
Oleh: Ina Febri Anti, S.Pd.
Aktivis Muslimah
Dunia yang semakin canggih hari ini justru melahirkan tekanan psikologis baru yang membuat generasi Z (Gen Z) kerap terjebak dalam pusaran kecemasan yang perlahan menggerogoti pikiran. Bayang-bayang masa depan, problem finansial, hingga ekspektasi sosial berubah menjadi beban hidup yang tidak lagi dipandang sekadar sebagai tantangan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan mental mereka.
Berdasarkan hasil survei daring yang dirilis oleh Jakpat (Desember 2025) terhadap 1.158 responden Gen Z dengan margin of error di bawah 5%, terungkap bahwa kekhawatiran terhadap masa depan menjadi penyebab utama gangguan mental Gen Z (60%), diikuti oleh tekanan finansial (57%), ekspektasi sosial (42%), dan perasaan tidak berdaya (36%). Dampak klinisnya pun terlihat jelas pada perubahan suasana hati (mood swings) yang mencapai 62%, gangguan tidur (50%), kecemasan berlebih (38%), serta kesulitan dalam mengelola emosi (38%), sebagaimana dilansir oleh Goodstat.
Faktor pemicu krisis mental ini sangat beragam, mulai dari algoritma media sosial yang terus mendikte standar hidup "sempurna" hingga tekanan sosial lingkungan yang menuntut anak muda untuk selalu terlihat berhasil, bahagia, dan produktif secara instan. Selain itu, arus informasi yang membanjir tanpa henti (information overload) serta kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain kian memperburuk kondisi kejiwaan generasi digital ini.
Penyakit Sosial Global dan Stigmatisasi Generasi
Fenomena ini sejatinya telah menggejala di seluruh penjuru dunia. Ketidakpastian karier dan kondisi ekonomi yang sulit diprediksi membuat Generasi Z cenderung bersikap skeptis terhadap masa depan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa sekitar satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun, atau sekitar 14,3 persen, mengalami gangguan kesehatan mental secara global. Angka ini berkontribusi terhadap 15 persen beban penyakit peradaban pada kelompok usia tersebut. Meskipun angkanya sangat masif, mayoritas kasus ini tidak terdeteksi sejak dini akibat minimnya penanganan yang tepat, seperti diulas oleh Kompas.
Namun, dari pekatnya kondisi tersebut, kini muncul gelombang resistensi yang diprediksi dapat menjadi titik balik penting bagi gerakan pemuda. Di tengah ketidakpastian yang terus meningkat, Gen Z mulai menunjukkan kesadaran kolektif untuk bertahan hidup dan melawan berbagai tantangan sistemis yang menjepit mereka.
Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini merupakan buah pahit dari penerapan peradaban sekuler-kapitalistik yang mendewakan pencapaian materi. Dalam sistem ini, potensi besar pemuda perlahan dilemahkan. Gen Z didehumanisasi oleh tuntutan produktivitas dengan standar kesuksesan yang serbamaterialistis. Alhasil, banyak dari mereka kehilangan arah dalam memahami tujuan hidup yang hakiki karena terus-menerus dipaksa berpikir pragmatis oleh sistem yang rusak.
Mirisnya, kondisi ini diperparah oleh absennya peran pengurusan (ri'ayah) negara dalam membina ketahanan mental dan spiritual generasi muda. Bukannya dirangkul dan diberi jaminan keamanan serta ruang berkembang, mereka justru sering kali mendapatkan cap atau stigmatisasi negatif dari generasi di atasnya, seperti dituduh kurang disiplin, bermental rapuh (snowflake generation), hingga tidak bertanggung jawab. Padahal, rapuhnya mentalitas tersebut merupakan produk langsung dari sistem lingkungan yang membentuk mereka.
Mengubah Kecemasan Menjadi Energi Perubahan
Di sisi lain, jika kita jeli melihat peluang, rasa cemas dan sikap kritis yang dimiliki Gen Z sebenarnya dapat dialihkan menjadi motor penggerak perubahan sosial. Rasa cemas membuat mereka lebih peka terhadap ketidakadilan di sekitar mereka, sementara sikap kritis membantu mereka mempertanyakan status quo yang dianggap tidak ideal. Jika potensi ini diarahkan dengan kompas yang benar, kedua hal tersebut akan menjadi kekuatan pembebas untuk meruntuhkan hegemoni sistem sekuler saat ini.
Islam hadir sebagai solusi hakiki atas berbagai krisis peradaban yang melanda dunia saat ini melalui prinsip rahmatan lil 'alamin. Penerapan nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan bernegara tidak hanya akan mengatur hubungan spiritual individu dengan Sang Pencipta, melainkan juga membentuk ketenangan jiwa (tumaninah) dan rasa aman yang rill dalam menjalani kehidupan sehari-hari melalui jaminan kesejahteraan ekonomi.
Sejarah emas kejayaan Islam telah membuktikan bahwa di bawah naungan Khilafah, generasi muda dibina agar memiliki karakter yang kuat dengan kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) yang matang, sekaligus unggul dalam berbagai bidang sains dan keilmuan. Sosok seperti Muhammad al-Fatih, Ibnu Sina, dan Zaid bin Tsabit tidak hanya fokus pada kesalehan spiritual di atas sajadah, melainkan aktif memimpin peradaban dan mengembangkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan umat manusia.
Penutup
Kehadiran negara yang bertindak nyata sebagai pelindung (junnah) dan pelayan umat (khadimul ummah) memegang peran krusial dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup dasar secara adil dan merata bagi seluruh pemuda. Dalam tatanan Islam, negara akan menyediakan fasilitas konseling berbasis akidah, menggratiskan biaya pendidikan, dan membuka lapangan pekerjaan yang berkah di bawah payung sistem ekonomi Islam.
Hal ini sekaligus akan menyadarkan pemuda masa kini untuk memahami dan mengemban ideologi (mabda') Islam secara serius, serta menumbuhkan kepedulian yang tinggi terhadap nasib umat. Dengan kesadaran ideologis itulah, harapan akan lahirnya "generasi emas" yang membawa perubahan peradaban tidak lagi sekadar menjadi jargon atau angan-angan utopia di atas baliho, melainkan dapat diwujudkan secara nyata di muka bumi.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar