, pendidikan dan kesehatan mudah diakses, serta lapangan pekerjaan tersedia luas bagi laki-laki sebagai penanggung nafkah utama keluarga. Dengan demikian, para ibu tidak dipaksa bekerja karena tekanan ekonomi.

Ketika kebutuhan hidup terpenuhi dan peran laki-laki sebagai pencari nafkah berjalan dengan baik, ibu dapat menjalankan fitrahnya secara optimal sebagai pengasuh dan pendidik generasi. Dari tangan para ibu akan lahir generasi yang saleh, cerdas, berkepribadian Islam, dan memiliki semangat memperjuangkan kebenaran.

Karena itu, persoalan daycare tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperketat pengawasan atau menambah jumlah tempat penitipan anak. Akar persoalannya adalah sistem kapitalisme yang telah menjauhkan ibu dari peran fitrahnya. Hanya Islam yang mampu mengembalikan kedudukan mulia seorang ibu sekaligus menjaga keluarga dan generasi, karena Islam bersumber dari wahyu Allah ï·», Sang Pencipta manusia dan pengatur seluruh kehidupan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar