
Oleh: Irma Suryani, S.T.
Aktivis dan Pemerhati Kebijakan Publik
Depresi bukanlah jurang pekat yang menelan segalanya, melainkan tanah gersang penuh luka tempat benih-benih kesadaran dan keberanian justru dapat bertumbuh subur. Generasi Z (Gen Z) ibarat pohon yang tumbuh di tengah badai; dahan-dahannya mungkin patah dan daunnya layu diterpa angin ketidakpastian, tekanan sosial, serta ketidakadilan zaman, namun akarnya justru menancap semakin dalam dan kuat.
Rasa sakit, kecemasan, dan keterpurukan yang dulu dianggap sebagai kelemahan, kini bertransformasi menjadi api yang membakar semangat, mengubah setiap luka menjadi perisai, setiap air mata menjadi tenaga, dan setiap rasa tertekan menjadi langkah perlawanan. Dari kegelapan yang pernah membelenggu, mereka kini menjulang tegak menantang keadaan, sekaligus membuktikan bahwa apa yang dulu berusaha mematikan mereka, kini justru menjadi sumber energi perlawanan sistemik.
Sekitar 60 persen Gen Z di Indonesia mengaku hidup dalam kecemasan mendalam akan masa depan. Data survei terbaru dari GoodStats (2026) menunjukkan bahwa angka ini bukan sekadar keluhan musiman, melainkan gambaran nyata kondisi kesehatan mental generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini.
Mulai dari gangguan suasana hati (mood swings) yang mencapai 62 persen, sulit tidur (50 persen), hingga kecemasan berlebih dan kesulitan mengelola emosi (masing-masing 38 persen), telah menjadi luka harian yang wajib mereka pikul. Di seluruh dunia, kondisinya tidak jauh berbeda; Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat lebih dari 262 juta pemuda berusia 15–24 tahun berada dalam status tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan (NEET).
Ketidakpastian karier, tekanan biaya hidup yang melonjak (57 persen responden menyebutnya sebagai pemicu utama), hingga ancaman penggantian peran manusia oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence), seolah membangun tembok tinggi yang menghalangi jalan masa depan mereka, sebagaimana dilansir oleh Kompas (18/6/2026).
Dehumanisasi Kapitalistik dan Stigmatisasi Generasi
Segala tekanan ini tidak muncul dari ruang hampa, melainkan buah pahit dari krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini. Media sosial yang menjadi ruang tumbuh kembang mereka, kerap berubah menjadi arena perbandingan tak berujung yang merusak jati diri. Gaya hidup artifisial yang ditampilkan seolah sempurna memicu rasa rendah diri (inferiority complex) dan kecemasan sosial.
Sebagaimana diulas oleh Mojok.co (30/4/2026), Gen Z yang berani menyuarakan kesehatan mental justru sering dicap “berlebihan” atau “rapuh” oleh generasi pendahulunya, padahal mereka sedang berjuang keras untuk bertahan hidup. Sistem kehidupan yang dibangun di atas nilai-nilai sekuleristik dan kapitalistik telah mereduksi manusia sekadar sebagai alat produksi; nilai kesuksesan seseorang diukur murni dari pencapaian materi duniawi, bukan martabat kemanusiaannya. Akibatnya, potensi besar pemuda dilemahkan secara struktural, kreativitas dikungkung, dan mimpi-mimpi indah mereka dipatahkan oleh realitas pasar yang kejam.
Lebih menyakitkan lagi, negara pun sering kali absen dan abai dalam menjalankan fungsi kepengurusannya (ri'ayah). Belum ada sistem penopang yang kuat untuk menjamin kebutuhan dasar, lapangan pekerjaan yang layak, atau ruang aman bagi kesehatan mental generasi muda. Survei yang dimuat oleh Tirto.id (12/3/2026) menegaskan bahwa hampir 10 persen anak Indonesia (setara dengan 700 ribu jiwa) mengalami gejala kecemasan dan depresi klinis, namun akses penanganan medis dan psikologis masih sangat minim.
Alih-alih dirangkul dan diberikan solusi sistemis, Gen Z malah kerap mendapatkan stigmatisasi buruk: dicap sebagai generasi manja (snowflake generation), mudah mengeluh, atau selalu serba salah di mata generasi milenial dan generasi tua. Padahal, mereka hidup di masa transisi peradaban yang sangat berat: dihantam isu perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi global, hingga disrupsi teknologi yang mengancam eksistensi masa depan mereka sendiri.
Mengubah Kecemasan Menjadi Energi Perlawanan
Namun, di balik pekatnya awan kelabu itu, muncul sinar harapan baru. Rasa cemas dan kekecewaan yang mendalam perlahan bermutasi menjadi kekuatan berpikir kritis. Gen Z mulai bangkit dan menolak diam menerima keadaan. Sebagaimana diulas oleh Kompas (25/5/2026), di berbagai belahan dunia kini bergulir gelombang resistensi yang nyata: mulai dari protes terhadap kebijakan yang merugikan publik, penolakan terhadap eksploitasi korporasi AI, hingga cara-cara kreatif menyuarakan ketidaksetujuan lewat media sosial.
Kecemasan yang dulu membuat terpuruk, kini berubah menjadi energi besar untuk menuntut perubahan tatanan. Sikap skeptis mereka terhadap sistem yang gagal memberi keadilan, justru menjadi benih kesadaran ideologis bahwa dunia ini perlu dirombak secara fundamental, dan merekalah yang harus mengambil peran sebagai agen perubahan tersebut.
Pertanyaan besarnya kini: ke mana arah gelombang perlawanan ini akan bergerak? Perubahan sejati tentu tidak akan pernah cukup jika hanya bermuara pada aksi protes atau penolakan di jalanan semata. Perubahan yang hakiki membutuhkan kerangka besar ideologis dan nilai hukum yang kokoh. Di sinilah Islam hadir menawarkan solusi menyeluruh (kaffah) atas krisis multidimensi masa kini. Islam bukan sekadar pedoman ritual ibadah individual di dalam masjid, melainkan sebuah sistem kehidupan utuh (mabda') yang menjamin kesejahteraan lahir dan batin, guna mewujudkan rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi seluruh alam.
Visi Politik Islam dalam Membina Pemuda
Sejarah emas peradaban telah mencatat dengan tinta emas bahwa di masa kejayaan Islam, pemuda adalah pilar dan kekuatan utama peradaban. Mereka memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) yang kokoh, berilmu luas, berkarakter mulia, dan hidup dengan visi misi yang jelas: beribadah kepada Allah ï·» serta memberi manfaat luas bagi kemanusiaan.
Di bawah naungan negara Khilafah yang menerapkan hukum syarak, pemuda mendapatkan perlindungan penuh. Negara hadir nyata sebagai perisai (junnah) dan pelayan umat (khadimul ummah); menjamin pemenuhan kebutuhan dasar sandang, pangan, papan, pendidikan tinggi berkualitas yang gratis, serta lingkungan sosial yang aman dan adil. Di dalam ekosistem inilah, potensi besar pemuda tidak dipadamkan oleh jeratan ekonomi, melainkan dikembangkan sepenuhnya demi kemajuan peradaban bersama.
Kini, sudah saatnya Gen Z menyadari bahwa jalan keluar sejati dari labirin depresi dan keterpurukan bukanlah dengan meratapi keadaan atau larut dalam kesenangan hedonistik semu. Langkah pertamanya adalah dengan kembali pada nilai-nilai akidah yang benar. Umat membutuhkan pemuda yang siap mengemban misi ideologi Islam, peduli terhadap nasib penderitaan kaum muslim, dan berjuang mewujudkan kembali tatanan kehidupan yang adil di bawah rida Allah ï·».
Dengan berpegang pada prinsip Ilahi, kekuatan kritis dan semangat resistensi yang kini tumbuh subur akan berubah menjadi kekuatan pembangun peradaban mulia. Masa depan emas yang selama ini hanya menjadi jargon kosmetik akan berubah menjadi kenyataan sejarah yang nyata. Dari depresi menuju resistensi, dari resistensi menuju kebangkitan peradaban Islam, itulah jalan ideologis yang hari ini terbentang luas bagi Gen Z.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar