
Oleh: Diaz
Jurnalis Lepas
Jurnalis senior Joko Prasetyo atau yang akrab disapa Om Joy membagikan pandangannya mengenai dasar-dasar penulisan opini dakwah yang dinilai tidak cukup hanya berisi pendapat yang disertai dalil, tetapi harus mampu mengurai persoalan, menguji pemikiran, serta menghadirkan sikap Islam terhadap berbagai isu kehidupan.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya (11/10/2026), Om Joy menjelaskan bahwa opini dakwah memiliki karakter berbeda dengan tulisan opini pada umumnya. Menurutnya, tulisan dakwah harus memiliki landasan pemikiran yang kuat, argumentasi yang tajam, serta tetap berpegang pada fakta.
"Opini dakwah bukan sekadar pendapat tentang suatu persoalan yang diberi dalil. Tulisan harus mampu membongkar persoalan, menguji pemikiran di baliknya, dan menunjukkan sikap Islam terhadapnya," tulis Om Joy dalam unggahannya.
Ia menyebut terdapat lima fondasi utama yang perlu diperhatikan dalam menyusun opini dakwah, yaitu karakter tulisan, alur argumentasi, pilihan bahasa, ketegasan ideologis, serta amanah terhadap bahan tulisan.
Dalam aspek karakter tulisan, Om Joy menjelaskan bahwa opini dakwah harus menjadikan Islam sebagai landasan dalam menilai berbagai persoalan kehidupan, termasuk bidang ibadah, politik, ekonomi, hukum, sosial, hingga peradaban.
Menurutnya, tulisan dakwah tidak cukup hanya membahas gejala suatu masalah, tetapi perlu menggali akar persoalan, mengidentifikasi asumsi yang keliru, serta melihat ideologi yang melatarbelakanginya.
"Ketajaman itu harus tetap proporsional dan faktual. Kritik ditujukan pada hal yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan pada fakta rekaan atau serangan pribadi," ujarnya.
Selain karakter tulisan, Om Joy menekankan pentingnya membangun alur argumentasi yang logis. Ia menjelaskan bahwa opini yang baik perlu memiliki pembuka yang menarik, pembongkaran masalah, benturan ideologis, argumentasi yang didukung fakta dan dalil, serta penutup yang memperkuat kesimpulan.
Ia mengatakan bahwa susunan tulisan tidak harus selalu mengikuti pola yang sama, tetapi setiap bagian harus memiliki hubungan yang jelas agar gagasan dapat diterima pembaca secara utuh.
Pada aspek bahasa, Om Joy mengingatkan agar penulis menggunakan bahasa Indonesia yang alami, lugas, konkret, dan mudah dipahami masyarakat luas. Menurutnya, penggunaan retorika, analogi, maupun contoh harus bertujuan memperjelas gagasan, bukan menutupi kelemahan argumentasi.
"Retorika, analogi, dan contoh digunakan untuk memperkuat penjelasan, bukan menutupi kelemahan argumen," tulisnya.
Om Joy juga menyoroti pentingnya ketegasan ideologis dalam opini dakwah. Ia menilai kritik terhadap suatu persoalan tidak seharusnya berhenti pada kesalahan individu, tetapi juga perlu melihat faktor sistem yang menyebabkan persoalan tersebut terjadi.
Ia memberikan contoh bahwa persoalan korupsi tidak hanya berkaitan dengan moral individu, tetapi juga perlu dikaji dari sisi aturan dan sistem yang memungkinkan praktik tersebut terjadi. Begitu pula persoalan kemiskinan yang menurutnya tidak cukup hanya dilihat dari perilaku individu, tetapi juga harus mempertimbangkan pengelolaan sumber daya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa penggunaan dalil dalam tulisan dakwah harus dilakukan secara tepat dan tidak dipaksakan.
"Islam harus hadir dalam argumentasi dan solusi, bukan sekadar menjadi kutipan di akhir tulisan," tegasnya.
Fondasi terakhir yang ditekankan Om Joy adalah amanah terhadap bahan tulisan. Ia meminta penulis agar mampu membedakan fakta, opini, dan interpretasi, serta tidak memelintir pernyataan atau mengabaikan konteks suatu informasi.
Menurutnya, ketajaman kritik tidak dapat menjadi alasan untuk mengabaikan akurasi informasi. Setiap sumber, berita, kutipan, maupun dokumen yang digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan.
"Tujuannya bukan sekadar menghasilkan tulisan yang terdengar keras, melainkan tulisan yang kuat secara fakta, tajam secara argumentasi, tegas secara ideologis, dan menghunjam pada kesimpulan," tulis Om Joy dalam penutup unggahannya.
Pandangan tersebut menjadi penekanan bahwa penulisan opini dakwah membutuhkan perpaduan antara kemampuan jurnalistik, ketajaman analisis, pemahaman ideologi, serta tanggung jawab terhadap kebenaran informasi.

0 Komentar