NAKBA: LUKA PALESTINA YANG TAK PERNAH USAI


Oleh: Amirah Desi
Komunitas Ibu Peduli Generasi

Setiap tanggal 15 Mei, rakyat Palestina memperingati Hari Nakba. Dalam bahasa Arab, Nakba berarti malapetaka atau bencana besar. Namun, bagi rakyat Palestina, Nakba bukan sekadar peristiwa sejarah yang terjadi pada tahun 1948. Nakba adalah luka panjang yang hingga hari ini masih terus menganga.

Tujuh puluh delapan tahun telah berlalu sejak peristiwa yang mengiringi deklarasi berdirinya negara Israel pada 15 Mei 1948. Peristiwa tersebut mengakibatkan terusirnya ratusan ribu warga Palestina dari tanah kelahirannya, hancurnya ratusan desa, serta hilangnya sebagian besar wilayah Palestina dari tangan penduduk aslinya. Jutaan rakyat Palestina kemudian harus hidup sebagai pengungsi di berbagai negara dan kamp-kamp pengungsian hingga hari ini.

Jika dicermati, penderitaan Palestina tidak berhenti pada peristiwa tahun 1948 saja. Berbagai bentuk penjajahan dan penindasan terus berlangsung dengan metode yang berbeda. Pendudukan wilayah Palestina, perluasan permukiman ilegal, pembongkaran rumah warga, blokade Gaza, hingga pembatasan berbagai hak dasar rakyat Palestina menunjukkan bahwa tragedi tersebut masih terus berlanjut. Karena itu, banyak pihak menyebut Nakba bukan sebagai peristiwa masa lalu, melainkan sebagai proses kolonisasi yang terus berlangsung (ongoing Nakba).

Dunia mungkin memperingatinya setahun sekali, tetapi rakyat Palestina merasakannya setiap hari. Mereka hidup dalam ketidakpastian, kehilangan tanah air, kehilangan keluarga, dan kehilangan hak untuk hidup secara aman dan merdeka di negeri mereka sendiri. Konflik yang kembali memanas sejak Oktober 2023 makin memperlihatkan betapa rapuhnya posisi rakyat Palestina di hadapan kekuatan global. Ribuan nyawa melayang, infrastruktur hancur, dan jutaan warga kehilangan tempat tinggal.


Kegagalan Diplomasi Internasional dan Sikap Pasif Negeri Muslim

Ironisnya, di tengah tragedi kemanusiaan yang begitu besar, dunia internasional terlihat gagal total menghentikan kekerasan yang terus berlangsung. Berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah diterbitkan. Beragam pertemuan internasional juga telah digelar. Namun, semua itu belum mampu memberikan solusi yang benar-benar menghentikan penderitaan rakyat Palestina. Kecaman demi kecaman hanya menjadi deretan pernyataan normatif tanpa kekuatan nyata untuk mengubah keadaan di lapangan.

Di sisi lain, negeri-negeri Muslim yang memiliki sumber daya alam dan militer besar juga belum mampu menunjukkan peran yang signifikan dalam membebaskan Palestina dari penjajahan. Sebagian hanya menyampaikan kecaman retoris, sementara sebagian lain bahkan menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan pihak zionis yang selama ini melakukan berbagai pelanggaran berat terhadap rakyat Palestina.

Sungguh, fakta ini menunjukkan bahwa persoalan Palestina bukan semata-mata persoalan kemanusiaan, melainkan juga persoalan politik dan kepemimpinan global. Selama tidak ada kekuatan politik yang benar-benar memiliki keberpihakan ideologis dan kemampuan militer untuk melindungi umat Islam, penderitaan Palestina berpotensi terus berulang dari generasi ke generasi.


Solusi Kepemimpinan dan Persatuan Islam Hakiki

Dalam pandangan Islam, menjaga darah, kehormatan, dan harta kaum muslim merupakan kewajiban agung yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, pembebasan Palestina tidak cukup hanya dilakukan melalui penyaluran bantuan kemanusiaan atau dukungan moral semata. Lebih dari itu, diperlukan sebuah kepemimpinan politik global (Khilafah) yang mampu menyatukan potensi umat Islam dan menggerakkan pasukan untuk melindungi wilayah-wilayah yang terjajah.

Oleh karena itu, gagasan tentang pentingnya persatuan umat dan tegaknya kepemimpinan Islam kembali mengemuka di tengah berbagai krisis yang menimpa dunia Islam, termasuk Palestina. Umat membutuhkan institusi politik yang tidak hanya mampu menyuarakan keprihatinan di mimbar PBB, tetapi juga memiliki kemampuan nyata untuk menjaga kepentingan umat dan menghentikan berbagai bentuk penjajahan secara fisik.


Penutup

Peringatan Nakba seharusnya tidak berhenti pada seremonial mengenang sejarah kelam belaka. Nakba harus menjadi momentum muhasabah bagi umat Islam untuk menyadari bahwa penjajahan masih berlangsung nyata, dan bahwa pembebasan Palestina membutuhkan lebih dari sekadar simpati atau air mata.

Dibutuhkan kesadaran politik yang sahih, persatuan umat secara transnasional, serta perjuangan yang terarah untuk menghadirkan solusi sistemis yang mampu mengakhiri penderitaan rakyat Palestina secara tuntas. Selama Palestina belum merdeka dan rakyatnya belum mendapatkan hak-haknya secara penuh, maka esensi Nakba akan terus berlangsung.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar