GEN Z: DARI DEPRESI MENUJU RESISTENSI


Oleh: Ummu Khadeejah
Penulis Lepas

Generasi Z (Gen Z) hari ini kerap kali dilabeli oleh publik sebagai generasi yang rapuh, cemas, dan rentan terhadap gangguan mental. Berbagai hasil survei nasional maupun global mengonfirmasi fenomena tersebut. Di Indonesia, data menunjukkan bahwa lebih dari 60% Gen Z merasa cemas akan masa depan mereka, menjadikan mereka kelompok usia yang paling rentan mengalami depresi. Pengaruh masif media sosial, tekanan lingkungan sosial yang kian meninggi, serta ketidakpastian karier global yang ditandai dengan fenomena tingginya angka pengangguran muda, semakin memperparah kondisi psikologis mereka. Fenomena "generasi cemas" ini bukan sekadar isu kesehatan mental individu, melainkan sebuah manifestasi dari krisis global yang lebih mendalam.

Jika ditelisik lebih mendalam, krisis psikologis multidimensi yang menimpa Gen Z bersumber langsung dari tatanan peradaban sekuleristik-kapitalistik. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan (sekularisme) dan menjadikan materi serta eksistensi duniawi sebagai standar kebahagiaan tertinggi. Akibatnya, potensi besar pemuda dilemahkan secara sistemik; jati diri mereka dirusak oleh gaya hidup hedonistik, sementara masa depan mereka digadaikan dalam pasar tenaga kerja yang eksploitatif dan tidak pasti.

Di sisi lain, negara abai dalam menjalankan fungsinya sebagai pelindung dan pelayan generasi (ri'ayah). Alih-alih dirangkul dan diberikan solusi sistemis, Gen Z justru sering kali mendapatkan stigma buruk dari generasi pendahulunya; dianggap manja, lemah (snowflake generation), dan kurang gigih. Padahal, kelelahan mental mereka adalah akibat logis dari rusaknya sistem penopang kehidupan saat ini. Fenomena ini sangat relevan dengan firman Allah ﷻ mengenai kehidupan yang sempit akibat berpaling dari peringatan-Nya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124).


Momentum Anomali: Lahirnya Gelombang Resistensi

Kendati dihadapkan pada depresi dan skeptisisme, kondisi psikologis yang tertekan ini justru melahirkan anomali yang positif, yaitu lahirnya gelombang resistensi. Ketidakpuasan terhadap sistem ekonomi, sosial, dan politik yang ada memicu kesadaran baru di kalangan Gen Z bahwa harus ada perubahan mendasar pada tatanan dunia saat ini. Mereka tidak lagi diam menerima keadaan.

Sikap kritis, skeptis terhadap janji manis kapitalisme, dan keaktifan mereka di ruang publik merupakan modal berharga. Ini adalah peluang besar bagi mereka untuk bangkit, menolak tunduk pada arus destruktif sekuler, dan bergerak menuju kondisi kehidupan yang lebih ideal dan berkeadilan. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd: 11).

Islam hadir sebagai solusi komprehensif atas krisis peradaban hari ini. Penerapan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) terbukti membawa ketenangan, keselamatan hidup, serta mewujudkan rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam). Sejarah mencatat betapa gemilangnya karakter pemuda di masa kejayaan Islam, seperti Ali bin Abi Thalib, Mush'ab bin Umair, hingga Muhammad al-Fatih yang sukses menaklukkan Konstantinopel pada usia muda.


Mencetak Syakhshiyah Islamiyah Unggul

Para pemuda ideologis pada masa khilafah memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) yang kokoh; pola pikir (aqliyah) dan pola sikapnya (nafsiyah) senantiasa berlandaskan pada akidah Islam, sekaligus cakap dalam menguasai sains dan teknologi. Kualitas agung ini lahir karena negara hadir sebagai junnah (perisai/pelindung) yang menjamin seluruh aspek kebutuhan hidup, sistem pendidikan berbasis akidah, serta layanan kesehatan secara adil dan gratis.

Dengan topangan sistem jaminan tersebut, para pemuda dapat fokus mengoptimalkan potensinya untuk umat tanpa dibayangi kecemasan finansial maupun ketakutan akan masa depan. Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah ﷺ juga pernah memberikan kabar gembira tentang kedudukan para pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah ﷻ di hari akhir kelak:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ... وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ
Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya... [di antaranya] seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah (ketaatan) kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Kesimpulan

Depresi dan kecemasan massal yang dialami Gen Z bukanlah takdir genetis mereka, melainkan produk gagal dari peradaban sekuler-kapitalistik. Momentum resistensi yang muncul hari ini harus diarahkan ke jalan yang benar. Sudah saatnya menyadarkan pemuda untuk melepaskan diri dari belenggu ideologi rusak tersebut, lalu beralih mengemban prinsip-prinsip ideologi (mabda') Islam.

Gen Z harus dibina agar peduli terhadap kondisi umat dan aktif menjadi agen perubahan ideologis. Dengan mengembalikan peran pemuda sebagai pembela kebenaran dan pilar peradaban Islam, masa depan emas yang mandiri, sejahtera, dan tenang lahir batin bukan lagi sebatas angan-angan kosong atau jargon politik, melainkan sebuah keniscayaan sejarah yang akan segera terwujud secara nyata.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar