
Oleh: Dewi Puspita Sari, M.T.
Pengamat Kebijakan Publik
Gaza telah menjadi ladang pembantaian bagi insan pers. Tercatat lebih dari 300 jurnalis gugur sejak 7 Oktober 2023. Di sisi lain, jumlah rakyat Gaza yang menjadi korban kekejaman brutal hingga kini telah mencapai 72.736 orang tewas dan 172.535 orang luka-luka. Aneksasi yang dilakukan zionis Israel kian meluas, bahkan mereka telah menyiapkan operasi serangan baru untuk memperluas okupasi wilayah. Dampak yang paling memilukan adalah banyaknya anak-anak Palestina yang terpaksa diamputasi anggota tubuhnya akibat perang yang membabi buta.
Pembantaian muslim Palestina masih terus terjadi hingga detik ini. Kekejaman zionis tergolong sangat mengerikan karena tidak hanya menyasar orang yang hidup, melainkan juga merampas kehormatan mereka yang sudah wafat. Orang yang hidup dibunuh secara sistemis, termasuk kaum perempuan, anak-anak, dan lansia yang tak berdaya. Sementara bagi yang sudah wafat, jenazah mereka dilarang dikuburkan di tanah kelahiran sendiri. Rakyat bahkan dipaksa membongkar kuburan keluarganya untuk dipindahkan ke lokasi lain.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa para pemukim ilegal zionis memaksa warga Palestina menggali kembali kuburan seorang warga di Tepi Barat bagian utara. Warga Palestina tersebut dipaksa untuk memindahkan jenazah keluarganya dengan dalih lokasi makam terlalu dekat dengan wilayah permukiman ilegal Israel. Meskipun pihak militer Israel (IDF) mengakui bahwa pemakaman tersebut sebenarnya telah dikoordinasikan sebelumnya, para pemukim ilegal dari Sa-Nur tetap mendatangi lokasi dengan alat berat ekskavator untuk memaksa pembongkaran makam.
Mandulnya Solusi Barat dan Kerapuhan Internal Zionis
Zionis terbukti tidak pernah memedulikan seruan gencatan senjata. Mereka terus menggempur Gaza karena mendapat sokongan politik, militer, dan finansial yang masif dari Amerika Serikat (AS) beserta sekutu baratnya. Demi melancarkan agenda genosida dan perluasan okupasi, mereka sengaja menargetkan para jurnalis agar fakta kejahatan perang di lapangan tidak terendus oleh dunia luar. Mereka juga memoles citra di media digital dengan memobilisasi para pendengung (buzzer) untuk menggiring opini global seolah-olah mereka adalah pihak korban (playing victim).
Namun, kebohongan struktural pasti akan terungkap. Dalih membela diri yang digaungkan zionis dan sekutunya kini mulai ditentang oleh rakyat mereka sendiri. Banyak warga Israel yang menolak wajib militer menjadi tentara IDF hingga lebih memilih mendekam di penjara, sementara gelombang demonstrasi meluas hingga mengguncang stabilitas pemerintahan.
Di medan tempur, para tentara mereka dilaporkan mengalami depresi berat akibat trauma perang hingga kerap menembaki rekan sendiri (friendly fire). AS pun mengalami nasib serupa; sekutu terkuat zionis tersebut diguncang protes internal oleh rakyatnya sendiri karena ambisi perang yang membabi buta telah memicu inflasi besar dan merugikan perekonomian domestik. Lantas, pantaskah negeri-negeri Muslim masih menggantungkan harapan pada peradaban Barat yang secara internal sedang sekarat?
Dunia dan kaum muslim tidak boleh tinggal diam atas genosida di Gaza. Keberadaan entitas zionis di atas tanah milik muslim Palestina merupakan ancaman nyata bagi kelangsungan hidup manusia. Karakteristik entitas penumpah darah ini bahkan telah tersirat dan tersurat di dalam Al-Qur'an, sehingga mustahil bagi mereka untuk hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain.
Sayangnya, para penguasa di lebih dari 50 negeri Muslim saat ini tampak tidak tergerak untuk mengerahkan militer demi membebaskan Palestina. Mereka terbelenggu oleh sekat nasionalisme yang telah mengikis ikatan ukhuwah islamiyah. Fanatisme buta terhadap batas wilayah membuat para pemimpin kehilangan kesadaran politik, sehingga tak berdaya menghadapi kebiadaban global. Rakyat di berbagai belahan dunia memang telah menyaksikan pengkhianatan ini, namun arus perubahan sering kali dibajak kembali oleh negara adidaya melalui propaganda demokrasi yang memecah belah.
Melahirkan Kesadaran dan Merubah Tatanan Dunia
Pergantian kepemimpinan sering terjadi, tetapi penindasan di Palestina tak pernah berhenti. Ini membuktikan bahwa masalah utamanya bukan sekadar pergantian figur penguasa, melainkan sistem aturan apa yang digunakan untuk memimpin dunia. Sejarah mencatat bahwa dunia akan terus porak-poranda ketika para penjajah memegang kendali hegemoni. Sebaliknya, Palestina dan dunia terbukti aman serta sejahtera ketika Islam memimpin peradaban. Allah ﷻ menegaskan peta konflik ideologis ini dalam firman-Nya:
الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa: 76)
Pembebasan Palestina mutlak membutuhkan kesadaran politik umat. Keteguhan rakyat Gaza dalam memegang kebenaran telah membuka mata dunia, memicu pertumbuhan mualaf, hingga mengubah fungsi gereja menjadi masjid di berbagai belahan bumi Barat. Pemikiran jernih tentang hakikat keadilan hakiki hanya bisa ditemui dalam syariat Islam.
Ukhuwah sejati secara global hanya akan terwujud secara sempurna ketika syariat Islam tegak secara menyeluruh (kaffah) dalam naungan institusi Khilafah Islamiyah. Hanya ideologi Islam yang mampu menjaga kelangsungan hidup manusia secara universal, sebagaimana firman Allah ﷻ:
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 179)
Jika pelaksanaan satu hukum syariat seperti qisas saja mampu menjamin kelangsungan hidup manusia, maka penerapan seluruh hukum Allah di bawah naungan Khilafah tentu akan mengembalikan dunia pada tatanan yang penuh berkah. Institusi inilah yang akan memutus urat nadi penjajahan zionis, mengembalikan tanah Palestina kepada pemilik sahnya, serta memastikan warga hidup mulia.
Khilafah Sebagai Agenda Utama (Qadhiyah Masiriyah)
Khalifah Umar bin Khattab ra. dahulu pernah menegaskan: “Tiada kemuliaan tanpa Islam, tak sempurna Islam tanpa syariah, dan takkan tegak syariah tanpa daulah (negara).” Institusi politik global inilah yang akan menjadi juru selamat dari cengkeraman penjajah kapitalis.
Oleh karena itu, qadhiyah masiriyah (agenda utama kehidupan) umat Islam saat ini adalah berjuang menegakkan kembali Khilafah. Institusi inilah yang memiliki otoritas syar'i untuk menyatukan dan mengomandoi pakta militer dunia Islam guna melakukan jihad membebaskan seluruh tanah Palestina.
Sejarah telah mencontohkan, ketika Rasulullah ﷺ memimpin Daulah Islam di Madinah, beliau mengikat seluruh warga negara, termasuk kaum Yahudi, dengan perjanjian Piagam Madinah yang ketat. Begitu mereka melakukan pengkhianatan dan melanggar perjanjian politik tersebut, Rasulullah ﷺ langsung mengambil tindakan tegas berupa pengusiran demi menjaga kedaulatan negara dan kewibawaan kaum muslim.
Wallahua’lam bish-shawab.

0 Komentar