
Oleh: Sela
Komunitas Ibu Peduli Generasi
Tahun berganti tahun, namun wajah kehidupan umat Islam di negeri ini tak banyak berubah. Kemiskinan struktural masih mencengkeram jutaan keluarga. Judi online (judol) merasuk ke ruang-ruang paling pribadi, bahkan menelan korban dari kalangan pelajar dan ibu rumah tangga. Perundungan, prostitusi anak, eksploitasi seksual, dan kekerasan terus merajela seolah-olah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian.
Di panggung dunia, pemandangan yang tersaji tidak kalah menyayat hati: saudara-saudara kita di Gaza dibiarkan mati kelaparan di tengah bom yang tak henti berjatuhan, sementara para penguasa negeri Muslim hanya menonton dari kejauhan tanpa sekali pun menggerakkan pasukan militer mereka.
Kini, 1 Muharam 1448 Hijriah telah tiba. Namun, kondisi umat Islam (baik di dalam negeri maupun di pentas internasional) masih sangat jauh dari predikat khairu ummah, yaitu umat terbaik yang Allah sebut di dalam Al-Qur'an. Pertanyaannya bukan sekadar mengapa, melainkan sudah berapa lama kita memilih untuk berdiam diri?
Akar yang Busuk: Sekularisme-Kapitalisme
Jika kita mau jujur menelusuri akar dari segala kenestapaan ini, jawabannya bukan pada kurangnya program kerja pemerintah atau minimnya alokasi anggaran sosial. Akarnya jauh lebih dalam, yaitu sistem sekularisme-kapitalisme yang diterapkan hari ini memisahkan agama dari kehidupan publik dan menjadikan manfaat materi sebagai tolok ukur segala sesuatu.
Dalam sistem ini, halal dan haram bukan lagi menjadi penentu utama dalam pengambilan kebijakan. Yang menentukan adalah hitungan untung dan rugi. Maka wajar jika aktivitas judi online terkesan lambat diberantas karena perputaran ekonominya yang masif. Maka wajar pula jika industri hiburan yang merusak moral justru mendapat ruang atas nama kebebasan berekspresi.
Kerusakan yang merata di seluruh lini kehidupan ini bukan sebuah kecelakaan sejarah. Ini merupakan hasil logis dari sebuah sistem yang memang tidak dirancang untuk menjaga kemuliaan manusia, apalagi menjaga kemuliaan umat Islam.
Palestina dan Absennya Institusi Pelindung Umat
Tragedi di Jalur Gaza bukan semata-mata soal kekejaman fisik yang kasat mata. Di baliknya tersimpan pertanyaan besar yang menohok kesadaran kita: ke mana umat Islam yang berjumlah hampir dua miliar jiwa ini? Mengapa tidak ada satu pun negara Muslim yang berani mengirimkan pasukan militernya secara resmi?
Jawabannya terletak pada absennya satu institusi politik global yang pernah menyatukan umat selama lebih dari tiga belas abad, yaitu Khilafah. Tanpa institusi ini, umat Islam terpecah-pecah dalam bingkai negara-bangsa (nation-state) yang lahir dari peta geopolitik buatan penjajah. Nasionalisme sempit memisahkan Muslim satu dengan Muslim lainnya, sementara saudara seiman dibantai di depan mata dunia. Selama umat tidak memiliki satu kepemimpinan tunggal yang menyatukan, maka nasib memilukan seperti di Palestina akan terus berulang di belahan bumi Muslim mana pun.
Muharam Bukan Sekadar Perayaan Tahun Baru
Sebagian besar umat menyambut 1 Muharam hanya dengan doa bersama atau sekadar unggahan ucapan seremonial di media sosial. Ritual tersebut tidak salah, namun tentu jauh dari kata cukup. Muharam sejatinya adalah momentum refleksi mendalam. Semua kenestapaan yang menimpa umat hari ini bukan takdir mati yang harus diterima dengan pasrah. Ini adalah akibat langsung dari jauhnya kita dari penerapan aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat.
Hijrah yang sesungguhnya bukan hanya peristiwa perpindahan fisik Rasulullah ï·º dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah simbol transformasi sistemik dari tatanan yang batil menuju tatanan yang hak. Maka, makna hijrah hakiki bagi umat hari ini adalah berjuang meninggalkan sistem kufur sekularisme-kapitalisme dan bersungguh-sungguh menuju tegaknya sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah.
Jalan Panjang Menuju Perubahan Hakiki
Rasulullah ï·º tidak membangun peradaban Islam dalam waktu semalam. Beliau dan para sahabat menempuh jalan yang panjang, penuh ujian, dan terorganisasi dengan sangat rapi. Fase Makkah mengajarkan pembinaan akidah (tatsqif) dan pembentukan kelompok dakwah yang solid (katslah hizbiyah). Sementara itu, fase Madinah merupakan buah dari kesabaran panjang yang akhirnya melahirkan institusi negara Islam (Daulah Islamiyah). Pola ini bukan kebetulan sejarah, melainkan metode (manhaj) baku yang dicontohkan untuk menghasilkan perubahan hakiki.
Karena itu, umat Islam hari ini memiliki kewajiban yang jelas, yaitu berjuang bersama jemaah dakwah Islam ideologis yang mengadopsi metode dakwah Rasulullah ï·º secara utuh: membina akidah, berinteraksi di tengah masyarakat (tafa'ul ma'al ummah), dan berjuang menegakkan kembali Khilafah sebagai solusi sistemik atas seluruh persoalan umat.
Kembali ke Sistem Islam secara Kaffah
Sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan umat Islam lahir ketika Islam diterapkan secara menyeluruh (kaffah) dalam sebuah sistem pemerintahan yang bersumber dari wahyu Allah. Aturan itu tidak hanya bergema di masjid dan madrasah, melainkan diterapkan di istana, di pasar, di pengadilan, serta di seluruh sudut kehidupan bermasyarakat.
Kembali kepada sistem Islam bukan berarti membalikkan jarum jam secara naif ke masa lalu. Ini merupakan pilihan sadar bahwa manusia dengan segala keterbatasannya tidak akan pernah mampu merancang sistem yang lebih sempurna daripada aturan yang datang dari Sang Pencipta. Sekularisme telah diberi kesempatan panjang untuk membuktikan dirinya, dan hasilnya ada di depan mata: kemiskinan sistemik, kerusakan moral, ketidakadilan hukum, dan umat yang tak berdaya membela saudaranya sendiri.
Maka, tidak ada alasan lagi untuk ragu. Muharam 1448 Hijriah ini biarlah menjadi awal dari kebangkitan yang sesungguhnya, bukan sekadar semangat emosional sesaat, melainkan perjuangan panjang yang terencana dan berpijak teguh pada manhaj Rasulullah ï·º. Sebab, hanya dengan kembali kepada sistem Islam secara kafah di bawah naungan Khilafah, umat ini akan kembali meraih kemuliaannya sebagai khairu ummah, umat terbaik yang memberikan rahmat bagi seluruh alam.
Barakallahu fikum.

0 Komentar