
Oleh: Mayda
Muslimah Peduli Generasi
Belakangan ini, beranda media sosial dan portal berita makin sering dipenuhi kabar duka tentang percobaan maupun tindakan bunuh diri dengan beragam latar belakang motif. Percobaan bunuh diri baru-baru ini dilakukan oleh seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) yang melompat dari lantai 6 gedung kampus. Beruntung, korban selamat dan kini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit (Kompas, 10/9/2026).
Tragedi lain dialami oleh FS (30) yang mengakhiri hidupnya dan meninggalkan jejak unggahan di media sosial tentang rasa kesepian mendalam serta beban persoalan yang tak terselesaikan. Jasad FS ditemukan di sekitar Plaza Utara, Pintu 10 Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat (Kompas, 10/9/2026). Dalam cuitan terakhirnya, ia menyampaikan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada teman-temannya. FS juga mengunggah bukti transaksi senilai Rp40 juta yang didonasikan kepada komunitas kesehatan mental serta rumah singgah hewan liar agar mereka mendapat makanan dan kehidupan yang layak (Kompas, 9/9/2026).
Data layanan konseling Kementerian Kesehatan RI turut mengonfirmasi bahwa kelompok usia 21–30 tahun mendominasi indikasi keinginan bunuh diri. Pengakses layanan Healing 119.id tercatat didominasi oleh perempuan hingga 70 persen, meskipun kasus kematian akibat bunuh diri secara faktual lebih banyak terjadi pada laki-laki (CNA, 11/9/2026). Deretan data ini menyingkap realitas pahit di lapangan bahwa krisis kesehatan mental tengah menghantam generasi muda secara masif.
Pudarnya Akidah dalam Bingkai Sekularisme
Fenomena "kesepian di tengah keramaian" seolah menjadi tren yang meluas seiring pesatnya perkembangan media sosial dan variasi konten algoritma. Sisi kehidupan ideal yang dicitrakan para pembuat konten tidak dipungkiri membuat penonton larut dan mengekor pada pola pikir, gaya hidup, hingga standar kebahagiaan semu. Di sisi lain, sistem pendidikan yang semestinya menjadi benteng utama pembentukan akidah justru tersusupi oleh paradigma sekuler yang memisahkan nilai-nilai agama dari ilmu pengetahuan.
Dalam sistem sekuler, nilai-nilai keagamaan dipinggirkan dari proses pembentukan kepribadian. Akibatnya, asas akidah mengendur dan keimanan generasi perlahan mengikis saat dihadapkan pada himpitan kehidupan, hingga berujung pada keputusasaan.
Kondisi saat ini memaksa setiap individu untuk berjuang sendirian di tengah absennya peran negara dalam menciptakan lingkungan sosial yang kondusif. Kepedulian antarsesama memudar dan ikatan kemasyarakatan kian rapuh. Akibatnya, lahir perasaan terasing, kesepian, dan beban hidup mandiri yang dialami oleh berbagai lapisan usia, beragam latar belakang, bahkan oleh individu yang berkecukupan secara materi.
Masyarakat yang individualistis ini lahir dari rahim kapitalisme, sistem yang mengadopsi narasi positivity yang awalnya digaungkan oleh tokoh-tokoh self-help Barat (seperti Norman Vincent Peale dan Napoleon Hill) lalu dilegitimasi oleh psikologi positif (Martin Seligman). Dalam perkembangannya, budaya ini dimanfaatkan oleh korporasi modern dan media sosial sebagai alat pemacu produktivitas individu, hingga bergeser menjadi toxic positivity. Budaya ini menuntut individu untuk selalu terlihat tangguh, fokus mengejar kesuksesan finansial secara personal, dan mengabaikan kepekaan sosial.
Ketika negara mengadopsi sekularisme-kapitalisme dalam tata kelolanya, masyarakat akan tercetak menjadi rapuh dan individualistis melalui pendidikan sekuler serta orientasi ekonomi kapitalistik. Agama dipisahkan dari ilmu pengetahuan, tata politik, sistem hukum, hingga tatanan ekonomi sosial.
Penjagaan Akidah dalam Sistem Islam
Islam dibangun di atas fondasi akidah, keyakinan dasar yang menjadi pemandu seluruh dimensi kehidupan seorang Muslim. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa akidah Islam adalah pembenaran yang bersifat pasti (tasdiqul jazim) terhadap iman kepada Allah ﷻ, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta qadha dan qadar, tanpa menyisakan sedikit pun keraguan.
Akidah Islam bukan sekadar keyakinan pasif, melainkan sebuah pemikiran menyeluruh (fikrah) mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan. Akidah memberikan jawaban tuntas atas tiga pertanyaan mendasar manusia yang dikenal sebagai al-'uqdah al-kubra (simpul agung):
- Dari mana manusia, alam semesta, dan kehidupan ini berasal?
- Untuk apa manusia hidup di dunia?
- Ke mana manusia akan melangkah setelah kematian?
Islam menegaskan bahwa seluruh kehidupan berasal dari Allah ﷻ, keberadaan di dunia adalah untuk diuji dengan syariat-Nya, dan kehidupan setelah kematian adalah pertanggungjawaban amal di akhirat. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan [76]: 2).
Larangan tegas terhadap perbuatan bunuh diri telah disampaikan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa [4]: 29).
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
“Barang siapa menjatuhkan dirinya dari gunung hingga membunuh jiwanya, maka dia akan jatuh ke neraka Jahannam, kekal abadi di dalamnya selama-lamanya. Barang siapa minum racun hingga membunuh jiwanya, maka racunnya akan berada di tangannya dan ia meminumnya di neraka Jahannam, kekal abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barang siapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan berada di tangannya dan ia akan menghujamkannya ke perutnya di neraka Jahannam, kekal abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109).
Akidah merupakan benteng terkuat bagi seorang Muslim dari rasa putus asa saat menghadapi ujian hidup. Akidah yang kokoh dan terintegrasi membutuhkan dukungan sistem kehidupannya, di mana ikatan persaudaraan dan kepedulian sosial antara keluarga, masyarakat, dan negara terjalin erat. Tidak boleh ada satu pun individu yang dibiarkan menanggung beban hidup sendirian tanpa jaminan sosial. Melalui penerapan sistem pendidikan berbasis akidah serta sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan, negara menghadirkan ruang hidup yang aman dan bermakna bagi generasi muda.
Penutup
Penerapan Islam secara kaffah merupakan solusi fundamental untuk mengakhiri krisis mental dan rapuhnya generasi akibat pengaruh sekularisme. Negara yang mengemban kepemimpinan Islam akan menanamkan akidah sebagai landasan berpikir dan bertindak, baik pada level individu, masyarakat, maupun kebijakan publik. Dari fondasi inilah akan lahir individu yang tangguh, masyarakat yang saling peduli, serta generasi muda yang memiliki arah dan tujuan hidup yang jelas.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar