
Oleh: Ummu Zaid
Penulis Lepas
Di tengah konflik penindasan dan penjajahan yang terus dilancarkan oleh Israel terhadap rakyat Palestina, terdapat sisi lain yang mengiris hati dunia: anak-anak Gaza mulai berhenti bicara. Fenomena ini terjadi bukan karena mereka menyandang disabilitas tunawicara sejak lahir, melainkan akibat trauma psikologis berat pascakekerasan genosida yang masif.
Diperkirakan kurang lebih satu juta anak di Gaza kini kehilangan kemampuan berbicara secara normal. Kesunyian ini menjadi bukti konkret betapa mengerikannya dampak kerusakan mental yang ditinggalkan oleh pendudukan zionis di tanah duka tersebut.
Penderitaan dan keheningan trauma yang dialami oleh generasi muda Gaza merupakan dampak sistematis dari kejahatan entitas zionis yang tiada henti menyerang, membunuh, dan meruntuhkan infrastruktur kota. Ada upaya terstruktur tidak hanya untuk menghancurkan fisik rakyat Palestina, tetapi juga melumpuhkan pertahanan psikologis anak-anak sebagai masa depan bangsa.
Tragisnya, hingga hari ini para pemimpin dunia, lembaga PBB, hingga institusi HAM internasional seolah dibuat bungkam seribu bahasa. Mereka tidak mampu melakukan tindakan riil yang signifikan untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan ini. Komitmen mereka sejauh ini hanya terbatas pada pemberian bantuan logistik kemanusiaan darurat, tanpa pernah menyentuh opsi militer, seperti mengirimkan pasukan perdamaian untuk menghalau agresor.
Berharap pada penguasa negeri-negeri Muslim saat ini pun seakan menemui jalan buntu karena mereka telah tersandera oleh kepentingan politik dan ekonomi masing-masing. Kondisi ini kian diperparah oleh kenyataan bahwa umat Islam hari ini tidak lagi memiliki perisai pelindung global, yaitu institusi Khilafah Rasyidah.
Menembus Sekat Nation-State Menuju Pembebasan Hakiki
Penderitaan anak-anak Palestina tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Mereka tidak sekadar membutuhkan terapi psikologis atau pasokan makanan instan, melainkan tanah air mereka harus dibebaskan seutuhnya dari belenggu penjajahan Israel. Kejahatan militer entitas zionis mutlak harus dilawan dengan pilar pertahanan yang sepadan melalui mobilisasi pasukan umum.
Oleh karena itu, penyelesaian problematis global ini memerlukan langkah-langkah strategis dan ideologis yang sistematis:
- Membongkar Sekat Pemikiran Nation-State: Hari ini perjuangan umat Islam terkendala oleh sekat pemahaman negara-bangsa (nation-state). Pandangan ini membuat negeri-negeri Muslim mencukupkan diri dengan berdakwah dan bergerak di skala domestik mereka sendiri, seolah penderitaan di Gaza hanyalah urusan internal bangsa Palestina semata. Pemahaman ini harus diubah menjadi kesadaran akidah yang bersifat global.
- Menggalang Dakwah Ideologis Secara Berjamaah: Umat Islam perlu bergerak bersama dalam aktivitas dakwah ideologis yang terorganisasi (berjamaah). Dakwah ini bertujuan untuk menyatukan visi, menyadarkan umat akan kewajiban syariat, serta menyerukan persatuan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia di bawah satu kepemimpinan politik tunggal.
- Mengirimkan Pasukan Militer Melalui Institusi Khilafah: Kehadiran institusi Khilafah di tengah-tengah umat Islam akan bertindak sebagai pelaksana hukum jihad fi sabilillah. Melalui institusi global inilah, komando resmi pengiriman tentara gabungan dari berbagai negeri Muslim dapat diwujudkan secara nyata untuk mengusir penjajah dan mengembalikan kemuliaan Islam.
Sudah saatnya umat Islam beranjak dari sekadar solusi pragmatis-parsial dan mulai mengupayakan kembalinya kehidupan Islam yang kaffah. Dengan hadirnya pelindung institusional yang independen, pembebasan Palestina dari cengkeraman penjajahan akan semakin dekat, dan perlindungan terhadap darah serta hak bicara anak-anak Gaza dapat dijamin secara hakiki. Langkah perjuangan ini merupakan representasi nyata dari predikat umat terbaik yang disematkan oleh Allah ﷻ:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3]: 110)
Wallahua’lam bish-shawab.

0 Komentar