
Oleh: Darul Iaz
Jurnalis Lepas
JAKARTA — Pendakwah sekaligus kritikus sosial, Ustaz Felix Siauw, melontarkan kritik keras terhadap realitas sistem demokrasi modern di Indonesia. Ia menilai konsep pemisahan kekuasaan (division of power) atau Trias Politika yang dianut saat ini telah runtuh total dan menjelma menjadi wadah korup kekuasaan tunggal yang melanggengkan "industri kebodohan".
Ustaz Felix juga meluruskan tudingan yang sering dialamatkan kepadanya. Ia menegaskan tidak pernah memiliki masalah dengan Pancasila, melainkan secara fundamental bermasalah dengan cara kerja sistem demokrasi.
Kolusi Antar-Lembaga Negara dan 'Politik Dagang Sapi'
Menurut Ustaz Felix, pembagian kekuasaan menjadi eksekutif, legislatif, dan yudikatif kini hanya menjadi tameng ilusi. Pada realitasnya, ketiga cabang kekuasaan tersebut telah melebur menjadi satu entitas tunggal yang dikendalikan oleh kartel kepentingan partai politik yang sama. Akibatnya, fungsi pengawasan (check and balances) mati total.
"Guna division of power itu adalah berpikir kritis supaya kekuasaan tidak berpusat di satu orang. Celakanya, sekarang legislatif, eksekutif, hingga yudikatif dikuasai oleh kelompok yang sama," cetus Ustaz Felix dalam tayangan berjudul “Alasan Kenapa Aku Makin Bermasalah Dengan Demokrasi” di kanal YouTube pribadinya.
Ustaz Felix menyoroti bagaimana anggota DPR (legislatif) yang seharusnya mengontrol pemerintah, justru turun tangan menjadi "tim pembersih" untuk membela pernyataan-pernyataan blunder dari pihak eksekutif. Ia mencontohkan pembelaan legislator terhadap statemen Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dianggap tidak berdampak pada masyarakat desa.
Tak hanya legislatif, Ustaz Felix menilai yudikatif pun telah kehilangan independensinya. Ia menyentil kasus di Mahkamah Konstitusi (MK) era Presiden Jokowi yang meloloskan Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres melalui hubungan kekerabatan, yang ia sebut sebagai contoh nyata dari adagium absolute power corrupt absolutely.
Sistem ini, menurutnya, memaksa pemimpin terjebak dalam "politik dagang sapi" untuk membagi-bagikan jatah kekuasaan dan proyek kepada koalisi, termasuk maraknya fenomena salah urus jabatan di lembaga baru seperti Badan Gizi Nasional (BGN).
Sengaja Memelihara 'Industri Kebodohan'
Lebih jauh, Ustaz Felix membongkar taktik sistem politik hari ini yang dinilainya sengaja memelihara pembodohan massal agar status quo tetap aman. Strategi ini disamakannya dengan era keruntuhan Romawi Kuno, di mana penguasa membangun Colosseum dan menyajikan hiburan masif untuk mengalihkan fokus rakyat dari lonjakan pajak dan penurunan daya beli.
"Industri kebodohan itu adalah gimana caranya agar orang-orang yang dipimpin tidak pintar. Ketika mereka dibuat tidak kritis, penguasa bisa menyetir keputusan mereka. Akibatnya, masyarakat memilih pemimpin bukan karena kompetensi, tapi karena gimik permukaan seperti 'gemoy', lucu, atau kasihan," tegasnya.
Menolak Politik Praktis, Pilih Jalan Literasi
Ketika disinggung mengenai desakan agar dirinya masuk ke dalam politik praktis untuk membawa perubahan, Ustaz Felix menolak dengan tegas. Ia menilai masuk ke dalam sistem yang secara struktural cacat dan korup hanya akan sia-sia karena besarnya pemusatan kekuasaan tidak memungkinkan terjadinya kebaikan.
Sebagai solusi, Ustaz Felix memilih menempuh jalur pembebasan pemikiran (liberasi berpikir) dengan mendidik masyarakat untuk berani bersikap kritis terhadap kebijakan penguasa, sebuah metode yang menurutnya diadopsi dari pergerakan Nabi Muhammad ï·º.
"Solusinya, kita harus mulai dari pembebasan pemikiran. Kita harus kritis dulu dan jangan pernah berhenti bertanya. Musuh utama dari industri kebodohan dan kezaliman adalah orang-orang yang menggunakan akal sehatnya untuk berpikir kritis," pungkas Ustaz Felix.

0 Komentar