THUFAN AL-AQSHA: DUKA YANG MENJADI PINTU KEBANGKITAN


Oleh: Irma Suryani, S.T.
Penulis Lepas

Seperti badai dahsyat di zaman Nabi Nuh a.s. yang menyapu segala kerusakan, begitulah Thufan Al-Aqsha menggulung di tanah Gaza, bukan untuk menenggelamkan, melainkan membongkar kerapuhan yang lama tersembunyi di balik tembok kepura-puraan internasional.

Setiap tetes darah syuhada yang jatuh bukanlah tanda kelemahan, melainkan benih kehidupan baru yang ditanam di tanah suci. Duka yang mendalam ini hendaknya menjadi mata air kebangkitan yang membasuh kesadaran umat, bahwa kemuliaan tidak dijemput dengan air mata, melainkan dengan persatuan dan ketundukan total pada syariat Allah ï·».


Tiga Tahun Thufan Al-Aqsha dan Kejahatan Genosida

Tiga tahun telah berlalu sejak gelombang perlawanan Thufan Al-Aqsha meletus pada Oktober 2023. Badai ini lahir dari keimanan mendalam bahwa Kompleks Al-Aqsa (kiblat pertama dan tanah yang diberkahi) tidak boleh selamanya berada di bawah pendudukan zionis yang zalim.

Namun, balasan yang dilancarkan entitas penjajah sungguh di luar batas kemanusiaan. Dalam kurun tujuh bulan pertama saja, lebih dari 70.000 ton bom dijatuhkan di Jalur Gaza, melebihi akumulasi bom di kota-kota besar Eropa selama Perang Dunia II (CNN Indonesia, 13/06/2024). Hingga kini, hampir seluruh wilayah Gaza hancur menjadi lautan puing.

Kementerian Pendidikan Palestina mencatat data memilukan: sedikitnya 20.748 pelajar dan 1.058 tenaga pendidik gugur selama tiga tahun konflik. Di Tepi Barat, penindasan berlanjut dengan 1.210 warga tewas dan lebih dari 24.600 orang ditahan secara sewenang-wenang (Metro TV, 07/10/2026). Total korban jiwa di seluruh tanah Palestina mencapai 74.237 orang, dengan 175.206 warga luka-luka (Gaza Media, 06/10/2026; Liputan 6, 09/10/2026).


Lemahnya Umat dan Ilusi Solusi Kompromis

Di tengah pembantaian sistemis ini, keprihatinan terbesar terletak pada sikap abai para penguasa di negeri-negeri muslim. Lebih dari 50 pemimpin negara berpenduduk mayoritas muslim seolah tak berdaya. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) berulang kali digelar dan resolusi ditulis, namun tidak ada langkah konkret pengiriman pasukan militer untuk melindungi warga Palestina.

Di sisi lain, publik terus disodorkan pada ilusi Solusi Dua Negara (Two-State Solution), bantuan kemanusiaan parsial, dan retorika diplomasi PBB yang terbukti gagal menghentikan penjajahan. Mengharapkan keadilan dari lembaga internasional yang dikuasai penyokong pendudukan merupakan tindakan sia-sia. Masalah Palestina bukan sekadar krisis kemanusiaan yang cukup diselesaikan dengan bantuan logistik, melainkan masalah perampasan tanah suci dan penjajahan kolonial.

Penyebab utama kelumpuhan ini adalah sekat nasionalisme (nation-state) hasil rancangan Sykes-Picot yang memecah belah kekuatan politik umat Islam. Umat kehilangan perisai pelindung tunggalnya, sebagaimana sabda Rasulullah ï·º:

Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الْØ¥ِÙ…َامُ جُÙ†َّØ©ٌ ÙŠُÙ‚َاتَÙ„ُ Ù…ِÙ†ْ ÙˆَرَائِÙ‡ِ ÙˆَÙŠُتَّÙ‚َÙ‰ بِÙ‡ِ
“Sesungguhnya seorang imam (Khalifah) itu adalah perisai, di mana kaum muslim akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Muslim no. 1841)

Sejarah mencatat bahwa Al-Quds hanya dapat dibebaskan melalui kepemimpinan Islam yang menyatukan komando tentara muslim, sebagaimana yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab r.a. dan Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi melalui jihad fi sabilillah.

Mantan Menteri Luar Negeri Inggris, Lord Curzon, secara terbuka pernah menyatakan strategi penyekatan ini:

“Kita telah mengakhiri segala hal yang menyatukan kaum muslimin, karena kita telah menghancurkan kekuatan moral mereka, yaitu Khilafah dan Islam.”


Persatuan Umat di Bawah Khilafah sebagai Kunci Pembebasan

Pembebasan Palestina tidak akan terwujud hanya melalui ratapan atau penggalangan dana darurat semata. Langkah mendasar harus dimulai dengan menghapuskan sekat geopolitik sekuler yang memisahkan ikatan persaudaraan umat.

Langkah strategis pembebasan Palestina meliputi:
  • Penyatuan Komando Politik dan Militer: Mendorong lahirnya kepemimpinan Khilafah yang mengintegrasikan seluruh potensi militer dan sumber daya alam negeri-negeri muslim di bawah satu komando syar'i.
  • Penghentian Ketergantungan Diplomasi Barat: Menghentikan penyandaran harapan pada lembaga PBB dan menggalang kekuatan mandiri berbasis akidah Islam.
  • Penguatan Kesadaran Ideologis: Membina ketakwaan individu, menyebarkan pemahaman politik Islam, dan memperkuat dakwah demi terwujudnya kembali tatanan kehidupan Islam.


Kesimpulan

Badai Thufan Al-Aqsha telah membongkar kepalsuan tatanan dunia sekuler dan mempertegas bahwa diplomasi kompromistis tidak akan pernah menghentikan mesin penjajahan.

Darah para syuhada di Gaza merupakan benih kebangkitan yang menuntut persatuan nyata seluruh elemen umat Islam.

Hanya melalui penegakan kembali Khilafah yang memimpin jihad fi sabilillah, Kompleks Al-Aqsa dapat dibebaskan secara mutlak dan kemuliaan peradaban Islam dapat diwujudkan kembali di muka bumi.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar