
Oleh: Rumaisha
Pejuang Literasi
Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Momentum ini seharusnya menjadi ajang evaluasi dan penguatan arah pendidikan nasional agar mampu melahirkan generasi cerdas, beradab, dan berkepribadian mulia. Namun, realitas yang tampak justru sebaliknya. Dunia pendidikan hari ini semakin buram dan memprihatinkan.
Berbagai kasus kekerasan dan pelecehan seksual terus bermunculan, bahkan dilakukan oleh kalangan pelajar dan mahasiswa. Sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi ruang aman untuk menuntut ilmu justru kerap menjadi tempat terjadinya pelanggaran moral dan kemanusiaan. Hal ini menunjukkan adanya krisis serius dalam pembinaan karakter generasi muda.
Seperti kejadian yang menimpa seorang siswa SMA Negeri 5 Bandung bernama Muhammad Fahdly Arjasubrata (17), yang tewas dianiaya oleh enam tersangka di kawasan Cihampelas, Kota Bandung, Jawa Barat. Pengeroyokan terjadi pada 13 Maret 2026 saat korban pulang dari kegiatan buka puasa bersama teman sekolahnya.
Belum lagi maraknya kecurangan akademik. Praktik joki UTBK, budaya menyontek, hingga plagiat terjadi di berbagai lembaga pendidikan. Nilai dan gelar lebih dikejar daripada kejujuran dan integritas. Akibatnya, pendidikan kehilangan ruhnya sebagai sarana membentuk insan berilmu dan berakhlak.
Masalah lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah meningkatnya keterlibatan pelajar dan mahasiswa dalam penyalahgunaan narkoba, baik sebagai pengguna maupun pengedar. Di sisi lain, wibawa guru pun kian merosot. Pelajar berani menghina guru, bahkan ada guru yang dipidanakan hanya karena menegur atau mendisiplinkan muridnya. Semua ini menjadi bukti bahwa ada yang salah dalam arah pendidikan kita.
Alarm Keras bagi Semua Pihak
Peringatan Hardiknas semestinya menjadi alarm keras bagi seluruh pihak. Negara telah gagal mencetak generasi unggul yang berkepribadian kokoh. Implementasi arah dan peta jalan pendidikan tidak menghasilkan pelajar beradab, tetapi justru banyak melahirkan pribadi yang sekuler, liberal, dan pragmatis. Ukuran sukses lebih banyak ditentukan oleh materi dan prestise, bukan oleh penciptaan generasi yang saleh dan salehah.
Sistem pendidikan sekuler kapitalistik menjadikan pendidikan sekadar alat meraih pekerjaan dan kekayaan. Tidak heran jika muncul generasi yang ingin sukses secara instan, malas berproses, dan rela menghalalkan segala cara demi keuntungan. Selama hasil menjadi tujuan utama, kejujuran dan moral akan mudah dikorbankan.
Di sisi lain, lemahnya sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan pelajar juga memperparah keadaan. Banyak tindakan kriminal ditoleransi hanya karena pelaku masih di bawah umur. Ditambah minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam sistem sekuler, ruang kebebasan tanpa batas semakin lebar dan mengikis moral generasi.
Islam: Agama yang Sempurna
Islam memandang pendidikan sebagai perkara mendasar yang wajib dijamin oleh negara. Pendidikan dalam Islam dibangun di atas asas akidah, sehingga menghasilkan manusia yang cerdas sekaligus bertakwa. Ilmu tidak dipisahkan dari iman, dan kecerdasan tidak dilepaskan dari tanggung jawab moral.
Pendidikan Islam berfokus pada pembentukan syakhsiyah Islamiyah, yakni kepribadian Islam yang selaras antara pola pikir dan pola sikap. Pelajar dididik agar memahami halal-haram, menghormati guru, mencintai ilmu, jujur dalam belajar, serta menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada Allah ď·» dan kemaslahatan umat.
Sejarah Islam telah membuktikan keberhasilan sistem pendidikan dalam mencetak generasi unggul. Imam Syafi’i telah menghafal Al-Qur’an sejak kecil dan menjadi ulama besar di usia muda. Usamah bin Zaid dipercaya Rasulullah ď·ş memimpin pasukan besar saat masih belia. Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun setelah ditempa dengan akidah, ilmu, dan visi kepemimpinan Islam yang kuat.
Peradaban Islam juga melahirkan ilmuwan besar seperti Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al-Khawarizmi di bidang matematika, serta Al-Biruni di bidang astronomi. Mereka tumbuh dalam sistem yang menjadikan ilmu sebagai jalan ibadah dan kemuliaan, bukan semata alat mencari materi.
Di balik lahirnya generasi besar itu, terdapat sosok ibu yang luar biasa. Imam Syafi’i dibesarkan oleh ibunya dengan kesungguhan menanamkan cinta ilmu. Muhammad Al-Fatih tumbuh dari didikan ibu yang menanamkan cita-cita besar sejak kecil. Ini menunjukkan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak, tempat tertanamnya iman, adab, dan semangat menuntut ilmu.
Karena itu, sistem pendidikan Islam tidak hanya memperhatikan sekolah, tetapi juga keluarga dan negara secara sinergis. Negara wajib menghadirkan suasana kehidupan yang mendorong ketakwaan, menjaga moral masyarakat, serta menerapkan sanksi tegas bagi pelaku kejahatan.
Sudah saatnya Hardiknas tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi momentum muhasabah menyeluruh. Selama pendidikan masih berlandaskan sistem sekuler kapitalistik, krisis generasi akan terus berulang. Hanya dengan aturan hidup Islam yang sempurna, pendidikan mampu melahirkan generasi cerdas, beradab, dan memimpin peradaban dunia.
Wallahu a'lam bishshawwab

0 Komentar