DUNIA BUNGKAM, ANAK GAZA JADI TARGET ZIONIS


Oleh: Nurhy Niha
Penulis Lepas

Masa depan anak-anak di Jalur Gaza kini berada di ambang kehancuran total akibat genosida sistematis oleh entitas Zionis yang terus berlangsung tanpa henti. Ironisnya, selama hampir tiga tahun terakhir, dunia internasional seolah memilih untuk bungkam. Di bawah langit Gaza yang kelabu, anak-anak hidup bagaikan raga tanpa perisai.

Tak ada kabar pilu yang benar-benar mampu menggerakkan kesadaran para penguasa dunia, sebab rintihan mereka tenggelam di balik bisingnya panggung politik global. Di saat yang sama, institusi politik pemersatu umat (yaitu Khilafah Islamiah) belum terwujud di tengah-tengah umat, meninggalkan anak-anak Gaza menderita sendirian tanpa adanya kepengurusan dan perlindungan hukum yang hakiki.

Sebagaimana dilansir oleh BBC (24/6/2026), Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyatakan bahwa agresi militer Israel sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 41.000 warga Palestina, dengan mayoritas korban jiwa didominasi oleh kelompok anak-anak dan perempuan. Serangan brutal ini juga menyebabkan sebagian besar dari 2,3 juta penduduk Gaza kehilangan tempat tinggal dan terjebak dalam krisis kemanusiaan yang akut.

Keadaan ini diperparah oleh tindakan keji militer Zionis yang secara sengaja mengarahkan target serangan kepada anak-anak demi memuluskan agenda genosida mereka. Laporan resmi dari berbagai lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mempertegas data kelam tersebut: lebih dari 16.000 anak Gaza dilaporkan telah gugur sebagai syuhada. Nyaris setiap hari, selalu ada anak yang kehilangan nyawa akibat brifing serangan udara, dentuman artileri, maupun bidikan senapan penembak jitu (sniper).


Penderitaan Tanpa Akhir dan Stigmatisasi Fisik Generasi

Anak-anak yang berhasil bertahan hidup pun harus berkompromi dengan takdir yang tidak kalah memilukan. Di usia yang masih sangat belia, mereka terpaksa menanggung luka fisik permanen, kehilangan anggota tubuh akibat amputasi, hingga menyandang status disabilitas. Kondisi ini bagaikan mimpi buruk yang tak kunjung usai.

Sudah jatuh tertimpa tangga, di tengah kondisi fisik yang melemah, mereka harus memikul trauma psikologis yang sangat berat akibat kehilangan orang tua secara tragis, menyaksikan rumah mereka rata dengan tanah, serta menghadapi teror suara ledakan bom yang tiada jeda.

Menjadikan anak-anak sebagai sasaran tembak utama bukanlah sebuah ketidaksengajaan teknis atau sekadar efek samping (collateral damage) dari sebuah peperangan. Ini adalah bagian dari strategi genosida terencana untuk memutus mata rantai generasi muslim di Palestina sejak dini.

Data dari Kementerian Kesehatan setempat serta berbagai lembaga hak asasi manusia menunjukkan bahwa korban anak-anak mencapai lebih dari 40% dari total korban jiwa keseluruhan. Angka yang sangat timpang ini menjadi bukti empiris adanya upaya sistematis untuk mematikan masa depan bangsa Palestina langsung dari akarnya.


Ambisi "Israel Raya" dan Kemandulan Hukum Internasional

Entitas Zionis menggunakan segala instrumen kekerasan tanpa batas demi mewujudkan ambisi ideologis mereka: menjajah seluruh wilayah Palestina dan mendirikan proyek "Israel Raya" (Greater Israel). Dalam mengejar target ekspansi ini, mereka sepenuhnya mengabaikan hukum kemanusiaan internasional. Lembaran draf gencatan senjata berkali-kali berlalu begitu saja tanpa arti, dan kecaman normatif dari lembaga sekelas PBB justru dibalas dengan arogansi militer yang disokong penuh oleh para sekutu Barat mereka. Sikap kepala batu ini menjadi bukti nyata bahwa tekanan diplomatik tidak akan pernah bisa menghentikan mesin perang yang digerakkan oleh ideologi penjajah.

Umat Islam tidak boleh lagi terjebak berharap pada sirkulasi pergantian perdana menteri Zionis, sebab faksi politik mana pun di sana memiliki visi kolonial yang sama: melenyapkan Palestina. Bergantung pada PBB pun adalah sebuah kesia-siaan yang nyata. Hal ini terbukti dari mandulnya puluhan draf resolusi Dewan Keamanan PBB akibat penggunaan hak veto dari Amerika Serikat selaku sekutu abadi Zionis.

Sementara itu, dunia Islam saat ini terjebak dalam sekat nasionalisme sekuler (nation-state) dan kalkulasi politik pragmatis. Jangankan mengirimkan pasukan militer resmi untuk menolong, sebagian penguasa negeri muslim justru sibuk mempererat hubungan ekonomi, dagang, dan diplomatik dengan AS serta entitas penjajah.


Khilafah: Solusi Hakiki Penyelamat Bumi Gaza

Satu-satunya solusi hakiki yang mampu membebaskan tanah suci Palestina secara tuntas dari cengkeraman penjajah semata-mata hanyalah melalui tegaknya kembali Daulah Khilafah Islamiah. Khilafah merupakan wadah politik tunggal pemersatu umat yang memiliki otoritas resmi dan kekuatan nyata untuk memobilisasi tentara kaum muslim dalam institusi jihad fi sabilillah guna mengusir penjajah. Tanpa adanya kekuatan politik dan militer yang mandiri, setiap kesepakatan damai di atas kertas hanya akan berakhir menjadi kompromi palsu yang terus merugikan umat Islam.

Khilafah akan mengembalikan fungsi perlindungan hakiki bagi anak-anak Palestina. Di bawah naungannya, hak hidup mereka dijamin penuh oleh hukum syarak, rumah sakit serta pusat pemulihan trauma psikologis (trauma center) akan dibangun kembali secara masif, akses pendidikan berkualitas dibuka gratis, dan kesejahteraan finansial mereka dipenuhi secara sistemik dari Baitulmal. Khilafah memperlakukan setiap anak sebagai aset masa depan peradaban umat yang wajib dijaga jiwa, akal, kesucian, dan fisiknya.

Berjuang seoptimal mungkin demi tegaknya institusi politik Islam ini adalah persoalan hidup dan mati yang harus ditempuh oleh umat Islam saat ini. Hilangnya perisai pelindung umat inilah yang menjadikan Gaza berada dalam penderitaan yang tak berkesudahan. Allah ﷻ telah memerintahkan kewajiban persatuan ideologis ini dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali 'Imran: 103).

Ayat mulia ini menegaskan bahwa kekuatan hakiki umat terletak pada ketundukan di bawah syariat-Nya secara berjamaah, bukan pada sekat-sekat batas negara bangsa yang membuat kita abai terhadap penderitaan saudara seakidah. Keadaan umat yang terpecah-belah inilah yang membuat Gaza terluka sendirian. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan mengenai eratnya ikatan persaudaraan iman dalam sabdanya:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim).


Kesimpulan

Tugas mendesak kita hari ini adalah terus mengobarkan semangat berdakwah, menyerukan persatuan Islam yang berdasarkan akidah, dan menjaga agar isu pembebasan Palestina tetap hidup di tengah masyarakat. Jangan biarkan kabar tentang penderitaan anak-anak Gaza tenggelam oleh riuhnya arus informasi hiburan dunia yang melenakan. Suara kebenaran hukum syarak harus terus disuarakan dengan lantang agar kesadaran ideologis umat bangkit untuk mewujudkan kembali perisai (junnah) yang akan membawa keselamatan hakiki bagi bumi Palestina.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar