JANJI BERHENTI YANG BERKHIANAT: DUKA TAK KUNJUNG REDA


Oleh: Irma Suryani, S.T.
Aktivis dan Pemerhati Kebijakan Publik

Janji berhenti itu hanyalah daun kering yang ditiup angin; terdengar berdesir seolah membawa kabar damai, namun nyatanya tidak mampu menahan derasnya banjir darah yang terus meluap di tanah Gaza. Gencatan senjata itu ibarat kabut tipis yang sesaat menyamarkan pandangan. Namun, di balik selubung samar itu, api kejahatan justru menyala lebih terang dan memakan korban tanpa henti. Kata-kata penenangan yang diucapkan hanyalah topeng yang dipasang rapi. Sementara itu, di bawahnya, pisau pembunuhan tetap berputar dan melukai tanpa ampun.

Duka di sini bukan sekadar bayang-bayang yang bisa diusir dengan janji manis; ia telah berakar kuat seperti pohon tua yang tumbuh di atas reruntuhan, setiap hari bertambah rimbun dengan air mata dan jeritan yang tidak pernah berhenti menggema. Damai yang diharapkan ternyata hanya mimpi buruk yang berpura-pura indah. Kenyataan pahitnya, maut tetap menari di setiap sudut jalan, dan luka Gaza tetap basah, perih, serta tak kunjung sembuh.

Gencatan senjata yang digembar-gemborkan oleh dunia internasional (khususnya yang dimediasi oleh Amerika Serikat 'AS' pada Oktober 2025 lalu) ternyata hanyalah topeng tipis yang menutupi kelanjutan pembantaian di tanah Palestina. Data menunjukkan kenyataan pahit yang tidak terbantahkan: sejak perjanjian itu diberlakukan, serangan rezim Zionis Israel dilaporkan telah merenggut nyawa lebih dari 1.000 jiwa warga Gaza. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan bukti nyata bahwa "perdamaian" yang ditawarkan hanyalah ilusi. Sementara itu, peluru dan kehancuran tetap menghantui setiap sudut kota yang sudah hancur lebur tersebut, sebagaimana dilansir oleh Al Jazeera (17/6/2026).


Konspirasi Bantuan Militer dan Standar Ganda AS

Pelanggaran kemanusiaan ini tidak terjadi secara kebetulan atau insidental, melainkan berjalan secara sistematis dan terencana di hulu kebijakan. Di balik layar, Amerika Serikat yang mengaku sebagai penjamin perdamaian sekaligus penengah utama, justru bertindak sebagai pendukung terbesar dan penyedia logistik utama bagi rezim Zionis. Laporan dari Arab Center Washington DC (4/6/2026) mengungkapkan bahwa di tengah derasnya desakan publik dunia untuk menghentikan dukungan persenjataan, AS justru menyusun strategi baru. Mereka mengubah bentuk bantuan militer agar tetap mengalir tanpa diawasi publik, serta mempererat integrasi sistem pertahanan dan intelijen mereka dengan Israel.

Artinya, di satu sisi AS berbicara normatif soal pentingnya gencatan senjata di mimbar PBB, namun di sisi lain tangan mereka tetap menyuplai bom dan amunisi yang digunakan untuk membunuh anak-anak, wanita, serta warga sipil Gaza. Fakta empiris ini menegaskan satu hal penting: gencatan senjata semacam ini tidak pernah dirancang untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina. Ia hanyalah strategi politik Barat untuk meredakan kemarahan opini publik dunia, sekaligus memberi waktu bagi rezim Zionis untuk mengatur ulang kekuatan (regrouping), namun tetap membiarkan pembunuhan berjalan secara terukur dan terkendali.

Mengandalkan Amerika Serikat (yang secara terbuka menjadi sekutu abadi dan pendukung utama penjajah) untuk menjadi penengah yang adil adalah sebuah kesalahan fatal yang terus berulang. Menggantungkan nasib umat Islam kepada negara kapitalis penjajah sama saja dengan melanggengkan penjajahan dan membiarkan darah kaum muslim terus mengalir sia-sia.


Ketiadaan Khilafah sebagai Akar Krisis Umat

Akar masalah yang sesungguhnya bukanlah pada pelanggaran perjanjian teknis atau kurangnya mediasi internasional, melainkan pada hilangnya perisai yang seharusnya melindungi umat Islam di seluruh dunia. Selama lebih dari satu abad, pascaruntuhnya institusi Khilafah Islamiah pada 1924, umat Islam hidup tanpa naungan politik tunggal. Padahal, institusi tersebut merupakan satu-satunya sistem kenegaraan yang memiliki kewajiban syar'i untuk menjaga kedaulatan tanah air, melindungi nyawa dan harta benda umat, serta mengusir segala bentuk penjajahan dari bumi Islam.

Tanpa kehadiran negara yang menerapkan syariat Allah ï·» secara utuh (kaffah), umat Islam terpecah-belah menjadi lebih dari 50 negara bangsa (nation-state) yang lemah, kerdil, dan mudah dijadikan sasaran kejahatan imperialisme. Sementara itu, tanah suci Palestina terus-menerus terjajah dan darah penduduknya ditumpahkan secara sewenang-wenang. Kondisi memprihatinkan ini menuntut lahirnya kesadaran ideologis baru bagi seluruh komponen umat Islam. Sudah saatnya kita berhenti berharap pada janji manis musuh atau mengandalkan organisasi internasional seperti PBB yang tidak memiliki keberpihakan pada keadilan.

Solusi untuk Palestina tidak akan pernah lahir dari lembar resolusi PBB, pertemuan diplomatik formalitas, atau belas kasihan Barat. Solusi sejati hanya ada dalam jalan hukum yang digariskan oleh Allah ï·», yaitu mobilisasi kekuatan militer kaum muslim melalui institusi jihad fi sabilillah untuk mengusir penjajah Zionis dari tanah wakaf Palestina yang suci. Ini bukan sekadar opsi pilihan politik kontemporer, melainkan kewajiban syar'i yang melekat pada pundak setiap pemeluk Islam yang memiliki kemampuan. Rasulullah ï·º menegaskan kedudukan pemimpin yang bertindak sebagai benteng pertahanan umat dalam sabdanya:

Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الإِÙ…َامُ جُÙ†َّØ©ٌ ÙŠُÙ‚َاتَÙ„ُ Ù…ِÙ†ْ ÙˆَرَائِÙ‡ِ ÙˆَÙŠُتَّÙ‚َÙ‰ بِÙ‡ِ
Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Kesimpulan

Kekuatan jihad itu akan menjadi jauh lebih dahsyat, terorganisasi secara militer, dan mampu membalikkan peta geopolitik global sepenuhnya apabila umat Islam bersatu kembali di bawah naungan Khilafah Islamiah. Hanya dengan bersatu kembali dalam satu komando kepemimpinan yang menerapkan hukum Al-Qur'an dan As-Sunnah, umat Islam akan memiliki kekuatan militer, ekonomi, dan politik yang tangguh, yang membuat musuh-musuh Allah segan serta takut untuk menyakiti satu pun warganya.

Maka dari itu, fokus perjuangan hari ini tidak boleh hanya bertumpu pada kemerdekaan parsial wilayah Gaza semata, melainkan juga perjuangan strategis untuk mengembalikan kembali perisai bagi seluruh umat. Memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah adalah langkah paling mendasar untuk memastikan bahwa di masa depan tidak ada lagi gencatan senjata palsu, tidak ada lagi pembunuhan massal yang dibiarkan, dan tidak ada lagi tanah Islam yang terjajah. Bumi Palestina akan kembali suci, aman, dan damai hanya ketika umat Islam kembali memegang teguh syariat Allah ï·» dan bersatu rapat di bawah panji-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar