KEBABLASAN, ANAK MUDA JADIKAN AI RUJUKAN PENGGANTI ULAMA


Oleh: Nurhy Niha
Penulis Lepas

Fenomena "Ustazah Hazar" yang sempat viral di media sosial dengan ratusan ribu pengikut sukses menyedot perhatian anak muda. Kecepatan interaksi yang berpadu dengan kemudahan akses figur keagamaan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ini perlahan mulai menggeser posisi ulama di kehidupan nyata. Respons AI yang dirasa lebih santai, tanpa penghakiman, dan serbainstan dinilai cukup mewakili kebutuhan psikologis anak muda zaman sekarang. Padahal, bersandar penuh pada mesin untuk urusan spiritual yang fundamental adalah langkah yang sangat ceroboh.

Dahulu, ketika seseorang mempunyai keraguan atau masalah hidup yang pelik, langkah kaki mereka otomatis akan tertuju ke rumah guru mengaji, pondok pesantren, atau mengambil air wudu lalu duduk di majelis ilmu untuk mendengarkan petuah religius yang menyejukkan hati. Namun, era digital menggeser kebiasaan mulia tersebut menjadi sesuatu yang mencengangkan: anak-anak muda kini cukup membuka ponsel pintar, mengetik kegelisahan mereka pada ruang obrolan AI, lalu menelan mentah-mentah jawaban di layar sebagai sebuah fatwa mutlak.

Dilansir dari Republika (2/7/2026), pakar AI dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ayu Purwarianti, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kecerdasan buatan sebagai rujukan atau acuan utama karena keluaran (output) yang dihasilkan masih berpeluang salah. Hal ini disebabkan oleh cara kerja AI Large Language Model (LLM) yang menggunakan sistem next token prediction, yaitu sekadar menebak rangkaian kata berdasarkan nilai probabilitas tertinggi tanpa benar-benar memahami maknanya. Mirip dengan burung beo (stochastic parrot), ia hanya membeo tanpa adanya kesadaran. Di masa depan, hasil karya AI (baik berupa teks, gambar, hingga video) diprediksi akan semakin sulit dibedakan dengan karya manusia secara kasat mata, sehingga kita dituntut untuk selalu bersikap kritis dan bertanggung jawab penuh atas kebenaran informasi yang diperoleh.


Alat Bantu Teknis, Bukan Penentu Hukum

Melihat fenomena yang dengan cepat merasuk ke benak generasi muda ini, Kementerian Agama (Kemenag) langsung memberikan respons tegas. Kemenag memosisikan AI murni hanya sebagai alat bantu teknis untuk merangkum referensi, bukan sebagai rujukan utama, apalagi sampai menggantikan posisi para ulama.

Ilmu keislaman tidak sekadar berbicara soal barisan teks mentah, melainkan melibatkan kompleksitas metodologi, pemahaman konteks sosial, dan kedalaman hikmah spiritual yang mustahil disentuh oleh teknologi. Setiap jawaban dari mesin wajib melalui proses verifikasi yang ketat, dan otoritas penetapan hukum atau fatwa keagamaan harus tetap dikembalikan kepada para ulama serta lembaga keagamaan yang sah.


Bahaya Tersembunyi di Balik Algoritma

Ada bahaya laten yang tersembunyi ketika kita terlalu silau oleh kecepatan dan kecanggihan AI. Terdapat kekosongan emosional saat kita menaruh kepercayaan spiritual pada sekumpulan kode digital. AI pada hakikatnya hanyalah mesin peramu data yang menyisir ruang internet, tempat di mana hoaks, bias, dan kebenaran bercampur aduk tanpa adanya saringan moral. Sungguh ironis ketika sebuah platform yang untuk urusan informasi berita harian saja belum bisa dipercaya sepenuhnya, justru dipuja sebagai sumber hukum agama.

Mesin-mesin ini bekerja di bawah kendali algoritma korporasi atau regulasi negara penciptanya. Akibatnya, jawaban keagamaan yang keluar sangat rawan disortir dan disetir demi melayani kepentingan kebijakan publik si pemilik sistem, bukan atas dasar kemurnian syariat. Pada akhirnya, produk buatan manusia ini berpotensi merenggut ruang-ruang humanis kita; membuat anak muda makin asosial, terkurung dalam ego privat, dan terjebak dalam kebebasan semu yang kebablasan hingga melupakan hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.


Metodologi Pengambilan Hukum dan Urgensi Ulama

Islam memiliki pijakan yang sangat terang benderang mengenai metodologi pengambilan hukum (istinbath al-ahkam). Hukum dan fatwa di dalam Islam tidak bisa lahir dari ruang hampa, melainkan bersumber dari Al-Qur'an, as-Sunah, Ijmak, dan Qiyas yang diperoleh melalui jalur ijtihad yang amat ketat. Oleh karena itu, aktivitas merujuk urusan agama dan meminta fatwa hukum haruslah diserahkan kepada para ulama yang nyata, yakni mereka yang berakal sehat, memiliki kedalaman ilmu, serta faqih fiddin (paham mendalam tentang ilmu agama).

Seorang ulama memberikan hukum atau fatwa tidak hanya bermodalkan teks, tetapi juga bersandar pada pemahaman dalil syar'i, realitas sosial umat (waqi'), serta didasari oleh rasa takut yang mendalam (khasyah) hanya kepada Allah ﷻ semata. Rasa takut inilah yang menjaga integritas suatu fatwa. Sebaliknya, sebuah program komputer tidak memiliki hati nurani, tidak mengenal batasan dosa, dan tidak dituntut pertanggungjawaban moral di pengadilan akhirat kelak.

Sangat mustahil sebuah platform digital yang tidak berakal dan tidak memiliki kesadaran spiritual bisa mengambil alih posisi ulama dalam berfatwa. Allah ﷻ telah memberikan panduan tegas di dalam Al-Qur'an:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"...Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43).

Ayat ini secara eksplisit merujuk pada frasa "orang" (ahlul dzikr), yakni manusia yang memiliki kapasitas keilmuan, bukan pada benda mati atau sistem kecerdasan buatan. Belajar agama memerlukan sanad (silsilah keilmuan yang bersambung) dan talaqqi (tatap muka langsung) agar terjadi transfer adab, akhlak, dan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.


Kesimpulan

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Dalam pandangan Islam, hubungan antarmanusia, hidup berjamaah, dan bermuamalah secara langsung adalah pilar penting dalam menjaga tatanan masyarakat yang sehat. Menimba ilmu agama langsung dari para ulama tidak hanya menggugurkan kewajiban belajar, tetapi juga memberikan keberkahan, memperkuat jalinan silaturahmi, dan menghidupkan empati sosial. Jangan sampai, demi kepraktisan yang semu, kita menggadaikan akal sehat dan bimbingan spiritual kita kepada mesin yang bahkan tidak tahu apa arti dari kata iman.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar