
Oleh: Tety Kurniawati
Aktivis Dakwah dan Penggiat Literasi
Lebih dari 20 peneliti dan pakar kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terkemuka memperingatkan potensi terjadinya "ledakan kecerdasan" (intelligence explosion) ketika AI mulai mampu melakukan riset mandiri untuk menciptakan AI generasi baru. Dalam skenario tersebut, kemajuan yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun dapat terkompresi menjadi hitungan bulan. Di satu sisi fenomena ini membuka peluang manfaat besar, namun di sisi lain menyimpan risiko ekstrem (Kompas, 1/10/2026).
Di balik kemajuan pesat AI di bidang medis dan teknologi yang tampak menjanjikan, tersimpan ancaman serius yang jarang disadari. Ketika kecerdasan buatan terus mengembangkan dirinya tanpa batas, ia berpotensi melampaui kendali manusia hingga berbalik mengancam eksistensi peradaban.
Risiko tersebut mencakup tiga ancaman utama:
- Ancaman Biologis dan Siber: AI canggih berpotensi digunakan untuk merancang patogen mematikan sebagai senjata biologis atau melancarkan serangan siber otomatis yang mampu melumpuhkan infrastruktur vital (seperti jaringan listrik dan keuangan) dalam hitungan detik.
- Hilangnya Kendali Manusia: Dipicu masalah penyelarasan (alignment problem), ketika tujuan AI yang jauh lebih cerdas tidak lagi sejalan dengan nilai kemanusiaan, sementara ketergantungan mutlak membuat manusia kehilangan otoritas untuk mematikan sistem.
- Perlombaan Senjata dan Perang Otonom: Pengembangan senjata otonom mematikan yang dapat mengeksekusi tanpa intervensi moral manusia, serta eskalasi konflik antarnegara dalam kecepatan milidetik yang meningkatkan risiko perang global.
Jebakan Kapitalisme di Balik Kecanggihan AI
Perkembangan teknologi AI sejatinya menghadirkan dua wajah sekaligus: kemudahan di satu sisi dan bahaya di sisi lain. Kondisi ini tidak lepas dari logika kapitalisme yang melahirkannya. Dalam sistem ini, teknologi tidak pernah bersifat netral. Ia dilahirkan dari kepentingan modal untuk mengejar laba korporasi, bukan untuk memuliakan manusia sebagai hamba Allah ï·».
AI dibungkus dengan janji manis berupa penyelesaian pekerjaan yang lebih cepat, diagnosis yang lebih tepat, dan kehidupan yang lebih praktis, sehingga manusia menjadi bergantung padanya. Namun saat pengembangannya dibiarkan mengikuti logika pasar bebas tanpa dikendalikan oleh akidah, bahaya yang ditimbulkan menjadi tak terelakkan.
Inilah yang menjadikan AI sebagai jebakan, karena standar kapitalisme bukanlah halal-haram, melainkan untung-rugi. Dengan tolak ukur materiil tersebut, celah untuk kejahatan selalu terbuka lebih lebar dan menggiurkan. Data pribadi diperdagangkan, algoritma dimanfaatkan untuk menggiring opini publik, nirawak (drone) otonom dirancang untuk membunuh, hingga senjata biologis dikembangkan dengan bantuan AI. Teknologi yang awalnya diklaim untuk menolong manusia pada kenyataannya dialihfungsikan menjadi alat yang merusak.
Melalui paham sekularisme, kapitalisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga laju teknologi tidak lagi dituntun oleh tujuan hakiki dan batasan syari. Ketika akidah Islam yang seharusnya memposisikan teknologi sebagai sarana penghambaan kepada Allah ï·» diabaikan, AI dibiarkan melesat liar menuruti syahwat pemilik modal.
Konsep Hadharah dan Madaniyah: Pemanfaatan Teknologi dalam Islam
Akal merupakan karunia tertinggi yang Allah ï·» berikan kepada manusia. Keberadaannya tidak sekadar untuk menghitung dan menciptakan mesin, melainkan untuk mentadaburi tanda-tanda kekuasaan-Nya dan menjalankan peran sebagai khalifah fil ardhi (pengelola bumi).
Untuk menjaga kemurnian peran tersebut, Islam memberikan batasan yang sangat jelas dalam menilai seluruh produk pemikiran manusia melalui konsep hadharah dan madaniyah:
- Hadharah: Produk pemikiran yang melekat pada akidah atau ideologi tertentu (seperti kapitalisme, liberalisme, dan sosialisme) sehingga haram untuk diambil.
- Madaniyah: Benda, sains, atau teknologi yang bersifat murni dan universal, sehingga hukum asalnya boleh dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan syariat.
Kedudukan AI harus didudukkan secara jernih. Dari sisi wujud fisiknya, AI adalah madaniyah, buah dari kemajuan sains buatan manusia. Namun cara kerja, data masukan (input), hingga keputusan yang dihasilkannya sangat dipengaruhi oleh hadharah. Nilai-nilai sekuler dan kapitalistik yang menjadi basis informasi dan algoritmanya membuat AI tidak bisa dianggap netral sepenuhnya.
Oleh karena itu, baik dan buruknya dampak AI ditentukan oleh ideologi yang mengendalikannya. Ketika berada di tangan manusia yang berakidah lurus dan tunduk pada syariat, AI akan diarahkan untuk kemaslahatan publik, seperti riset kesehatan, kemudahan pendidikan, hingga penguatan dakwah. Sebaliknya, di tangan tatanan kapitalistik yang mempertuhankan materi, AI berbalik menjadi instrumen kerusakan.
Kesimpulan
Keselamatan manusia dari ancaman disrupsi teknologi tidak cukup hanya dengan merumuskan regulasi teknis atas produk AI semata, melainkan harus dengan merombak sistem kehidupan yang melahirkannya. Selama sistem sekuler-kapitalisme berkuasa, AI akan tetap menjadi ancaman eksistensial bagi kemanusiaan.
Keamanan dan keberkahan pemanfaatan teknologi hanya akan terwujud ketika seluruh tatanan kehidupan dikembalikan pada pengaturan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) di bawah naungan Khilafah.
Hanya dalam institusi Khilafah, pengembangan teknologi akan tunduk pada bimbingan wahyu dan benar-benar terarah menjadi rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Komentar