FENOMENA DOWNGRADE: POSITIF ATAU NEGATIF?


Oleh: Shafura Zulaikha
Penulis Lepas

Keadaan ekonomi nasional yang semakin memprihatinkan memaksa masyarakat kelas menengah menerapkan skema downgrade (penurunan taraf hidup). Alih-alih jatuh miskin, mereka memilih bertahan hidup dengan keadaan seadanya. Di antara kasusnya, sebagian warga memilih mengganti mobil dengan sepeda motor hingga meminimalkan porsi hiburan dan memilih berdiam diri di rumah.

Direktur Next Policy, Yusuf Wibisono, menanggapi fenomena downgrading yang tengah marak diperbincangkan di tengah gejolak ekonomi. Ia menilai fenomena tersebut menunjukkan masyarakat (terutama kelompok kelas menengah) mulai lebih mengunggulkan fungsi ketimbang gengsi (Republika, 10/10/2026).

Meskipun sekilas tampak positif karena menekan perilaku konsumtif, kondisi ini membawa dampak buruk pada berbagai sektor ekonomi. Penurunan taraf hidup secara massal memicu erosi daya beli, penurunan proporsi kelas menengah, serta melonjaknya populasi masyarakat kelas bawah.


Akar Masalah: Cengkeraman Kapitalisme Sekuler

Fenomena downgrade tidak dapat dilepaskan dari tatanan ekonomi yang berlaku saat ini, yakni sistem sekuler-kapitalistis.

Sistem ini melahirkan kebijakan yang merugikan rakyat demi menguntungkan pemilik modal. Di antaranya melalui ekspansi pemajakan, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), efisiensi anggaran publik, serta kenaikan harga barang kebutuhan pokok di pasaran.

Pemerintah yang mengadopsi paradigma kapitalisme tidak menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama. Asas rasio untung-rugi dan pengerukan materiil mendominasi tata kelola negara.

Sayangnya, realitas ini kurang disadari oleh masyarakat. Publik cenderung menganggap krisis berulang sebagai kesalahan oknum pejabat pemerintahan belaka, padahal pemicu utamanya adalah penerapan sistem ekonomi sekuler yang cacat secara mendasar.


Solusi Paripurna Sistem Ekonomi Islam

Sebagai insan yang dibekali akal, umat Islam diwajibkan mencari solusi sahih yang sanggup menuntaskan krisis hingga ke akar masalahnya.

Allah ï·» telah menurunkan sistem Islam yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sistem Islam menetapkan kebijakan yang menjamin kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Penguasa dalam Islam bertindak sebagai pengurus (ra'in) yang memposisikan kebutuhan rakyat sebagai amanah yang wajib dipenuhi.

Islam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar publik secara langsung maupun tidak langsung:
  • Jaminan Kebutuhan Pokok Individual: Membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi para pencari nafkah dan membebaskan pemajakan bagi rakyat umum.
  • Jaminan Pelayanan Publik: Menjamin penyediaan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara gratis serta berkualitas.


Kesimpulan

Fenomena downgrade merupakan potret nyata dari melemahnya ketahanan ekonomi rakyat di bawah tatanan sekuler-kapitalistis. Mengubah pola konsumsi pribadi tidak akan menyelesaikan krisis jika sistem ekonomi yang memeras rakyat tetap dipertahankan.

Kesejahteraan hakiki dan keadilan ekonomi hanya dapat terwujud melalui penerapan sistem ekonomi Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam naungan Khilafah.

Hanya dengan aturan yang bersumber dari Allah ï·», kebahagiaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat dapat diraih secara utuh.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar