GATOT, UU CIPTA KERJA, DEMOKRASI DAN KHILAFAH


Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Saya berulangkali mengingatkan siapapun, agar berjuang hanya untuk dan demi Islam, bukan karena dukung mendukung atau mengidolakan tokoh tertentu. Siapapun tokohnya, jika masih dalam habitat Demokrasi pasti mengecewakan.

Bagi sebagian kalangan, tindakan Prabowo Subianto yang 'membelot' menjadi pendukung rezim, mungkin mengagetkan. Namun, jika ditinjau dari perspektif politik demokrasi sekuler yang pragmatis, pilihan merapat dan mendapat kompensasi kekuasaan, adalah pilihan yang realistis. Sebab, dalam demokrasi berpolitik itu untuk kekuasaan. Kekuasaan, boleh ditempuh baik dengan menjadi oposisi maupun koalisi.

Yang beroposisi juga bukan karena membela rakyat, tapi karena belum berkuasa saja. Jika kelak berkuasa, tak ada bedanya dengan partai yang berkuasa saat ini.

Hari ini, anda mungkin kaget mendengar komentar Gatot Nurmantyo yang tetiba menyebut UU Cipta Kerja memiliki tujuan yang sangat mulia. Saya tidak tahu, apakah mantan Jenderal ini sudah membaca UU Cipta Kerja kemudian menyimpulkan substansinya mulia.

Namun, kesimpulan itu diunggah melalui pengalamannya ketika masih menjadi anak buah Jokowi, saat menjadi panglima TNI. Padahal, UU Cipta Kerja ini ditentang banyak pihak dan didemo untuk kurun waktu yang lama. Darimana logikanya UU mulia diprotes rakyat ? Apakah, ada perbedaan definisi 'mulia' antara rezim dengan rakyat ? Apakan, yang dimaksud mulia itu melapangkan kolonialisme modern ?

Ada penciptaan lapangan kerja dari UU ini, diakui. Karena kolonialisme itu butuh keringat buruh, seperti Gubernur Deandles saat membangun jalan, dan mengorbankan rakyat sebagai buruh paksanya. Tapi, dalam alur produksi, distribusi dan konsumsi ekonomi, itu bukan pertumbuhan ekonomi yang jadi prioritas, tetapi siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut ?

UU Cipta Kerja memang diyakini akan menumbuhkan ekonomi, mencipta lapangan kerja. Namun, pertumbuhan dan keuntungan ekonomi itu bagian para kapitalis. Sementara rakyat, hanya kebagian kuli, buruh, dan lingkungan rusak akibat ekploitasi ugal-ugalan.

Sebelumnya, KAMI menyebut mendukung aksi buruh menolak UU Cipta Kerja meskipun tak terlibat didalamnya. Pernyataan Gatot Nurmantyo ini seolah mendelegitimasi KAMI.

Semua, tak lepas dari penangkapan sejumlah petinggi KAMI. Kuat dugaan, Gatot harus 'membayar' sejumlah harga demi kompensasi lepasnya petinggi KAMI yang ditangkap. Gatot harus bicara 'sesuai naskah dan teks' yang dipersiapkan rezim, agar ikut mendelegitimasi perjuangan dan perlawanan terhadap UU Cipta Kerja.

Lantas, balik badannya Gatot ini membuat Anda kecewa ? Saya sarankan tidak usah kecewa, cukup dijadikan muhasabah sebagaimana apa yang terjadi pada Prabowo Subianto. Dalam demokrasi sekuler, politisi pragmatis itu biasa.

Jika Anda tak ingin kecewa, tinggalkan politik demokrasi. Lepas ikatan ketokohan, ikutlah diri hanya dengan akidah Islam. Mendukung dan membela, hanya karena akidah Islam, bukan kultus atau mengidolakan tokoh atau figur tertentu.

Saya mengajak Anda untuk memperjuangkan Khilafah, perjuangan hakiki yang bertujuan hanya untuk Islam dengan visi menegakkan hukum Allah SWT. Anda tidak akan kecewa, berjuang dan berkorban untuk Islam. Anda, akan qonaah dan merasa ridlo berjuang demi Islam.

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi umat Islam sedunia, yang bertujuan menerapkan hukum Islam secara kaffah serta mengemban risalah dakwah Islam hingga ke seluruh penjuru alam.

Khilafah akan memotong tangan penjajah, baik dari barat kapitalis maupun sosialis komunis. Khilafah, akan mengembalikan harta milik umat dari penjajah kapitalis yang menjarahnya dengan dalih investasi.

Khilafah akan memakmurkan bumi, mengembalikan peradaban manusia pada kemuliaannya. Khilafah adalah Negara yang akan mewujudkan semua mimpi dan cita-cita perjuangan. [].

Posting Komentar

0 Komentar