DEMI CINTA, JADILAH CERMIN YANG BAIK


Oleh: Siti Maryati
Komunitas Ibu Peduli Generasi

Media sosial sedang ramai membicarakan nafkah Rp200 juta per bulan. Topik ini ternyata mengundang banyak reaksi dari warganet. Banyak yang berkomentar seraya berandai-andai jika mereka juga mendapatkan nafkah sebesar itu.

Fenomena ini berawal dari pernyataan seorang artis yang dinilai merendahkan nominal nafkah Rp200 juta, bahkan disisipi kata-kata kasar, "Gue enggak butuh duit lu, anj*ng." Perkataan tersebut menandakan akhir dari sebuah kisah cinta, ketika emosi memicu lahirnya kata-kata yang tak tertata.

Sebagai penikmat berita selebritas, kasus ini dapat kita jadikan contoh gambaran kehidupan glamor di kalangan mereka. Ketika kalimat tak pantas itu menghiasi media sosial sebagai ungkapan kekecewaan seorang artis kepada mantan pasangannya, tentu kita hanya bisa berucap, "Astaghfirullah." Sebuah ucapan zikir yang seyogianya tak henti-hentinya kita rapalkan.

Berkaca dari masalah di atas, tanpa disadari perkataan kasar yang dilontarkan tersebut tidak mencerminkan akhlak yang baik untuk anaknya sendiri. Bagaimana mungkin orang tua yang baik berperilaku seperti itu?

Sejatinya, anak tidak lahir dengan buku panduan. Buku panduan pertama mereka adalah kita, orang tuanya. Coba ingat-ingat, kita dulu belajar berbicara dari siapa? Kita belajar sabar dari siapa? Jawabannya pasti sama: dari orang tua. Anak kita pun demikian. Setiap gerak, lisan, dan sikap kita adalah pelajaran hidup yang mereka serap dan "unduh" secara diam-diam.

Dalam Al-Qur'an Surah At-Tahrim ayat 6 Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
"Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."

Betapa banyak kisah tentang Rasulullah ﷺ, para nabi, dan juga para sahabat mengenai peran mereka sebagai qudwah hasanah (teladan yang baik) bagi anak-anaknya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak banyak mendikte Hasan dan Husein melalui kata-kata, tetapi mereka tumbuh menjadi cucu yang mulia karena melihat langsung akhlak kakeknya.

Begitu pula ketegasan beliau kepada putrinya, "Jika aku melihat putriku, Fatimah mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya." Kita mungkin sudah tidak asing lagi mendengar kisah ini. Betapa Rasulullah bersikap tegas dan menjadi teladan nyata bagi keluarganya. Kisah lainnya menunjukkan bagaimana Nabi Ibrahim selalu berdoa, "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang mendirikan salat." (QS. Ibrahim: 40).

Oleh karena itu, berikut adalah hal-hal mendasar yang pertama kali harus diajarkan kepada anak:

Pertama, Tauhid Perkenalkan anak kepada Allah terlebih dahulu. Siapa itu Allah? Untuk apa kita hidup? Dan akan ke mana kita setelah mati nanti? Sesuai dengan Al-Qur'an Surah Az-Zariyat ayat 56, kita diciptakan semata-mata untuk beribadah.

Hal ini sejalan dengan ayat:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberikan pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman: 13).

Kedua, Akhlak Orang tua harus senantiasa memberikan contoh nyata yang baik, yang mencakup:
  • Hubungan dengan Allah: Saat anak melihat kita salat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, dan berzikir, mereka akan memahami bahwa ibadah adalah hal yang utama.
  • Hubungan sesama manusia: Ketika kita tidak ragu meminta maaf kepada pasangan saat melakukan kesalahan di depan anak, atau bahkan meminta maaf kepada anak kita sendiri jika kita sebagai orang tua memang salah, itu akan menjadi pelajaran adab yang sangat berharga untuk diingat dan ditiru oleh anak.
  • Hubungan dengan diri sendiri: Kita harus menjaga lisan, menjaga waktu, dan menjaga pandangan. Anak akan memperhatikan dan belajar mengontrol diri serta mengelola emosi mereka dari cara kita bersikap.

Ketiga, Berdoa Selain doa Nabi Ibrahim dalam Surah Ibrahim ayat 40, kita juga mengenal doa: "Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayanii shoghiiroo... Robbi hablii minash shoolihiin."

Hendaknya kita senantiasa mengajarkan dan mengamalkan doa-doa ini secara langsung di depan anak-anak kita.

Allah lebih dulu menuntut kita, para orang tua, untuk menjadi saleh. Anak tidak butuh orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang mau terus belajar menjadi teladan, jujur saat berbuat salah, dan istikamah saat berada di jalan yang benar. Kelak, jejak langkah anak akan menjadi cerminan dari jejak langkah kita hari ini.

Mari kembali kepada Islam kafah yang secara sempurna menempatkan posisi serta hubungan yang tepat antara orang tua dan anak.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar