KOSONGNYA JIWA DALAM RAGA TAK BERAKIDAH


Oleh: Zahra Najma
Penulis Lepas

Seorang mahasiswa Universitas Brawijaya diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus pada Kamis (10/09/2026) pagi. Menurut hasil penyelidikan awal, motif di balik aksi nekat tersebut diduga dipicu oleh permasalahan asmara antara korban dan kekasihnya (Kompas, 10/9/2026).

Kasus serupa terjadi di Jakarta Pusat. Sesosok jenazah pria ditemukan pada Minggu (06/09/2026) dini hari. Korban diduga kuat mengakhiri hidupnya sendiri, mengacu pada ditemukannya botol berisi cairan mencurigakan di lokasi kejadian serta unggahan pesan perpisahan di media sosial korban (Kompas, 10/9/2026). Kasus ini menambah panjang deretan krisis kesehatan mental di tengah masyarakat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa setiap tahunnya terdapat sekitar 727.000 orang di seluruh dunia yang mengakhiri hidup mereka, belum termasuk angka percobaan bunuh diri yang tidak dilaporkan. Fenomena ini menjadi penyebab kematian terbesar ketiga pada kelompok usia 15–29 tahun secara global (WHO, 20/8/2026). Data ini mengindikasikan bahwa krisis kesehatan mental paling rentan dan masif mengancam kelompok pemuda.


Krisis Tujuan Hidup Generasi Muda

Hidup tidak pernah berjalan mulus. Ada suka, ada duka; ada dinamika pertemuan, pasti ada perpisahan. Semua itu merupakan sunatullah yang pasti dialami oleh setiap manusia. Perbedaannya terletak pada cara masing-masing individu dalam merespons tekanan tersebut: apakah memilih berjuang melewatinya atau menyerah di tengah jalan.

Generasi muda hari ini tampaknya kehilangan tujuan hidup yang kokoh sebagai penopang saat menghadapi tekanan. Mereka kehilangan sandaran akidah yang seharusnya menjadi kompas pemecahan setiap masalah. Tanpa iman sebagai benteng, tekanan hidup terasa bagai rintangan tajam yang tak mungkin dilalui, hingga akhirnya menyerah pada kehidupan dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar.

Sistem kapitalisme berpasangan dengan pendidikan sekuler telah sukses melahirkan masyarakat yang individualistis. Dalam ekosistem ini, masyarakat tidak lagi memiliki ikatan emosional yang kuat karena difokuskan hanya untuk mengejar pencapaian dan materi pribadi. Padahal, manusia secara fitrah adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.


Islam Membangun Jiwa dan Masyarakat yang Kokoh

Sangat berbeda dengan sekularisme, Islam membangun akidah sebagai sandaran dan iman sebagai benteng jiwa sejak dini. Keimanan terhadap qada dan qadar (bahwa takdir yang baik maupun yang buruk datangnya dari Allah ï·»)merupakan fondasi yang kokoh untuk menegakkan hati yang sedang rapuh.

Islam juga mengikat hubungan keluarga dan masyarakat secara erat berdasarkan akidah agar tidak ada satu pun individu yang merasa berjuang sendirian. Islam mewajibkan setiap muslim untuk menjalin silaturahmi serta menjaga ikatan persaudaraan (ukhuwah islamiyah) di atas landasan keimanan.


Kesimpulan

Oleh karena itu, negara memiliki kewajiban mutlak untuk menerapkan sistem Islam secara kaffah (menyeluruh). Mulai dari penataan sistem pendidikan berbasis akidah untuk melindungi jiwa, hingga penyediaan sistem sosial berkeadilan yang merangkul seluruh lapisan masyarakat.

Melalui penerapan syariat secara paripurna dalam institusi negara, akan lahir masyarakat yang kokoh, saling menguatkan, dan memiliki jiwa yang dipenuhi keimanan dalam setiap raga manusia yang hidup di dalamnya.

Barakallahu fiikum.

Posting Komentar

0 Komentar